Kisah Apel Busuk

Mendengar putra sulungnya bergaul dengan anak-anak genk motor yang terkenal sebagai trouble maker, seorang ayah memanggil putra yang telah beranjak remaja tersebut.

Ayah   :”Nak, apakah benar kamu berteman dekat dengan anak-anak genk motor?”

Anak   :”Benar, ayah!”

Ayah   :”Cobalah kamu jauhi mereka, ayah khawatir kamu terbawa pergaulan kurang baik.”

Anak   : “Percayalah ayah pada saya. Saya bisa menjaga diri. Ayah telah mengajarkan saya tentang kebaikan dan menyuruh saya menjauhi keburukan. Sampai kapan pun saya akan tetap menjadi putra ayah yang selalu berusaha berbuat kebaikan. Pertemanan saya dengan mereka adalah jalan untuk menularkan kebaikan.”

Setelah mendengarkan penjelasan anaknya, ayah berjalan menuju dapur dan kembali dengan sebuah bakul berisi beberapa buah Apel

Ayah   :”Anakku, lihatlah Apel dalam bakul ini.”

Anak   :”Kenapa ayah memasukkan apel busuk ke dalam bakul yang berisi apel-apel segar?” Sambil berkata, tangan si anak bergegas mengambil Apel busuk itu dari bakul

Ayah   :”Kembalikanlah Apel busuk itu ke dalam bakul. Ayah akan jelaskan maksudnya esok lusa.”

Dua hari kemudian, ayah dan anak tersebut duduk berhadap-hadapan, diantara mereka terbujur bakul berisi apel yang ditutupi serbet berwarna merah

Ayah   :”Anakku, bukalah tutup bakul itu.”

Si anak membuka tutupnya dan langsung terkejut melihat hampir separuh Apel dalam bakul telah berubah wujud menyerupai si Apel busuk.

Ayah   :”Anakku, lihatlah buah apel yang kemarin lusa masih segar sekarang sudah membusuk. Apel busuk yang disimpan dalam bakul menularkan kebusukannya kepada mereka. Begitu juga kamu anakku, jika terus-menerus bersama anak-anak yang kurang baik niscaya kamu akan tertular keburukan mereka. Ingatlah anakku, racun keburukan lebih cepat menjalar dibandingkan dengan obat kebaikan.”

Sudah teramat banyak pemuda-pemudi baik-baik menjadi buruk karena salah bergaul. Pergaulan merupakan pabrik pencetak manusia paling hebat. Pergaulan mencetak seorang anak pemalu menjadi liar, pergaulan menyulap anak pendiam menjadi vocal berteriak menentang orang tua, pergaulan menciptakan anak kuat menjadi monster. Di sisi lain pergaulan juga bisa merubah seorang preman menjadi santri, seorang pecandu narkoba menjadi guru ngaji, seorang narapidana menjadi kiyai.

Pergaulan tidak mungkin bisa dihindari karena sebagai makhluk sosial kita membutuhkan orang lain untuk sebuah identitas bernama eksistensi. Tugas kita adalah mengajak putra-putri, keponakan, adik, teman dan tentunya diri sendiri untuk selalu berhati-hati dalam bergaul. Lebih baik bergaul dengan orang yang baik-baik dari pada mencoba menjadi orang baik dengan menggabungkan diri pada komunitas kurang baik karena alih-alih bisa mengajak kebaikan malah kita yang terseret pada keburukan mereka. Sebagaimana pesan orang tua di atas kepada anaknya “Racun keburukan lebih cepat menjalar dibandingkan dengan obat kebaikan”.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: