Time is Money

Sudah tidak diragukan lagi Jepang adalah Negara maju dan bangsa Jepang sudah bisa duduk sama rendah-berdiri sama tinggi dengan bangsa kulit putih di Barat sana. Konon katanya kemajuan Jepang itu berkat keuletan dan kedisiplinan mereka. Di antara keuletan dan kedisiplinan berdiri tegak menjulang philosophi bangsa Jepang yang menunjukan betapa mereka menghomati waktu “Time is Money”. Tiga hurup sakti ini mengiang-ngiang di seantero negeri Sakura yang di tahun empat puluhan hancur lebur dibombardir tentara sekutu. Bahkan gema tiga hurup sakti tersebut terdengar ke Negara kepulauan yang dilintasi garis Katulistiwa, Indonesia namanya.

Hampir di setiap forum, baik tingkat nasional maupun regional terkecil, rumah tangga, orang teramat sering mengucapkan mantra sakti “Time is Money”. Singkat kata bangsa Indonesia mempunyai keinginan besar untuk mengikuti jejak langkah sang ‘saudara tua’ yang telah menjadi maju karena menghormati waktu.

Bagaimana kita tidak tergiur dengan kemajuan Jepang bila setiap hari dipertontonkan kemewahannya. Semua jalan raya di Indonesia, hamper pasti di sesaki kendaraan roda dua dan empat made in Japan. Di dalam rumah kita juga produk Jepang terpajang di setiap ruangan dari mulai rice cooker sampai televisi.

Secara pribadi saya sangat senang dengan kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya waktu. Akan tetapi jika waktu kita ibaratkan sebagai uang atau dengan ungkapan lain waktu harus digunakan untuk mendapatkan uang, saya kurang bahkan tidak setuju. BIla kita selalu meng-uangkan waktu maka bukan kebaikan yang kita dapatkan melainkan kerapuhan yang bersemayam.

Time is money bagaikan pisau bermata dua, apabila kita tidak berhati-hati menggunakannya niscaya tangan akan terluka. Di satu sisi mengajarkan kita menghormati waktu dengan menggunakannya sebaik mungkin di sisi lain mendorong kita untuk memuja kehidupan matrealistis.

Waktu adalah uang; jika anda punya uang maka saya bisa mengatur waktu saya untuk anda. Waktu adalah uang; Saya akan datang tepat waktu jika acara tersebut mendatangkan keuntungan financial. Waktu adalah uang; Saya tidak bisa membantu anda jika anda tidak punya uang karena itu hanya menghambur-hamburkan waktu saja. Waktu adalah uang; Saya kurang suak ikut kegiatan social karena tidak memberikan penambahan kekeyaan kepada pribadi saya. Waktu adalh uang; Saya akan menjadi pendampingmu seumur hidup selalma kamu punya uang, jika uangmu habis maka jangan salahkan saya bila meninggalkanmu.

Sebagai muslim tentunya hidup matrealistis bukanlah hidup yang dianjurkan RAsulullah SAW. Hidup kita di dunia ini hanya sementara, kita akan menuju alam baka dengan meninggalkan segala milik kita yang berupa materi. Maka waktu bagi kita adalah media untuk memperbanyak amal kebaikan. Waktu bagi kita adalah bank tempat menyimpan perbekalan untuk akhirat.

 

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: