Manisnya Maaf

Ada cerita di zaman dahulu tentang seorang majikan muslim yang memerintahkan budak laki-lakinya menyiapkan air panas untuk mandi. Si majikan telah bersiap mandi ketika budaknya datang membawa sebaskom air panas. Entah apa yang sedang dipikirkan budak kulit hitam tersebut, ketika dia berjalan menghampiri majikannya, kakinya tersandung dan air dalam baskom pun tumpah mengguyur majikannya.
Si majikan merah padam mukanya seperti puncak gunung yang sudah siap mengeluarkan lahar panas. Sementara itu budak kulit hitam bersimpuh pasrah, seluruh tubuhnya menggigil. Ketika majikannya mendekat dan akan melayangkan tangan ke arah wajahnya, budak kulit hitam berkata;
“Wahai tuan hamba, saya akan mengingatkan tuan dengan perkataan Allah swt. ‘Dan orang-orang yang menahan amarahnya”
Mendengar budaknya membacakan potongan ayat Al-Qur’an, si tuan menarik kembali tangannya kemudian dia berkata;
“Baik, karena Allah aku tidak akan marah padamu”
“Dan memaafkan (kesalahan) manusia” budak melanjutkan ayat Al-Qur’an
“Aku maafkan semua kesalahanmu” timpal si tuan
“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” si budak mengakhiri kutipan ayat Al-Qur’an
“Demi Allah hari ini juga aku membebaskanmu, kamu adalah seorang manusia yang bebas sekarang”
Maaf seringkali sukar untuk diberikan kepada orang yang telah berbuat salah karena kita tidak rela orang yang menyakiti hati terbebas begitu saja setelah kita berikan maaf. Bagi kita manusia biasa setiap yang salah harus terlebih dahulu mendapatkan balasan setimpal atas kesalahanya sebelum mendapatkan maaf. Karena kita berasumsi bahwa semakin maaf diobral maka semakin merajalela orang berbuat keburukan.
Dalam sebuah keadaaan terkadang kita sama sekali tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain. Seorang istri yang mendapatkan sauminya berselingkuh sulit untuk memberikan maaf, seorang majikan yang menangkap basah karyawannya melakukan penyelewengan keuangan perusahaan sulit untuk memberi maaf, seorang guru yang mendapatkan muridnya membantah dia di depan kelas juga sulit memberi maaf. Dan masih banyak lagi contoh-contoh dimana kita sebagai manusia sering tidak rela memaafkan kesalahan orang lain kepada kita.
Padahal jika kita balik keadaan menjadi kita yang melakukan kesalahan kepada orang lain tentunya kita sangat berharap akan mendapat maaf. Jika kita kedapatan selingkuh karena tidak tahan terhadap godaan teman sekantor maka otomatis kita ingin dimaafkan dan kemudian berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Kenapa kita bisa menuntut orang untuk memaafkan jika ketika orang berbuat salah kita tidak bisa memaafkan?
Ada perumpamaan yang sangat indah bagi orang yang ingin melatih diri agar bisa memaafkan kesalahan orang lain. Ketika seseorang melukai hati anda atau melukai fisik anda dan anda merasa marah karenanya, maka ambillah sepotong ranting kemudian tulis kesalahan orang tersebut di atas pasir pantai. Anda bisa menulis sebanyak-banyaknya ungkapan kekesalan dan rasa sakit yang bersemayam dalam hati. Setelah beberapa saat anda boleh kembali melihat lagi tulisan tersebut yang perlahan disapu air laut. Demikianlah cara memaafkan orang lain, seolah-olah kesalahan yang mereka buat hanya temporer dan hati anda kembali akan bersih dari kekesalan seperti sedia kala sebelum terjadi kesalahan.
Semua orang yang menyimpan kesal dalam hati pasti merasakan kesesakan. Pikiran dan perasaannya dipenuhi berbagai penyakit yang menggerogoti dirinya dari dalam sehingga orang yang sedang kesal bisa menghabiskan hari dengan mengurung diri, menumpahkan air mata atau menyumpah serapahi semua hal.
Jika kekesalan yang dibiarkan bisa demikian merusak kenapa kita masih sulit untuk memaafkan? Bukankah dengan merelakan kita akan terlepas dari segala beban yang menyesakkan dada?. Tentunya para pemaaf telah merasakan bagai mana manisnya buah dari maap. Seperti mengeluarkan kotoran dari perut, kata maap yang benar-benar datang dari ketulusan hati membebaskan kita dari kotoran berupa kekesalan, kedengkian dan mungkin dendam. Walhasil setelah semuanya keluar kita pun akan merasakan kelegaan, plong seperti baru keluar dari kamar mandi.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: