TIMNAS dan Nasionalisme

Lega rasanya melihat penampilan timnas Indonesia di babak penyisihan grup piala AFF. Kelegaan ini hadir setelah menyaksikan pertandingan TIMNAS versus Thailand yang notabene adalah kekuatan utama sepak bola ASEAN terbukti dengan perolehan piala AFF sebanyak 3 kali dan berkali-kali mendulang emas SEAGAMES. Tertinggal lebih dulu di pertengahan babak kedua, Indonesia berhasil comeback lewat dua gol penalty Bambang Pamungkas.

Sejujurnya sepanjang pertandingan dada saya dilanda cemas, tanda-tanda kekalahan TIMNAS sangat nampak dari cara main dua winger, Oktomaniani dan M. Ridwan. Mereka yang bermain luar biasa di dua pertandingan sebelumnya terlihat kehilangan orientasi sehingga sering salah umpan dan kehilangan control bola. Untunglah Cristian Gonzales menunjukan mental pantang menyerah dengan terus naik-turun menjelajahi rumput hijau Glora Bung Karno. Pemain natularisasi dari Uruguay ini tidak sering terlihat berada di samping Marcus Horison, kiper TIMNAS untuk turut serta mengamankan gawang dari serbuan pemain-pemain Thailan yang haus kemenangan.

Perjuangan Cristian Gonzales berbuah manis, akseselarinya di kotak penalty lawan berbuah tendangan penalty yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh BePe. Dan terjadilah sejarah baru, Indonesia berhasil mengalahkan Thailand setelah gagal selama 12 tahun. Kemenangan yang akan terus dikenang oleh eleman bangsa sebagai lambang kebangkitang sepakbola nasional.

Ternyata kehebatan anak-anak bangsa yang berlaga di lapangan rumput piala AFF tidak seluruhnya diterima dengan kebanggaan oleh saudaranya sendiri. Beberapa hari lalu, saya membaca komentar di sebuah media berita online yang menggugat rasa nasionalisme PSSI yang telah merekrut dua orang pemain non-Indonesia. Si penulis menyatakan bahwa kemenangan TIMNAS adalah kemenangan semu karena diperoleh dengan cara yang tidak nasionalis.

Jujur, saya pribadi sangat tersinggung dengan komentar tersebut dan mudah-mudahan teman-teman juga merasakan hal yang sama. Di tengah pesta yang semarak setelah sering kali kita berduka, masih ada pengacau yang berkicau tidak ditempatnya. Jika memang ingin membahas nasionalisme, mari kita cermati arti nasionalisme itu sendiri.

Nasionalisme adalah peng-indonesia-an dari nationalism, yang kadang diindonesiakan dengan ‘paham kebangsaan’. Nasi (nation) berarti bangsa. Menurut Dr. Hertz dalam bukunya yang berjudul Nationality in History and Politics mengemukakan empat unsur nasionalisme, yaitu:1. Hasrat untuk mencapai kesatuan.2. Hasrat untuk mencapai kemerdekaan.3. Hasrat untuk mencapai keaslian.4. Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.

Semangat nasionalisme bukan sekedar semangat kesamaan tanah air karena dilahirkan di tempat yang sama. Semangat nasionalisme bukan sekedar semangat kebersamaan karena berbicara dengan satu bahasa dari sejak lahir. Semangat nasionalisme bukah sekedar mengakui bahwa kita memiliki satu bendera, satu lagu kebangsaan dan satu presiden. Nasionalisme adalah kecintaan terhadap tanah air yang termanifestasi melalui aksi.

Apakah Gayus Tambunan yang lahir di Indonesia, besar di atas tanah Indonesia, berbicara dengan bahasa Indonesia kita katakan seorang nasionalis?

Apakah Dewi Persik seorang nasionalis?

Apakah para pajabat yang duduk santai di kursi DPR sambil berharap bisa mendapat jatah ke-luar negri gratis lewat program study banding yang tidak penting adalah para nasionalis?

Apakah para pengusaha Indonesia yang mengeruk keuntungan dari tanah Indonesia kemudian menyimpan hasilnya di Bank Swiss adalah kelompok nasionalis?

Apakah kita sebagai rakyat Indonesia telah otomatis menjadi nasionalis?

Selama kita masih sibuk dengan urusan memperbesar perut sendiri, memperbaiki citra pribadi, mengejar kebanggaan diri tanpa pernah memikirkan orang lain, apalagi berusaha untuk kejayaan Negri maka dimana semangat nasionalisme kita?

Cristian Gonzales kelahiran Uruguay berlari sepanjang 90 menit, mencoba menyerang pertahanan Thailand kemudian berusaha meredam gempuran lawan demi kejayaan TIMNAS Indonesia telah mengajarkan kepada kita arti sesungguhnya dari nasionalisme. Bukankah kita sering melihat pemain-pemain TIMNAS kehabisan tenaga setelah pertandingan memasuki partengahan babak ke dua? Bukankah kita selalu menyaksikan TIMNAS kalah setelah tertinggal lebih dahulu?

Akhirnya saya lega, kekesalan terhadap penulis coment yang mempertanyakan rasa nasionalisme TIMNAS telah saya luapkan melalui tulisan ini. Semoga catatan ini menjadi pemicu semangat agar kita senantiasa berusaha berbuat yang terbaik untuk Indonesia.

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: