Sebuah Fenomena di Bogor

Di bogor ternyata yang jadi fenomena bukan hanya angkot dan kemacetan yang dibuatnya. Di arah utara bogor, jalan menuju parung sebuah fenomena terbujur. Bukan karena kontroversi, bukan juga iklan basi, juga bukan karena pintar cari sensasi. Tapi ini murni, hukum alam yang berbunyi. Bahwa setiap pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan akan membuahkan kepuasan. Bukan hanya bagi orang yang kecipratan manfaat namun si pengabdi sendiri menikmati sensasi bahagia dari pengabdianya.
Saat tulisan ini ditulis, saat itu juga saya sedang menikmati cipratan pengabdian tersebut. Dan bukan hanya saya sendiri, di tengah malam masih banyak yang mengantri untuk mendapatkan cipratan ketulusan.
Dia bukan dokter yg menghabiskan banyak modal di bangku kuliah. Dia hanya seorang mantri yang diberi anugerah berupa keahlian. Bahkan keahliannya ini melebihi dokter spesialis. Setiap hari lebih dari 70 pasien mengantri dari siang hari sampai menjelang pagi. Jika hitungannya materi, saya yakin dia lebih memilih tidur dari pada melayani orang sakit gigi. Dia tetap melayani keluhan dan kesakitan yang dibawa orang ke tempat prakteknya. Dan saya yakin dia manusia biasa yang punya rasa kantuk, lelah dan penat, tapi setiap kali menerima keluhan pasien tidak pernah terlihat keengganan di wajahnya. Dan saya yakin, ini semua karena pemahamannya yang sangat mendalam tentang arti sebuah pengabdian.
Mengapa orang ramai mengantri di kliniknya? Bahkan ada yang sengaja datang dari penjuru bogor (saya contohnya) juga beberapa orang dari luar Bogor. Deretan motor yang berbaur dengan mobil-mobil, menunjukkan betapa klinik gigi ini mendapat kepercayaan dari berbagai lapisan orang.
Memang jika dilihat dari segi ekonomi, berobat ke klinik ini jauh lebih murah dibanding yang lainnya. Sekali cabut, tambal atau reparasi cuma dihargai 50rb saja. Jangan bandingkan dengan dokter gigi! Sepertinya bukan hanya murah terjangkau,  kedatangan pasien juga terkai dengan kualitas pelayanan serta penambalannya yang sudah teruji. November 2010 saya datang ke sini untuk tambal, sampai sekarang masih belum ada keluhan. Adapun sekarang saya datang lagi, karena ada gigi lain yang bermasalah.
Melihat fenomena ahli gigi di daerah semplak ini, saya jadi teringat pesan seseorang yang entah kapan dia mengatakan tapi substansinya masih teringat. “Tidak perlu kita mencari perhatian orang apalagi meminta-minta, jika kita sudah menunjukan perhatian kepada orang dalam bentuk yang bisa dirasakan maka dengan sendirinya orang akan datang”

Leave a comment

4 Comments

  1. wulan

     /  June 30, 2013

    Wah mas,ini yg saya cari,dokter gigi dengan pengabdian. Boleh tau alamatnya dimana
    ? Saya sangat membutuhkannya. Terima kkasih

    Reply
  2. Terimakasih atas infonya. Mohon maaf, bisa mohon informasi nama mantrinya?

    Reply
  3. ade

     /  April 8, 2014

    Klo blh tau alamat jlsnya dmn gan? Nama tukang giginya siapa? Tq

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: