Wakaf

Wakaf berasal dari kata waqofa-yaqifu yang berarti menahan atau berhenti. Adapun menurut Istilah, Imam Empat Madzhab berbeda penjelasan:

Pertama, Hanafiyah mengartikan wakaf sebagai menahan materi benda (al-‘ain) milik Wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya kepada siapapun yang diinginkan untuk tujuan kebajikan (Ibnu al-Humam: 6/203). Definisi wakaf tersebut menjelaskan bahwa kedudukan harta wakaf masih tetap tertahan atau terhenti di tangan Wakif itu sendiri. Dengan artian, Wakif masih menjadi pemilik harta yang diwakafkannya, manakala perwakafan hanya terjadi ke atas manfaat harta tersebut, bukan termasuk asset hartanya.

Kedua, Malikiyah berpendapat, wakaf adalah menjadikan manfaat suatu harta yang dimiliki (walaupun pemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang yang berhak dengan satu akad (shighat) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan Wakif (al-Dasuqi: 2/187). Definisi wakaf tersebut hanya menentukan pemberian wakaf kepada orang atau tempat yang berhak saja.

Ketiga, Syafi‘iyah mengartikan wakaf dengan menahan harta yang bisa memberi manfaat serta kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan cara memutuskan hak pengelolaan yang dimiliki oleh Wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang dibolehkan oleh syariah (al-Syarbini: 2/376). Golongan ini mensyaratkan harta yang diwakafkan harus harta yang kekal materi bendanya (al-‘ain) dengan artian harta yang tidak mudah rusak atau musnah serta dapat diambil manfaatnya secara berterusan (al-Syairazi: 1/575).

Keempat, Hanabilah mendefinisikan wakaf dengan bahasa yang sederhana, yaitu menahan asal harta (tanah) dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan (Ibnu Qudamah: 6/185).

Sedangkan pemerintah Indonesai mendefinisikan wakaf dalam Undang-Undang nomor 41 tahun 2004, dengan perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Syarat waqif atau orang yang mewakafkan harta ialah sehat secara akal sehingga pernyataanya bisa dijadikan pegangan serta ahli dalam beramal. Hukum melaksanakan wakaf adalah jaiz atau boleh disertai dengan syarat- syarat

  1. Barang yang diwakafkan adalah barang yang dapat diambil manfaatnya dan tahan lama. Dalam hal ini tidak diperbolehkan mewakafkan barang yang kurang bermanfaat menurut syariat seperti wakaf alat music, alat permainan dan perhiasan yang akan digunakan untuk berhias. Juga tidak syah hukumnya melaksanakan wakaf dengan barang yang mudah habis seperti makanan, minuman dan lain sebagainya.
  2. Barang yang diwakafkan harus berwujud pada waktu terjadi akad wakaf. Tidka boleh mewakafkan sesuatu yang belum ada, seperti mewakafkan anak kambing yang belum lahir.
  3. Wakaf dilaksanakan atas dasar mendekatkan diri kepada Allah, jadi wakaf barang yang bertujuan untuk maksiat hukumnya tidak boleh.
  4. Dalam pelaksanaan wakaf tidak diperbolehkan dibatasi waktunya
  5. Pernyataan orang yang mewakafkan harus jelas dan terperinci sehingga tidak akan terjadi kesalah gunaan manfaat dari barang yang diwakafkan
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: