Cerita Haji Tukang Tambal Ban

Cerita ini diperoleh dari penuturan guru kita. Beliau menyampaikannya pada saat rapat bulanan guru di UQI. Semoga menginspirasi kawan-kawan semua.
Seorang tukang tambal ban terbangun di tengah malam. Ketukan di pintu dibarengi dengan suara memanggil dari luar, membuyarkan mimpi. Udara malam benar-benar mengiris diding kulit, namun dia tetap ke luar.
Seorang laki-laki berdiri tepat di pintu bengkel sekaligus tempat tinggalnya. wajah lelaki asing itu kusut, nampak guratan kantuk di kelopak mata. Mungkin dia sudah lama berjalan menerobos gelap. Ingin pulang setelah berkeringat menyelesaikan pekerjaan. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seonggok mobil hitam terbujur membisu.
“Ban mobil saya kempes”
Sebuah kalimat yang sudah biasa didengar tukang tambal ban. Tapi kalimat itu terasa sedikit berat di malam pekat yang diselimuti dingin.
Tukang tambal ban harus merapihkan hatinya. Sebagai manusia biasa dia merasakan kekesalan. Di tengah malam dibangunkan, hanya untuk menambal ban. Ongkos menambal tidak bisa mengembalikan lelap tidurnya. Uang 15,000 tidak setimpal dengan ketergangguan yang dia rasakan.
Setelah menyadari profesinya, ditambah lagi rasa kemanusiaan (orang miskin juga memiliki rasa belas kasihan kepada yang kaya, he…) tukang tambal ban mulai beraksi.
Setelah hampir satu jam, di tengah angin malam yang menusuk tulang si Tukang tambal berhasil menyelesaikan tugasnya. Ban mobil kembali bagus dan bisa membawa pergi si empunya kemana ia mau.
“Terima kasih pak, ini ongkosnya” Si tamu menyodorkan uang lembaran rupiah berwarna merah.
“Maaf pak, saya tidak punya kembaliannya.” mendengar jawaban tukang tambal ban, si tamu kebingungan. Isi dompetnya penuh dengan kertas berwarna merah. Sebenarnya ada di laci mobil uang receh, namun belum mencukupi tarif tambal ban.
Melihat tamunya kebingungan, si tukang tambal ban memecah kebuntuan.
“Sudah pak, nanti kapan2 kalau lewat sini, bapak bisa bayar.”
Si tamu tersenyum malu. Setelah membungkuk tanda hormat, dia menyalakan mobil dan pergi meningalkan tukang tambal ban.
Beberapa hari berlalu, minggu pun berganti. Tukang tambal ban tetap setia dengan profesinya. Menambal untuk menghidupi keluarga menjadi pilihan yang baik menurutnya. Dia sudah melupakan peristiwa terbangun tengah malam untuk menambal ban. Baginya ini hal lumrah, bentuk dari pengabdian terhadap profesi.
Saat tukang tambal ban duduk menunggu pelanggan, sebuah mobil berhenti di depan bengkelnya. Seorang laki-laki keluar, menguluk salam.
“assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”
Laki-laki berdasi mengulurkan tangan. Dua tangan laki-laki berbeda profesi beradu.
“Bapak, masih ingat saya?”
“Maaf saya lupa.”
Si lelaki menceritakan kejadian tengah malam ketika ban mobilnya bocor. Pada saat itu dia sedang dikejar waktu. Berjalan tengah malam untuk memenuhi undangan klien bisnis. Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia karena dia mendapatkan tender ratusan milyard.
“Alhamdulillah, berkat pertolongan bapak, saya sampai tempat tujuan tepat waktu. Maaf baru bisa kembali. Minggu lalu saya masih sibuk urus tender. Sekarang semuanya sudah selesai”.
Mendengar cerita tamunya, tukang tambal hanya tersenyum. Dia ikut senang dengan kebahagiaan orang yang pernah dia tolong tersebut.
“Sebagai rasa terimakasih saya kepada bapak, insaallah saya ingin membantu.”
“Tidak usah repot-repot, pak. Memang sudah tugas saya menambal ban kempes”
“Memang sudah menjadi tugas bapak, menolong. dan karena saya sudah ditolong, maka sekarang menjadi tugas saya untuk berterima kasih”
Ada hening di tengah lalu lalang kendaraan di jalan. Ada bisikan lembut di hati si tukang tambal ban. demikian juga terdesir bisikan lembut di hati si pengusaha yang pernah ia tolong.
“Saya berencana mendaftarkan bapak dan istri ke KBIH. Semoga tahun ini bapak dan istri bisa pergi haji. Semua biaya pemberangkatan dan juga persiapan menjadi tanggungan saya. Semoga bapak berkenan. Anggap saja ini panggilan langsung dari Allah agar bapak berziarah ke baitullah.”
Bulir air hangat merembesi mata tukang tambal ban. Dia tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci, lidahnya kaku. dalam hati dia hanya bisa bersyukur seraya melafadzkan talbiyyah. Sebuah doa yang ternyata sudah sampai pada Sang Pencipta. Allah sudah mendengar dan sekarang mengabulkan cita-citanya.

Labaik Allahuma Labaik
Labaika la syarika labaik

Like ·  · Unfollow Post

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: