Uhud, Saksi Sejarah Kekalahan Pertama Umat Islam

Perang Badr meninggalkan luka yang sangat dalam di hati kafir Quraish. Mereka merasakan kepedihan, kekecewaaan serta kemarahan bahkan Abu Lahb, paman nabi yang juga tokoh Quraish paling gencar menyerang nabi dan muslimin semasa di Mekkah mendadak sakit keras yang berujung di kematiaanya karena tidak kuasa menahan geram dan malu pasca kekalahan Quraish dari muslimin di Badr.

Perasaan pedih, kecewa dan marah kemudian terkumpul menjadi sebuah dendam membara di setiap dada orang Quraish. Mereka bertekad menuntut balas kepada Rasulullah dan muslimin. Karena tidak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan luka hati Quraish kecuali kemenangan mereka atas muslimin. Kesepakatan Quraish berujung pada pembentukan pasukan perang besar yang siap menyerang Madinah.

Sebanyak 3,000 orang prajurit lengkap dengan persenjataan serta tunggangan siap berangkat dari Mekkah menuju Madinah. Quraish membentuk tiga brigade perang yang diantaranya adalah brigade pimpinan Talhah bin Abi Talhah yang terdiri dari dua ratus pasukan berkuda dan tiga ribu unta, diantaranya tujuh ratus orang berbaju besi.

Persiapan Quraish yang luar biasa membuat paman nabi, Abbas bin Abdul Muthalib yang berada di pihak Quraish menyimpan rasa belas kasihan kepada keponakannya. Meskipun dia mencintai agama leluhurnya dan siap membela sampai titik darah penghabisan, namun dia juga masih menyimpan sayang kepada keponakannya yang sudah dia ketahui kwalitas pribadinya. Didorong oleh rasa sayang, Abbas bin Abdul Muthalib mengutus seseorang untuk menyampaikan suratnya kepada Rasulullah yang berisi informasi tentang persiapan Quraish menyerang Madinah.

Setelah membaca surat dari pamannya, Rasulullah saw segera mengumpulkan sahabat-sahabatnya dari Muhajirin dan Ansar untuk bermusyawarah mengenai pasukan besar Quraish yang siap menyerang Madinah. Rasul mengajukan agar muslimin menanti kedatangan Quraish di Madinah agar dapat memanfaatkan letak geografis Madinah yang dikelilingi oleh bukit sehingga musuh tidak dapat masuk kota dengan mudah. Usulan Rasulullah mendapat sambutan baik dari kaum Ansar. Mereka menguatkan pendapat beliau dengan argument bahwa selama ini tidak ada satu kelompok musuh pun yang berhasil menembus kota Madinah. Namun beberapa orang Muhajirin berpendapat lain, mereka memilih menyongsong musuh di luar kota Madinah untuk mengamankan kota suci dari para agressor sehingga jika pun kalah para perempuan dan anak-anak Madinah tidak menjadi korban.

Keputusan akhir, mayoritas peserta musyawarah memilih menyongsong musuh di luar kota Madinah. Rasulullah memimpin pasukan menuju bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil. Sesampainya di Uhud, Rasulullah membentangkan pasukannya dari kaki bukit Uhud sampai ke kaki bukit Ainan. Untuk melindungi pasukannya, Rasulullah memerintahkan 50 orang pasukan panah dibawah pimpinan Abdullah bin Zubair menaiki bukit Ainan dan dengan tegas melarang mereka turun dari bukit apapun yang terjadi.

Satu mil di selatan bukit Uhud, pasukan Quraish sudah nampak berkemah. Abu Sofyan selaku panglima perang Quraish menyusun strategi penyerangan. Dia membuat formasi infantri di tengah yang diapit oleh dua sayap kavaleri yang masing-masing dipimpin oleh Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahl. Di depan mereka terdapat 100 orang pemanah yang siap membuka pertempuran.

Pada tanggal 7 Syawal tahun ketiga Hijriah bertepatan dengan tanggal 22 Maret 625 M, kedua pasukan bertempur di kaki bukit Uhud. Pasukan Quraish yang berkali lipat lebih banyak dibuat tidak berdaya oleh pasukan muslimin yang tertolong pasukan pemanah di bukit Ainan. Barisan Quraish tercerai berai dan meninggalkan banyak harta rampasan perang di tengah medan pertempuran. Melihat pasukan Quraish lari dengan meninggalkan harta yang begitu banyak, pasukan panah muslimin lupa akan perintah Rasulullah agar tetap bertahan di bukit Ainan, apapun yang terjadi. Mereka bergegas menuruni bukit demi mendapatkan harta yang ditinggalkan tentara Quraish.

Khalid bin Walid pemimpin pasukan berkuda Quraish menyaksikan kejadian tersebut. Dengan visi perang yang sangat brilian dia membawa pasukannya menuju bukit Ainan yang sudah ditinggalkan pasukan pemanah muslim. Keadaan pun berbalik, tentara berkuda pimpinan Khalid berhasil mengambil alih kendali perang. Menyadari hal itu, tentara Quraish yang sudah tercerai-berai kembali bersatu menyerang pasukan muslimin yang sedang mendapat tekanan.

Kekalahan menjadi pelajaran yang berharga bagi pasukan muslimin yang tergoda oleh harta. Kekalahan yang mengakibatkan gugurnya banyak pemimpin muslimin diantaranya adalah Abdullah bin Zubair komandan pasukan panah yang memilih tetap bertahan di bukit Ainan meskipun prajuritnya pergi meninggalkannya, Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur ditikam tombak oleh Wahsyi, seorang budak hitam yang diperintah Hindun istri Abu Sofyan dan Mush’ab bin Umair seorang pembawa panji perang tentara Islam. Rasulullah saw sendiri sempat terjatuh ke dalam sebuah parit yang dibuat oleh tentara Quraish. Beliau mendapat luka di bagian wajah oleh serangan tentara Quraish.

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: