Emansipasi

 

Istilah emansipasi digunakan untuk menunjukan persamaan hak antara sesama manusia. Istilah emansipasi pertama kali dikumandangkan di Negara Paman Sam oleh Abraham Lincoln pada tanggal 22 September 1862. Dekrit Lincoln yang dikumandangkan pada masa perang saudara Amerika tersebut pada awalnya menuai kontroversi. Sebagian besar masyarakat Amerika kelas atas dan menengah menolak proklamasi emansipasi yang berarti sebagai pembebasan terhadap seluruh budak yang ada di Amerika.

Istilah emansipasi juga pernah digunakan oleh Karl Mark, sesepuh aliran Sosialis untuk menuntut persamaan hak politik bagi seluruh lapisan masyarakat. Rangkuman dari emansipasi politik Karl Mark adalah “kesamaan derajat warganegara perseorangan dalam hubungannya dengan negara, kesamaan di depan hukum, tanpa memandang agama, harta benda, atau ciri orang perorang ‘pribadi’ lainnya.”

Dewasa isi emansipasi digunakan untuk gerakan wanita yang menginginkan persamaan hak seperti pria. Di Indonesia RA Kartini dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita. Kartini menggugat pemerintah colonial Belanda yang tidak memperbolehkan wanita mendapatkan pendidikan layaknya pria.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, sudah terlebih dahulu menjunjung tinggi niali-nilai emansipasi. Hal ini bias dibuktikan dengan sebuah hadith nabi yang artinya:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS Al-Ahzab : 35)

Dalam kitab tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa sebab turunya ayat di atas adalah pertanyaan para wanita, ‘Mengapa di Al-Qur’an di sebutkan laki-laki saja sedangkan wanita tidak disebutkan?’

Surat An-Nisa merupakan bukti lain Islam menjunjung tinggi martabat wanita, an-nisa atau perempuan dijadikan nama surat sementara tidak ada satu suratpun yang bermakna laki-laki. Bahkan ada sebuah hadith yang menyatakan kesakralan seorang wanita,

اْلجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ اْلأُمَّهَاتِ

“Sorga di bawah telapak kaki ibu”

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: