Bekerja Karena Masih Mau Makan

Matahari di atas langit leuwiliang terasa terik saat jam di tangan menunjukkan angka 1 lewat 40 menit. Sambil menunggu mobil dimandikan, saya nyalakan hape. Membuka jejaring sosial dan menulis. Tangan saya masih sibuk memencet hurup-hurup, ketika di pinggir jalan bayangan setengah bungkuk memikul beban melintas di depan mata. Aktivitas menulis saya hentikan, demi melihat sosok yang sangat menarik perhatian.

Saya panggil si bapak agar menepi. Perlahan orang tua itu menghampiri. Di sebelah kanan dan kirinya tergantung sepasang keranjang yang disatukan oleh dua utas tali yang menggantung di sebatang bambu tanggungan. Potongan bambu itu masih nempel di pundaknya, seolah tidak ingin lekas dilepas.

“Icalan naon, Bah?”

Sebenarnya tanpa menanyakan dagangannya, saya sudah bisa melihat dengan jelas benda apa saja yang mengisi keranjang anyaman bambunya. Beberapa buah pepaya, tiga pelastik merah berisi tape, beberapa pelastik hitam berisi rambutan dan delapan pelastik putih berisi masing-masing satu sisir pisang yang digantungkan di ujung2 tanggungan bambu.

“Sadayana nu abah?”

Ditanya demikian si kakek yang kira2 hampir memasuki usia 70 menggeleng.

“Nu batur, abah mah teu gaduh”

Ternyata beberapa macam dagangan yang alakadarnya tersebut titipan orang. Dia hanya menjualkan, dan berharap mendapat bagian keuntungan yang itupun tidak seberapa.

“Masih gaduh istri, bah” sengaja saya bertanya demikian, karena sering kali saya mendapatkan laki-laki tua yang bekerja keras di usia senja hanya karena saat istri pertamanya meninggal dia nikah lagi dengan perempuan yang lebih muda. Sehingga di masa yang seharusnya beristirahat, dia masih harus memeras keringat.

“Muhun, masih keneh hoyong emam jadi masih kudu digawe, jang”

Jawaban si Abah menyiratkan kebenaran dari asumsi saya. Namun ketika ditanya lebih jauh, ternyata dugaan saya salah. Abah dan istrinya sama-sama tua, hidup tanpa bantuan sanak saudara.

“Abah gaduh putra?”

“Gaduh, tapi sadayana hirupna susah. Bahela nuju alit hente disakolaken jadi ayena hese hirup, kur bisa jadi kuli macul”.

Terlihat gurat kesedihan bercampur dengan penyesalan dari mata lelaki tua penjual keliling ini. Keadaan memaksa anak2nya putus sekolah, dan keadaan inilah yang membuat dia menahan sesak di dada. Mungkin dia berandai, jika anaknya disekolahkan tidak akan menjadi seorang kuli. Jika anaknya bisa hidup lebih baik tentu diapun bisa mencicipi kebaikan itu. Sebuah pengandaian yang hanya menambah luka tentunya, karena sekarang bukan dulu. Dan yang dulu sudah terlewat, tidak akan mernah kembali kecuali lewat angan.

“Gedang sabaraha artos?”

Dua buah pepaya dan dua pelastik pisang berpindah tangan. Saya sodorkan uang, untuk membeli seharga barang2 tersebut dan seharga waktu si abah yang saya sita saat banyak bertanya. Tangan keriput itu menerima uang. Ada getaran yang saya rasakan saat tangan saya menyentuh si Abah. Getaran yang langsung menjalar sampai ke hati saya. Si Abah dengan penuh tabah menyampaikan rasa terima kasih. Saya pun membungkuk menyalaminya. Tidak ada kata2, hanya selaksa doa semoga lelaki tua pejuang keluarga ini tetap diberi berkah kekuatan untuk menuntaskan hidup yang mungkin tidak beberapa lama lagi.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: