Bel Tikus Untuk Kucing


Cerita ini berasal dari negeri kegelapan yang ditempati oleh makhluk manjijikan. Manusia mengenal makhluk yang berambut tipis dan berkulit hitam ini sebagai symbol kerakusan. Namun demikian pada efisode kali ini kita tidak akan mendapatkan ulasan kisah kerakusan mereka. Sekarang si makhluk bermoncong agak panjang sedang berada dalam ketakutan. Mereka diteror oleh keganasan musuh klasiknya yang membabi-buta menerkam satu demi satu anggota keluarga si makhluk rambut tipis.

Musyawarah besar pun tidak bisa dielakkan. Semua tikus penghuni lorong gelap berkumpul di hadapan sang ketua. Riuh rendah suara ratusan tikus terdengar seperti dengungan lebah. Ada yang menjerit menuturkan kematian keluarga, ada yang menangis tidak bisa menghilangkan trauma trauma dikejar kematian, ada yang berteriak geram karena kehilangan kaki depan. Ketua tikus dengan suara lantang mencoba menenangkan anggotanya. Dia berdiri dan mengeluarkan suara lantang

“Diam, atau kita semua akan mati!”

Semua tikus diam, bayang-bayang kematian menari-nari di pelupuk mata mereka. Musyawarah pun dimulai dan dibuka oleh ketua

Ketua              : “Tindakan kucing sudah di luar batas, kita ahrus menghentikannya!”

Tikus I             : “Bagaimana cara menghentikannya?”

Ketua                   : “Maka dari itu kita berkumpul di sekarang. Mari kita cari solusi untuk menghentikan kebrutalan kucing.”

Tikus I             : “Bagimana jika kita beri kucing daging setiap hari sebagai konpensasi nyawa kita?”

Tikus Besar     : “Daging, katamu!, untuk makan sendiri saja susah, apalagi mencari daging buat si kucing keparat”

Tikus I             : “Bagaimana jika dagingmu yang besar itu? Kan bisa buat dua kali makan si kucing”

Tikus Besar     : “Keparat kau, ku injang mukamu!”

Ketua              :”Stop!, kita di sini bukan untuk saling bunuh. Kita harus segera cari solusi atau kita benar-benar akan mati”

Tikus Kecil      :”Kalau saya boleh usul, bagaimana jika kita menggantungkan lonceng di leehr kucing. Jadi setiap kucing mendekat, kita bisa mendengarnya dan lari sebelum dia menyergap”

Ketua              :”Usul yang bagus. Siapa yang mau mencari lonceng?”

Tikus Panjang :”Aku siap!”

Tikus Botak    :”Aku juga siap!”

Ketua              :”Bagus…..bagus….. Sekarang siapa yang akan mengalungkan lonceng itu ke leher si kucing?”

Pertanyaan ketua membuat semua kucing terdiam bagaikan jangkrik kejepit batu

Ketua              :”Kenapa semuanya jadi diam?” Bagaiman kalau tikus kecil yang melakukannya, ini kan ide dia.”

Semua tikus    :”Setujuuuuuuuuuuuuuu…….”

Tikus Kecil      :”Badan saya terlalu pendek dan kecil untuk mengalungkan lonceng ke leher kucing. Sepertinya tugas ini tepat untuk tikus besar”

Tikus Besar     ;”Gila kau, aku terlalu lambat untuk berlari jika si kucing tau lehernya aku kalungi lonceng”. Ketua adalah tikus paling senior diantara kita, jadi ketua lebih layak melaksanakan tugas mulia ini.”

Ketua              :”Justru karena aku paling senior di sini, maka aku tidak layak melaksanakan tugas yang sifatnya langsung ke lapangan”. Aku di sini sebagai pengambil kebijakan (decision maker),adapun yang melaksanakan kebijakan itu kalian-kalian semua.”

Singkat kata tidak ada satu ekor tikus pun bersedia melaksanakan ide brilian tersebut. Mereka pun memilih untuk tetap dalam keadaan terteror ketimbang harus melakukan tindakan penyelamatan yang bisa membahayakan nyawa sendiri.

Saya, anda dan kita semua sering dihadapkan dengan persoalan rumit yang membutuhkan solusi sakti. Terkadang kita mengetahui dan mengamini sebuah solusi bisa menyelesaikan perkara rumit tersebut, namun hal itu terkadang tidak terjadi karena tidak ada diantara kita yang bersedia menjadi ujung tombak dari solusi tersebut. Kita memilih untuk tetap berada dalam tekanan ketimbang melaksanakan solusi yang membahayakan diri.

Tentunya hidup dalam tekanan itu bukanlah sebuah hidup yang menyenangkan. Lebih baik menjadi semut yang bebas membuat lubang sarang di mana saja ketimbang menjadi gajah yang hidup di dunia sirkus. Lebih baik kita ambil resiko demi sebuah kebebasan dari pada hidup melulu dalam tekanan. Be the Hero or Zero forever

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: