Pusat Peradaban Islam

Sepanjang sejarah Islam dari mulai diangkatnya nabi Muhammad saw menjadi rasul sampai era modern, Islam telah meninggalkan bukti eksistensi kebudayaan yang diciptakan oleh penganutnya. Berikut ini beberapa kota dan bukti kebudayaan Islam yang mengakar di kota tersebut. Meskipun di beberapa titik kebudayaan Islam sudah tidak bisa dilihat namun sejarah masih mencatat bahwa islam dan budayanya pernah eksis di sana.

1. Mekkah

Sebagai kota kelahiran nabi Muhammad saw dan tempat disampaikanya wahyu pertama oleh Allah swt melalui perantara malaikat Jibril, Mekah menjadi kota penuh kenangan bagi umat Islam. Mekah sebagai tanah tempat lahir ternyata belum bisa menerima keberadaan beliau sebagai utusan Allah yang mengajak manusia menuju jalan sorga. Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya yang berjumlah sedikit harus rela meninggalkan tanah leluhurnya. Namum beberapa tahun kemudian nabi beserta muslimin berhasil kembali ke kota Mekah dengan damai.

2. Madinah

Kota yang bernama Yatsrib ini merupakan tempat berlabuh nabi Muhammad saw bersama pengikutnya setelah terusir dari Mekah. Di kota ini nabi menerima sambutan yang sangat baik dari penduduknya. Mereka bersedia menjadi pelindung nabi dan kaum muslimin dari segala keburukan orang-orang Quraish. Oleh karena itu penduduk Yathrib ketika itu diberi gelar Al-Ansor yang berarti penolong.

Setelah nabi bermukim di Yathrib, kemudian mulai membangun kota sebagai pusat pengembangan Islam, kaum muslimin mulai mengganti nama kota tersebut menjadi Madinatul Rasul yang berarti kotanya rasul. Kemudian pada perkembangannya hanya disebut sebagai Madinah.

3. Damaskus

Damaskus adalah ibu kota dynasti Umayyah. Setelah perjanjian damai antara Sayyidina Hasan ibn Ali sebagai khalifah muslim yang berpusat di Madinah dengan Muawiyah ibn Abi Sofyan, sebagai Gubernur di Syria. Sang Gubernur yang mendapatkan limpahan kekuasaan dari cucunda Nabi saw memprokramirkan diri sebagai khalifah dan mengalihkan ibu kota kerajaan Islam ke Damaskus yang notabene ibu kota provinsi Syria.

4. Bagdad

Bagdad merupakan kota terbesar di Iraq. Bagdad sebagai ibu kota kerajaan dynasti Abbasiah memiliki banyak peninggalan bersejarah. Kota Bagdad didirikan di tepi barat Tigris di suatu waktu antara tahun 762 dan 767 oleh kekhalifahan Abbasiyah yang dipimpin oleh Kalifah al-Mansyur.

Pada masa kahalifah Harun Al-Rasyid, Bagdad menjelma menjadi kota metropolis yang pada malam hari diterangi ribuan watt lampu. Di kota Bagdad, khalifah mendirikan universitas terbesar pada masanya yaitu universitas Bagdad yang didatangi oleh ribuan mahasiswa dari daerah kekhalifahan muslim dan juga dari wilayah Eropa.

5. Kairo

Kairo adalah ibukota Mesir. Islam pertama kali masuk Mesir pada masa khalifah Umar ibn Khattab tahun 639 Masehi. Kota Kairo sendiri dibangun oleh Dynasty Fatimiyah, keturunan Ali bin Abi Thalib ra yang melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah di Bagdad. Muiz Lidinillah, khalifah pertama dynasti Fatimiyah membangun masjid besar di dataran tepi sungai Nil yang diberi nama Al-Azhar. Pada perkembangannya masjid ini bukan hanya dijadikan pusat ibadah namun juga dijadikan tempat penyebaran ilmu pengetahuan. Masjid Al-Azhar menjadi cikal bakal sebuah perguruan tinggi Islam tertua di dunia yaitu Universitas Al-Azhar.

6. Istanbul

Istanbul adalah ibu kota Republik Turki. Sebelum tahun 1930, Istanbul dikenal sebagai Konstantinopel, ibu kota kerajaan Romawi Timur. Sultan Muhammad II dari kerajaan Turki Uthmani berhasil merebut Konstantinopel dari Raja Romawi pada tahun 1453 M, kemudian merubah nama Konstantinopel menjadi Islambul yang berarti kota Islam. Namun tokoh reformis Turki Mustafa Kemal Pasha, merubah Islambul menjadi Istanbul.

7. Cardova

Cordoba merupakan sebuah kota di Spanyol yang pernah menjadi tanda kebesaran Islam di benua biru. Pada tahun 711 M atau 93 H, panglima perang Islam bernama Thariq ibn Jizad berhasil mendarat di daratan Spanyol yang mereka sebut sebagai Andalusia. Pasukan Islam ini berhasil mengalahkan bangsa Goth yang berasal dari Jerman Barat.

Pada tahun 758 M/139 H Abdurrahman Ad-Dakhili, seorang pangeran Umayyah yang lolos dari sergapan pasukan Abbasiah memimpin pasukan Al-Himyariyah (Bangsa Arab dari Yaman) menuju Cordoba. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Al-Mudhariyah (Bangsa Arab dari Afrika Utara), Abdurrahman Ad-Dakhili menobatkan dirinya sebagai Sultan dan berkuasa selama 33 tahun. Setelah dia wafat, putranya yang bernama Hisyam menggantikan kedudukannya sebagai Sultan di Cordova.

Selama masa pemerintahannya Hisyam melakukan banyak pembaharuan di kota Cordoba. Diantaranya adalah: menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pengetahuan, sehingga hampir semua orang di Andalusia pada waktu itu bisa berbicara Arab. Peninggalan Hisyam yang paling fenomenal adalah Masjid Al-Hamra yang ia bangun di pusat kota Cordoba. Masjid ini merupakan bangunan tercantik di zamannya. Setelah keruntuhan dynasty Umayyah di Andalusia, masjid Al-Hamra diubah fungsi menjadi gereja.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: