Mu’tajilah

Mu’tajilah menurut bahasa berarti memisahkan diri. Sedangkan secara istilah Mu’tajilah adalah salah satu aliran dalam Islam yang diprakarsai oleh Wasil bin Atha pada sekitar abad ke-dua Hijriah. Salah satu pendapat Mu’tajilah yang sangat fenomenal adalah hukum tentang kedudukan seorang mu’min yang melakukan dosa besar. Menurut pendiri aliran Mu’tajilah, seorang mu’min yang melakukan dosa besar berada diantara dua posisi, dia bukan mu’min dan bukan pula kafir dia masuk dalam golongan fasik.

Doktrin diantara dua posisi bertentangan dengan pendapat kebanyakan ulama salaf, salah satunya adalah guru Wasil bin Atha sendiri yaitu Imam Hasan Al-Basri. Menurut Imam Hasan al-Basri mu’min yang berdosa besar tetap berstatus sebagai mu’min.

Aliran Mu’tajilah mendapatkan masa keemasan pada masa pemerintahan tiga orang khalifah Abbasiyah; Al-Ma’mun (813-833M),, Al-Mu’tasim (833-842)  dan Al-Wasiq (842-847M). Ketiga khalifah tersebut menjadikan Mu’tajilah sebagai mazhab resmi Negara. Semua ulama dipaksa untuk mengikuti paham mu’tazilah yang salah satu doktrinnya adalah bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

Banyak ulama yang dipenjara dan disiksa karena menolak doktrin Mu’tazilah, salah satu ulama besar yang sempat di penjara pada masa Al-Mu’tasim adalah Iman Hambali. Beliau dipenjara dan disiksa karena mempertahankan keyakinannya bahwa Al-Qur’an bukan makhluk.

Berikut ini adalah lima ajaran pokok Mu’tazilah yang disusun oleh Abu Huzail Al-Allaf (751-849 M)

  1. Dalam bidang Tauhid mereka berpendapat bahwa :
  • Sifat Allah ialah dzatNya itu sendiri.
  • Al-Qur’an ialah makhluk.
  • Allah di alam akhirat kelak tak terlihat mata manusia. Yang terjangkau mata manusia bukanlah Ia.
  1. Keadilan-Nya. Mereka berpendapat bahwa Allah SWT akan memberi imbalan pada manusia sesuai perbuatannya.
  2. Janji dan ancaman. Mereka berpendapat Allah takkan ingkar janji: memberi pahala pada muslimin yang baik dan memberi siksa pada muslimin yang jahat.
  3. Posisi di antara 2 posisi. Ini dicetuskan Wasil bin Atha’ yang membuatnya berpisah dari gurunya, bahwa mukmin berdosa besar, statusnya di antara mukmin dan kafir, yakni fasik.
  4. Amar ma’ruf (menganjurkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah perbuatan tercela). Ini lebih banyak berkaitan dengan hukum/fikih.

Para tokoh dan pengikut aliran mu’tajilah terkenal sebagai kelompok Islam yang paling banyak menggunakan akal dalam membahas perkara syariah. Hal ini tercermin dari salah satu doktrin mereka yang menyatakan bahwa setiap muslim yang berakal bisa menggunakan akalnya untuk berijtihad. Ijtihad bukan hanya hak seorang imam, karena keberadaan imam hanya diperlukan dalam persoalan-persoalan yang berkaitan dengan Negara dan pemerintahan.

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: