Yatim

Yatim adalah istilah untuk anak yang ditinggal meninggal ayahnya. Dalam Islam anak yatim memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Al-Qur’an berulang-elang menyebut anak yatim dalam beberapa surat diantaranya adalah Al-Baqarah

“Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah : 220)

Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada anak yatim dengan cara menyantuninya, mengurusi keperluannya, berkata lemah lembut, memberikan pendidikan yang layak dan menjaga harta bendanya jika dia memiliki harta peninggalan dari ayahnya.

“……..dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS An-Nisa : 127)

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (QS An-Nisaa : 5)

Selain memerintahkan berbuat baik kepada anak yatim, Allah juga melarang kita berbuat buruk kapada anak yatim. Bahkan perlakuan buruk terhadap anak yatim dianggap sebagai pendustaan terhadap agama.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,(QS Al-Maa’uun : 1-2)

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”(QS Ad-dhuha : 9)

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS An-nisaa : 10)

Bahkan Rasulullah saw menyatakan bahwa seorang yang mengurus dan melindungi anak yatim akan bersama-sama beliau di sorga seperti telunjuk dan jari tengah.

Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini.” (beliau menunjukan jari telunjuk dan jari tengah dengan merapatkan keduannya). (HR. Bukhari)

Keutamaan lain dari mengasuh anak yatim dengan baik dan tulus adalah terbebsa dari siksa dan diperlakukan dengan baik diakhirat kelak

“Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. ……………….” (HR. Ath-Thabrani)

Rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan baik adalah sebaik-baiknya rumah, sebaliknya seburuk-buruknya rumah adalah rumah yang dihuni anak yatim yang diperlakukan kurang baik oleh penghuni rumah tersebut.

“Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk.” (HR. Ibnu Majah)

Anak yatim seperti halnya fakir miskin berhak mendapatkan sedekah dan bagian dari harta rampasan perang

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Anfal : 41)

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS Al-Hasr : 7)

Masa menjadi yatim bagi anak yang ditinggal meninggal ayahnya adalah sebelum dia mencapai usia baligh. Ketika anak tersebut sudah mencapai baligh maka dia sudah bukan anak yatim lagi dan berhak atas pengelolaan harta peninggalan ayahnya.

“Tidak disebut lagi anak yatim bila sudah baligh.” (HR. Abu Hanifah)

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.” (QS An-Nisaa : 2)

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: