Disorientasi Ilmu Wabah Paling Berbahaya Di Dunia

Pada permulaanya ilmu dikembangkan untuk kemaslahatan hidup manusia, sebagaimana nenek moyang kita menggunakan batu untuk dijadikan alat bercocok tanam. Namun pada perkembangannya banyak terjadi penyelewengan, hal ini terkait dengan kepentingan manusia untuk berkuasa. Ilmu berubah wujud menjadi senjata untuk menaklukan sesama manusia.

Nabi Nuh As diberi ilmu oleh Allah Swt untuk membuat sebuah perahu besar yang gunanya untuk menyelamatkan umat beriman dari banjir bah.

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ

“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS: Al-Mu’minun : 27)

Namun pada masa akhir reconquista (1492) di Spanyol yang menjadi titik balik kemajuan dunia Barat sebagaimana nampak hingga sekarang, para pelaut Spanyol dan Portugis menggunakan kapal sebagai jalan untuk menemukan daerah jajahan. Setelah Christoper Colombus menemukan benua Amerika (1492) dan Vasco da Gama menemukan jalan ke Timur melaluiTanjung Harapan (1498), benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan Eropa.[1]

Fenomena diorientasi ilmu yang nampak jelas di zaman kita sekarang tidak lepas dari peranan para ilmuan seperti Albert Einstenin. Pada tanggal 2 Agustus 1939 Albert Einstein menulis surat kepada presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt yang memuat rekomendasi mengenai serangkaian kegiatan yang kemudian mengarah kepada pembuatan bom atom.[2]

Meskipun tujuan Einstein untuk meredam kekuatan jahat yang pada waktu itu diwakili oleh Hitler dengan Nazinya, namun penggunaan bom atom selanjutnya hanya menyisakan kehancuran. Maka ilmu kemudian menjadi kambing hitam adalah karena motivasi dari manusia yang menyalah gunakannya untuk kepentingan pribadi atau golongan.

Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan kemanusiaan, atau sebaliknya dapat pula disalahgunakan. Pada dasarnya ilmu atau pengetahuan bersifat baik dan bertujuan untuk kemaslahatan. Masalahnya adalah sekira seorang ilmuan menemukan sesuatu yang menurut dia dapat merugikan kemanusiaan, apakah dia menghilangkan temuanya itu atau tetap dipublikasikan?

Pertanyaan ini terjawab setelah majalah Fortune mengadakan angket yang ditujukan kepada ilmuan Amerika Serikat. Sebanyak 78 % ilmuan perguruan tinggi, 81 % ilmuan di bidang pemerintahan dan 78 % ilmuan di bidang industry berkeyakinan bahwa seorang ilmuan tidak boleh menyembunyikan penemuannya. Hal ini berarti hampir seluruh ilmuan Amerika Serikat setuju untuk publikasi segala macam penemuan meskipun sudah nyata dampak buruknya.[3]

Kesepakatan para ilmuan Barat untuk mempublikasikan setiap temuan ilmiah meskipun mengandung bahaya bagi kemanusiaan tidak lepas dari keyakinan mereka ‘ilmu untuk ilmu’. Ketika ilmu hanya diperuntukan bagi ilmu maka yang terjadi adalah kebenaran ilmu tergantung kepada siapa yang menggunakan ilmu tersebut. Dan ilmu selama memberikan keuntungan materil kepada penemunya dan orang yang membiayai penemuan tersebut akan selalu menjadi baik, meskipun pada kenyataanya merusak. Maka tidak aneh jika nilai kemanusiaan saat ini tergantung kaca mata para pemimpin bangsa Barat.

Ilmu sudah tidak lagi terkait dengan nilai-nilai lain selain dirinya sendiri, pandangan ini secara gamblang menunjukan jenis pemujaan baru di zaman modern. Jika dahulu orang menyembah gunung karena tidak kuasa menahan letusannya, memuja laut karena bergantung hidup kepadanya, memuja matahari karena dianggap memiliki kekuatan natural yang maha dahsyat, maka sekarang manusia memuja ilmu sebagai Tuhannya.

Proses Tuhanisasi ilmu tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang melibatkan gereja Katolik Roma dengan seorang ilmuan bernama Galilie Galileo (1564-1642). Galileo yang mayakini konsep heliosentrisme Copernicus (1473-1543) bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya matahari yang mengelilingi bumi sebagaimana kepercayaan gereja, diseret ke pengadilan agama dan dipaksa untuk mencabut pernyataanya.

Pengadilan inkuisisi Galileo ini selama kurang lebih dua setengah abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa, yang pada dasarnya mencerminkan pertarungan antara ilmu yang ingin terbebas dari nilai-nilai di luar bidang keilmuan dan ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan yang ingin menjadikan nilai-nilainya sebagai penilaian metafisik keilmuan. Dalam kurun ini para ilmuan berjuang untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya dengan semboyan: ilmu yang bebas nilai[4]

Dengan adanya sekularisasi ilmu, ilmu dipisahkan dari agama karena ilmu tidak ada kaitanya dengan agama maka mulai saat itu ilmu sudah tidak bermanfaat. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf ayat 26

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.”       


[1] Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam, hal. 174.

[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat…, hal.246

[3] Ibid, hal. 249

[4] Jujun S, Filsafat Ilmu, Hal. 233

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: