Pesantren, dari Tradisional Menuju Modern

Pesantren yang telah diletakkan pondasinya oleh Walisongo dan kemudian menyebar hingga ke segala penjuru Indonesia telah menjelma menjadi institusi pendidikan yang menjadi bagian dari proses pencetakan generasi bangsa. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda, tahun 1831 di Jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah dengan jumlah santri tidak kurang dari 16.500 orang. Pada masa kemerdekaan berdasarkan laporan departemen Agama RI tahun 2001 jumlah pesantren di Indonesia mencapai 12.312 buah.[1] Sedangkan menurut catatan Departemen Komunikasi dan Informasi ada sekitar 63 ribu pesantren di Indonesia saat ini.[2]

Dari sekian banyak pesantren para pakar membagi menjadi dua kelompok; pesantren salaf (tradisional) dan pesantren modern. Menurut Zamakhsyari Dhofier, (dalam Wahjoetomo, 1997: 83) pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Sedangkan sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan, yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Sistem pengajaran pesantren salaf memang lebih sering menerapkan model sorogan dan wetonan. Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang berarti waktu. Disebut demikian karena pengajian model ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang biasanya dilaksanakan setelah mengerjakan shalat fardhu.

Sedangkan pesantren modern adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti; MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/SMK dan bahkan PT dalam lingkungannya (Depag, 2003: 87). Dengan demikian pesantren modern merupakan pendidikan pesantren yang diperbaharui atau dimodernkan pada segi-segi tertentu untuk disesuaikan dengan sistem sekolah.

Proses transformasi dari tradisional menuju modern dalam pengembangan institusi pesantren tidak terlepas dari tuntutan zaman. Jika pada era awal penyebaran Islam pesantren hanya mengajarkan ilmu agama Islam, hal itu karena kebutuhan umat yang baru meninggalkan kepercayaan lamanya akan ilmu agama untuk menjalankan syariat sebagai muslim. Kemudian di zaman penjajah pesantren tetap bertahan dengan pengajaran ilmu agama Islam, hal itu karena ikhtiar para kiyai yang menganggap program membentengi umat dari ancaman akidah kristiani yang dibawa oleh penjajah merupakan amalan utama. Adapun di akhir masa penjajahan, beberapa orang kiyai di pesantren mulai menerapkan sitem klasikal bahkan ada yang mulai mengajarjan ilmu umum, hal itu pun dilakukan sesuai dengan kebutuhan umat.

Gontor sebagai pelopor pesantren modern di Indonesia ketika awal berdiri pada tahun 1926 masih mengadopsi system salafi. Salah satu tokoh trimurti, KH. Zaenuddin Fananie memandang bahwa tantangan masa depan bagi umat Islam Indonesia bukan hanya penjajah Belanda dengan agama Kristennya, namun tantangan sebenarnya adalah aktualisasi diri umat terhadap zaman yang terus menunjukkan perubahaan menuju modernitas. Pemikiran beliau tentang aktualisasi umat ditungkan dalam buku yang berjudul Pedoman Pendidikan Modern pada tahun 1934. Buku yang visioner ini menjadi rujukan utama peralihan Gontor tradisional menjadi Gontor modern yang hingga kini hegemoninya masih dirasakan oleh masyarakat Indonesia.[3]

Maka transformasi pesantren dari tradisional menuju modern bukanlah sikap ikut-ikutan. Modernitas pesantren murni buah dari renungan serta pemikiran para tokoh Islam Indonesia yang merasa perlunya aktualisasi umat terhadap zaman. Roh modernitas pesantren bukan sekedar mengikuti tren pasar, malainkan refleksi dari nilai Islam yang rahmatan lil alamin.


[1]LIhat,  H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal.15.

[2] Lihat, www.depkominfo.go.id

[3] Lihat, Tasirun Sulaiman, Wisdom of Gontor, hal. 61-62.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: