Dasar Manusia

Ini cerita tentang dua anak manusia yang hidup berdampingan. Satu orang berprofesi sebagai supir bus yang kedua berprofesi sebagai kondektur. Supir bus berpenghasilan lebih banyak dari kondektur karena dia memiliki kelebihan bisa menjalankan mobil. Dari kelebihan penghasilan tersebut sopir bus bisa hidup berkecukupan

Kehidupan sopir bus tidak pernah luput dari pantauan temannya yang menjadi kondektur. Si kondektur yang merasa sama-sama hidup dari bus, merasa tidak nyaman dengan kelebihan temannya tersebut. Akhirnya si kondektur menyalakan api kecemburuan terhadap si sopir. Kecemburuan ini lama kelamaan menjadi persaingan yang tidak imbang (mana ada kondektur yang bisa mengalahkan sopir?)

Apa pun yang dilakukan sopir bus, kondektur akan mengikutinya. Apa pun yang dibeli istri sopir bus, istri kondektur juga berusaha untuk membelinya. Apapun yang dipakai anak sopir bus, anak kondektur akan memakainya.

Suatu hari ketika kondektur sedang berjalan, sopir bus lewat di atas sebuah sepeda. Melihat kawannya dengan santai mengayuh sepedah ke tempat kerja, hati kondektur menjadi panas, “emangnya lu doang yang bisa beli sepeda! besok gua juga bisa bawa sepeda ke pull”

Ke esokan harinya si kondektur yang sudah membeli sepeda baru yang lebih bagus dari sepeda temannya bersantai ria mengayuh sepeda sambil bersiul-siul. Dalam hati dia berkata, ‘Liat sepeda siapa yang lebih bagus, sopir ………!”

Belum sempat menamatkan kata hatinya, dari samping menderu sebuah motor. Ketika kondektur bersepeda itu menolehkan kepala, sebuah palu godam menghujam dadanya. Ternyata di atas jok motor yang menyalipnya, sopir bus sedang mantap menarik gas dengan tangan kanannya. Gubrak….. sepeda baru jatuh bersama pemiliknya

Dengan hati membara, si kondektur berjanji akan membalas sakit hati. Sepeda dijual, kulkas di jual, kalung emas istrinya juga dijual. Kondektur kini percaya diri, motor barunya pasti lebih kencang dari pada motor si sopir. 135 cc tentu lebih hebat dari pada 110 cc. ‘Awas aku senggol dia, biar tau bagaimana rasanya jatuh ke parit”

Motor baru sudah siap, kondektur percaya diri bahwa sekarang saatnya membalas sakit hati. Di pertigaan sengaja laju motor dia pelankan, menunggu si sopir yang pasti berangkat belakangan. Detik demi menit berlalu, namun bukannya sopir bus yang muncul malah hujan yang tidak diundang turun secara perlahan. Demi menyelamatkan diri dari guyuran air langit, si kondektur meneruskan perjalanan. Ketika badannya mulai menggigil kehujanan, sebuah mobil membunyikan klakson. Si kondektur pun meminggirkan motornya. Bagai tersengat arus listrik ribuan volt, si kondektur melihat dengan jelas sopir yang akan dia senggol duduk nyaman di dalam mobil, sama sekali tidak merasakan dinginnya air hujan.

Keparattttttttttttttttttttttttttttttttttttt………………………….. jutaan kata-kata kotor keluar dari mulut si kondektur yang biru disiksa dingin hujan.

Seminggu penuh si kondektur tidak masuk kerja. Badannya meriang, nafsu makan hilang, istri dan anak-anak selalu menjadi pelampiasan kemarahan dan siang-malam dia tidak bisa beristirahat dengan tenang. Bayangan temannya sopir bus yang sedang duduk santai di dalam mobil menjadi hantu yang selalu mendatanginya.

Aku harus sembuh, biar tuntas segala dendam kesumat ini. Akhirnya dengan keyakinan kuat, si kondektur pun kembali sehat seperti sedia kala. Semua harta yang ada di rumahnya berakhir di meja penggadaian, sebagai ganti sebuah mobil hasil kredit nongkrong di depan rumah pak kondektur. Balapan, biar sampai hancur pun aku sanggup. Memangnya aku tidak bisa mengalahkannya!. Bemper depan mobil si kondektur dipasang besi besar, laksana tanduk kerbau yang siap menghujam musuh.

Modal tanduk besi di depan mobil barunya membuat kondektur bus yakin berratus-ratus persen bahwa kali ini si sopir harus kena batunya. MObil pun melaju di jalur menuju tempat kerja. Perjalanan baru sekitar 10 km ketika di tengah jalan si kondektur melihat plang besi bertuliskan “maaf perjalanan anda terganggu, sedang ada perbaikan jalan”. Dia pun menginjak rem, mobil berhenti menunggu antri. Ketika dia sedang mengatur rencana dendam membara terhadap si sopir bus, sebuah sepeda motor menyalip dari sisi kanan mobilnya. Dengan sopan si pengendara motor melambaikan tangan, “maaf, aku duluan”.

bugrak, bledug, duarrrrrrrr meletus sudah jantung yang selama ini mendekam dalam dada si kondektur bus.

 

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: