Mencintai Bencana

Baru saja terjadi rentetan bencana di atas bumi Indonesia, belum kering air mata penduduk wasior yang tertimpa banjir bandang, tsunami menerjang kepulauan Mentawai Sumatra Barat yang menewaskan ratusan penduduk. Seolah tidak mau kalah dengan laut dan sungai, gunung Merapi menunjukan jati dirinya sebagai gunung paling berbahaya. Semburan wedhus gembel telah menyapu puluhan desa di empat kabupaten; Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali.Presiden SBY beserta stapnya sampai-sampai memindahkan kantor kepresidenan ke Jogjakarta sebagai tanda betapa masalah merapi menjadi fokus utama pemerintah.

Setiap kali ada bencana kebanyakan artikel membahas perkara yang menyebabkan bencana tersebut. Jika seorang penulis berlatar belakang agama maka dia akan mengupas banyak dalil tentang azab Allah kepada manusia durhaka atau bisa jadi dia memberikan contoh cobaan yang diberikah Yang Maha Kuasa kepada hambanya yang akan diangkat derajatnya. Lain lagi penulis tipikal kritikus sejati yang selalu mengaitkan segala keburukan dengan kinerja pemerintah. Mereka akan menulis berlembar-lembar kesalahan pemerintah yang mengakibatkan bencana di mana-mana. Sedangkan penulis berlatar belakang ilmuan selalu memaparkan sebab bencana dari kaca mata ilmu geologi.

Bagi saya yang bukan termasuk kelompok agamawan, kritikus apalagi ilmuan bencana adalah bencana. Peristiwa banjir, longsor atau apapun juga mari kita lihat sebagai rentetan bencana yang memang selayaknya terjadi di bumi kita.  Dengan menerima bencana sebagai bencana kita tidak akan kehabisan waktu untuk langsung membantu mencari mayat korban. Dengan menerima bencana sebagai bencana kita tidak akan kekurangan energy untuk memberi perhatian kepada korban yang kehilangan anggota keluarganya. Dengan menerima bencana sebagai bencana kita tidak akan saling menyalahkan sehingga proses perapihan dan pembangunan pasca bencana tidak akan memakan waktu lama.

Bencana sama halnya seperti anugerah selalu datang berselang sepanjang hidup. Bukankah kita sudah sepakat bahwa hidup ini bagaikan roda pedati atau ban mobil yang naik-turun selama proses perjalanan. Roda atau ban akan berhenti bergerak jika kendaraan sudah sampai di titik tujuan. Selama kita masih hidup duka yang diwakili oleh bencana dan suka yang diwakili oleh anugerah akan kita jumpai cepat atau lambat. Maka masih adakah celah bagi kita untuk saling menyalahkan ketika terjadi suatu bencana di lingkungan atau Negara kita?

Bencana yang memang sudah menjadi keniscayaan dalam hidup harus kita nikmati sebagaimana kita menikmati anugerah. Jika kita bisa mencintai anugerah, kenapa kita tidak bisa mencintai bencana?

Mencintai bencana bisa menjadi obat di negara seperti Indonesia yang sering dilanda bencana. Sebagai obat cinta bencana bisa menyembuhkan segala derita yang diakibatkan oleh hilangnya nyawa anggota keluarga, menyembuhkan derita yang diakibatkan hancur dan hilangnya harta benda, menyembuhkan luka karena kurang tanggapnya aparat pemerintahan dalam mengakomodir kebutuhan korban, menyembuhkan luka yang diakibatkan tidak jelasnyan hari esok.

Dengan mencintai bencana korban bisa menerima seutuhnya suratan takdir yang menimpa diri mereka. Mereka tidak akan mengalami penumpukan derita sebagaimana biasanya terjadi, seperti sudah kehilangan sanak-keluarga, tidak punya harta benda, hidup terlunta-lunta ditambah kekesalan yang terpendam di dalam dada karena tidak mendapatkan pertolongan selayaknya. Korban yang bisa mencintai bencana tidak akan mencari kesempatan untuk menghujat orang lain. Korban yang bisa mencintai bencana tidak akan menyerahkan sepenuh nasib kepada orang lain dengan cara meminta dan mengiba. Dengan mencintai bencana tidak akan ada korban, semua yang meninggal atau yang ditinggalkan akan menjelma menjadi pahlawan, setidaknya mereka menjadi pahlawan bagi diri sendiri yang berjuang untuk tidak mengiba kepada orang lain atas penderitaan yang dijalani.

Masyarakat yang mencintai bencana sebagaimana mereka mencintai anugerah akan tumbuh menjadi bangsa yang tahan banting. Mereka menyadari hidup tidak berakhir hanya karena kita tertimpa bencana, karena setelah langit kelam maka akan segera datang sinar fajar. Ketika puncak gunung telah selesai didaki maka kita akan mendapatkan hadiah berupa pemandangan indah sepanjang mata memandang. Mari kita buka hati ini untuk menerima bencana sebagai sebuah keniscayaan karena bagi sang pecinta bencana akan mengantarkannya kepada anugerah.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: