Laduni

Laduni adalah istilah untuk menunjukan ilmu yang langsung didapatkan dari Allah swt tanpa terlebih dahulu melewati proses belajar melalui manusia, buku atau pelantara yang lain. Dalam Al-Qur’an istilah laduni disebut sekali pada saat diceritakan peristiwa pertemuan antara nabi Musa as dan nabi Khidir as

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Maka mereka berdua ( Nabi Musa dan pembantunya ) mendapatkan seorang hamba dari hamba-hamba Kami ( yaitu nabi khidir), yang telah Kami anugrahi rohmat dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami ( Allah ).” ( QS. Al Kahfi; 65 )

Nabi Khidir as adalah salah satu hamba Allah yang dianugerahi ilmu laduni, oleh karena itu nabi Musa as diperintahkan Allah agar belajar dari nabi Khidir as agar mendapatkan hikmah dari ilmu yang langsung diajarkan oleh Allah swt.

“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al-Kahfi : 66)

Ilmu Laduni merupakan ilmu yang sangat istimewa oleh karena itu tidak diberikan kepada semua manusia, hanya hamba-hamba yang terpilih yang mendapatkan anugerah ilmu laduni. Dalam kasus Nabi Khidir as, ilmu yang diberikan langsung Allah kepadanya berupa ilmu ‘makrifatul ghaib’, yaitu ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang ghaib berkaitan dengan masa lalu dan masa depan. Ilmu makrifatul ghaib tidak akan diberikan kepada manusia biasa seperti kita, ilmu ini khusus diberikan Allah kepada nabi-nabiNya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Jin ayat 26-27

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا  إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”

Adapun manusia biasa yang mengaku mendapatkan petunjuk tentang hal-hal yang ghaib langsung dari Allah, maka pernyataannya itu patut dicurigai. Sebagaimana jelas tercatat dalam ayat 26 surat Al-Jin bahwasanya perkara ghaib adalah urusan Allah dan hanya Allah yang mengetahuinya kemudian diteruskan dengan istisna di dalam ayat 27 bahwasanya Allah memberitahukan perkara ghaib kepada Rasul-rasul yang diridhainya.

Jika seorang manusia bisa mengetahui perkara ghaib bisa jadi sumber beritanya dari Jin, karena Jin merupakan makhluk penguping yang mencari-cari berita ghaib secara sembunyi-sembunyi.

“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS Al-Jin : 9)

“akan tetapi barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (QS As-Shaffaat : 10)

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: