Sunnatullah

Sunnatullah adalah ketetapan yang dikehendaki oleh Allah. Matahari terbit di sebelah Barat dan tenggelam di sebelah Timur merupakan bagian dari sunnatullah. Air mengalir dari pegunungan kemudian menyisiri daerah-daerah yang rendah dan pada akhirnya akan bermuara di laut itu pun merupakan sunnatullah. Sennatullah tersebar di segala aspek kehidupan, proses bayi tengkurap, merangkak, duduk, kemudian berdiri dan berjalan juga termasuk sunnatullah

Sunnatullah telah berlaku semenjak manusia belum diciptakan, adapun sunnatullah yang berkaitan dengan kehidupan manusia berlaku sejalan dengan diciptakannya manusia. Sunnatullah tersebut tidak akan dan tidak bisa dirubah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا

“Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.” (QS Al-Ahzab : 62)

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.” (QS Al-Fath : 23)

Semua manusia harus menerima sunnatullah sebagai suatu ketetapan yang tidak bisa ditolak. Nabi sekalipun tidak memiliki wewenang untuk meminta Allah merubah ketetapan Allah atas dirinya. Salah satu sunnatullah yang terjadi pada diri setiap nabi adalah tantangan dan rintangan yang dilakukan oleh kerabat dan kaumnya sendiri. Nabi Adam as mendapatkan cobaan dari prilaku Qabil anaknya yang menentang kebijakan nabi Adam. Nabi Nuh as mendapatkan putranya Kan’an sebagai pembangkang. Nabi Luth as mendapatkan cobaan dari prilaku istrinya yang pro terhadap kaum Sodom. Dan Nabi Muhammad saw mendapat tentangan dan rintangan dari paman dan bibinya.

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS Al-Ahzab : 38)

Sunnatullah juga berlaku atas akibat dari perbuatan manusia. Barangsiapa yang melakukan kebaikan niscaya dia akan mendapatkan kebaikan yang setimpal dari perbuatannya dan sebaliknya barangsiapa yang melakukan kejahatan maka dia pun akan mendapatkan kejahatan semisalnya. Sunnatullah ini berlaku kepada umat terdahulu dan berlaku juga bagi umat masa kini. Sunnatullah yang telah ditetapkan kepada umat terdahulu dan diceritakan dalam Al-Qur’an bertujuan untuk mengingatkan manusia agar selalu ingat bahwa di atas segala sesuatu di muka bumi ini ada Sang Penguasa yang menetapkan segala ketetapan dengan adil tanpa merugikan satu orang makhluk pun

“karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu.” (QS Fatir : 43)

 

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: