Umrah

Umrah secara bahasa: berkunjung. Sedangkan secara syariat: berniat menuju baitullah pada waktu-waktu selain haji untuk mengerjakan ibadah-ibadah tertentu dengan syarat-syarat tertentu. Umrah merupakan ibadah fardu menurut pendapat Imam Syafi’ie. Kedudukan umrah sebagai ibadah fardu merujuk kepada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 196

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya……”

Sejarah umrah pertama terjadi pada tahun ke tujuh Hijrah tepatnya pada bulan Dzulqo’dah. Setelah mendapat mimpi berziarah ke tanah suci bersama kaum muslimin, nabi Muhammad saw mengajak muslimin yang pada waktu itu berada di kota Madinah melaksanakan umrah ke Mekah. Rombongan rasul saw tercegat di Hudaibiyah, mereka tidak diperbolehkan memasuki kota Mekah oleh pemuka Quraish. Rasul saw mengutus Uthman ibn Affan untuk berdialog dengan pemuka Quraish. Ketika Uthman tidak kunjung kembali ke perkemahan muslimin di Hudaibiyah, Rasulullah mengumpulkan muslimin di bawah sebuah pohon untuk berjanji setiap sehidup-semati bersama beliau. Bai’at yang bertujuan untuk membela Uthman ibn Affan ini terkenal dengan sebutan bai’at Ridwan.

Akhirnya Uthman kembali disertai oleh pemuka Qurasih. Muslimin dan Quraish membuat sebuah kesepakatan yang isinya; pada tahun ini muslimin tidak diperbolehkan berziarah ke Ka’bah. Sebagai gantinya pada bulan yang sama di tahun depan muslimin di perbolehkan melaksanakan umrah. Perjajjian ini dikenang sebagai perjanjian Hudaibiyah.

Kedudukan umrah yang hampir setara dengan haji terangkum dalam pendapat para sahabat:

Ibnu Umar berkata, “Tiada seorang pun melainkan atas dirinya ada kewajiban mengerjakan haji dan umrah.”

 

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya ibadah haji itu kawan seiring dengan Umrah, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Allah yang artinya, ‘Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah itu karena Allah’.”

 

Sebagaimana ibadah lain, Umrah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Muslim atau muslimat yang melaksanakan umrah akan diampuni dosa-dosanya;

 

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Umrah ke umrah yang lain adalah menghapuskan dosa di antara keduanya. Haji yang mabrur itu tidak ada balasannya melainkan surga.”

 

Syarat melaksanakan umrah sama dengan haji, berjumlah enam point:

 

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Merdeka
  5. Jalan yang aman

(Maka jika ia takut atas dirinya sendiri atau atas hartanya, atau jalan yang tidak aman karena adanya peperangan misalnya, maka haji ataupun umrah tidak wajib atasnya)

  1. Mampu
    Allah berfirman dalam surat Ali imran: 97 yang artinya: Dan Allah mewajibkan bagi manusia berhaji bagi orang-orang yang mampu untuk menempuh perjalanan ke sana

 

Adapun rangkaian ibadah umrah berbeda dengan haji

  1. Diawali dengan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk umrah.
  2. mengenakan pakaian ihram. Untuk lelaki 2 kain yang dijadikan sarung dan selendang, sedangkan untuk wanita memakai pakaian apa saja yang menutup aurat tanpa ada hiasannya dan tidak memakai cadar atau sarung tangan.
  3. Niat umrah dalam hati dan mengucapkan Labbaika ‘umrotan atau Labbaikallahumma bi’umrotin. Kemudian bertalbiyah dengan dikeraskan suaranya bagi laki-laki dan cukup dengan suara yang didengar orang yang ada di sampingnya bagi wanita, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.
  4. Sesampai Masjidil Haram menuju ka’bah, lakukan thawaf sebanyak 7 kali putaran.3 putaran pertama jalan cepat dan sisanya jalan biasa. Thowaf diawali dan diakhiri di hajar aswad dan ka’bah dijadikan berada di sebelah kiri. Setiap putaran menuju hajar aswad sambil menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya jika mampu dan mengucapkan Bismillahi wallahu akbar. Jika tidak bisa menyentuh dan menciumya, maka cukup memberi isyarat dan berkata Allahu akbar.
  5. Shalat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim jika bisa atau di tempat lainnya di masjidil haram dengan membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama dan Al-Ikhlas pada raka’at kedua.
  6. Selanjutnya Sa’i dengan naik ke bukit Shofa dan menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan mengucapkan Innash shofa wal marwata min sya’aairillah. Abda’u bima bada’allahu bihi (Aku memulai dengan apa yang Allah memulainya). Kemudian bertakbir 3 kali tanpa memberi isyarat dan mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu. Lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa ilaha illallahu wahdahu anjaza wa’dahu wa shodaqo ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu 3x. Kemudian berdoa sekehendaknya. Sa’i dilakukan sebanyak 7 kali dengan hitungan berangkat satu kali dan kembalinya dihitung satu kali, diawali di bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah.
  7. Mencukur rambut kepala bagi lelaki dan memotongnya sebatas ujung jari bagi wanita.
  8. Ibadah Umroh selesai

 

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: