Menanam Bibit Kebaikan

Pada suatu siang yang terik, seorang pengemis cilik duduk di trotoar sambil menikmati sepotong roti. Tidak jauh dari tempatnya duduk, seekor anjing bersandar di pagar pembatas jalan. Pengemis cilik itu memanggil anjing jalanan dengan melambai-lambaikan potongan rotinya. Anjing berjalan cepat menuju si anak karena dia mengira akan diberi bagian dari roti pengemis cilik yang duduk sekitar 50 meter dari tempatnya.

Ketika  Anjing mendekat, si pengemis langsung memukulnya dengan sebatang kayu. Anjing pun melolong sambil berlari merasakan sakitnya pukulan yang mendarat tepat di kepalanya. Adapun pengemis cilik tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Anjing. Setelah Anjing hilang dari pandangannya, dia meneruskan makan roti yang tinggal setengah.

Seorang lelaki yang sedang berdiri di depan rumahnya menyaksikan segala perbuatan pengemis cilik. Dia pun memanggil si anak dengan melambai-lambaikan satu lembar uang lima ribu. Pengemis kecil tersenyum senang, dia berlari menuju si laki-laki dermawan yang akan memberinya lima ribu rupiah.

Ketika sampai di hadapan pria dermawan, pengemis cilik menjulurkan tangannya siap menerima selembar uang lima ribu. Namun bukannya uang yang didapat, laki-laki itu langsung memukul tangannya dengan tongkat. Si anak terkejut mendapatkan perlakuan tidak baik dari pria yang dianggapnya seorang dermawan itu. Dia pun protes

“Kenapa tuan memukul tangan saya, padahal saya tidak meminta apapun kepada tuan?”

Si tuan langsung memjawab

“Kenapa kamu memukul Anjing, padahal dia tidak meminta sesuatu apapun kepadamu”

Si anak pun pergi dari hadapan laki-laki itu dengan perasaan malu. Dia mengerti bahwasanya setiap perbuatan jahat pasti mendapatkan balasan kejahatan yang setimpal.

Melalui layar tivi ataupun tulisan-tulisan di surat kabar kita mendapatkan banyak berita tentang kejahatan. Dari mulai pencurian beberapa buah semangka sampai pembunuhan disertai mutilasi. Berita kejahatan tersebut setiap hari berulang-ulang. Hari ini di tempat anu, besok di tempat itu mungkin lusa ada di sini. Padahal semua penjahat yang tertangkap telah diberi sanksi oleh penegak hukum, namun kejahatan masih terus saja berkembang biak.

Kejahatan yang ditampilkan beritanya di layar tivi memberi dampak yang tidak kecil kepada masyarakat. Sebagian orang tua bisa jadi stress mengkhawatirkan anaknya menjadi korban atau terlibat kejahatan. Sebagian anak mungkin jadi terinspirasi oleh kejahatan di tivi kemudian mencoba melakukannya kepada orang-orang sekitar. Selama hal ini tidak dihentikan maka jangan berharap kejahatan akan berkurang. Semakin gencar kejahatan diberitakan maka semakin hebat pula ia berkembang.

Tugas kita sebagai orang tua adalah mencegah sedini mungkin anak-anak kita dari prilaku buruk yang mengarah kepada kejahatan. Kejahatan itu tidak mungkin langsung besar, ia berproses layaknya pertumbuhan manusia. Pada mulanya kejahatan bisa berupa keisengan. Dari iseng yang sering dilakukan berkembang manjadi kejahatan ringan, kemudian menjadi kejahatan sedang dan akhirnya bisa jadi pelaku keisengan menjadi seorang panjahat sadis.

Keisengan yang sering terjadi di rumah dan pelakunya adalah anak-anak adalah memukul atau membanting-banting binatang. Sering kali kita menyaksikan anak kecil memukul kucing namun orang tuanya hanya tersenyum, mengijinkan anaknya berproses menjadi seorang jago tega. Padahal jago tega adalah modal utama menjadi seorang penjahat. Oleh karena itu mari kita cegah anak-anak kita sedini mungkin dari menyakiti baik itu teman sepermainan atau binatang periharaan. Kita ajarkan kasih sayang dengan memberikan contoh langsung, karena anak-anak lebih bisa belajar dari contoh real dibandingkan nasehat verbal.

Sebagai orang tua kita tidak bisa menuntut anak-anak untuk berbuat baik jika kita sendiri tidak memberikan contoh kebaikan kepada sesama dan juga makhluk lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Jika kita telah menunjukan kebaikan di hadapan anak-anak niscaya tanpa harus berbanyak kata anak-anak pun akan mengikuti kebaikan kita.

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: