Jabariah


Jabariah berasal dari akar kata jabara yang berarti memaksa. Menurut istilah Istilah Jabariah adalah aliran theology Islam yang meyakini bahwa segala perbuatan manusia adalah kehendak Allah, sehingga manusia tidak mempunyai pilihan ketika melakukan sesuatu. Dasar dari pemikiran aliran Jabariah adalah Surat As-Saffat ayat 96

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

Aliran Jabariah muncul pada masa Dynasti Umayyah yang berpusat di Damaskus bersamaan dengan munculnya aliran Qadariyah yaitu sekitar tahun 70 H. Pencetus Jabariah adalah Ja’d bin Dirham di kota Basrah. Kemudian ajaran Jabariah disebarkan lewat pemikiran muridnya yang bernama Jahm bin Shafwan.

Pada perkembanagnnya Jabariah terbagi menjadi dua yaitu kelompok ekstrimis dan moderat. Jabariah ekstrim yang dipelopori oleh Jahm berpendapat bahwa:

  1. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, tidak mempunyai daya, tidak mempunyai pilihan.
  2. Surga dan neraka tidak kekal, tidak ada yang kekal selain Tuhan
  3. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.
  4. Al-qur’an adalah makhluk.

Sedangkan kelompok moderat yang dikomandoi oleh An-Najjar berpendapat:

1. Tuhan menciptakan segala sesuatu perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.

2. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat nanti, tetapi Tuhan bisa saja memindahkan hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, aliran Jabariyah tumbuh subur karena mendapat dukungan dari kalangan istana. Sebagian pemimpin Bani Umayyah yang terkenal lalim menjadikan Jabariah sebagai tameng akan kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.

Lawan dari aliran Jabariyah adalah Qadariyah yang berarti kemampuan dari kata Arab qadara. Qadariyah berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia adalah berdasarkan kepada kehendak manusia itu sendiri tanpa intervensi dari Allah. Pendapat ini didasari oleh surat Al-Kahfi ayat 26 dan Al-Ra’ad ayat 11

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”

Madzhab Qadariah muncul sekitar tahun 70 H ( 689 M ). Ajaran-ajaran ini banyak persamaannya dengan Mu’tazilah. Kehadiran Qadariah merupakan isyarat penentangan terhadap politik pemerintahan Bani Umayyah, aliran ini selalu mendapat tekanan dari pemerintah, namun paham Qadariah tetap berkembang. Dalam perkembangannya, paham ini tertampung dalam madzhab mu’tazilah. Tokoh utama dari alairan Qadariyah adalah Ma’bad bin Khalid al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi.

Previous Post
Next Post
Leave a comment

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: