Pak Kiyai Mau Disertifikasi?

Mang Udin pusing tujuh keliling. Kesedihan masih menggelantung di kedua kelopak matanya. Istri tercinta baru dua hari meninggalkan dunia yang fana. Sekaligus meninggalkan mang udin dan kedua anaknya. Biaya untuk pemakaman sudah menguras sebagian tabungan. Uang yang tidak seberapa itu bertambah menjadi tidak ada apa2 jika dihitung sampai tahlilan ketujuh almarhumah.

Kepusingan mang Udin yang tambah jadi bukan hanya karena harus mengeluarkan uang buat biaya tahlilan sampai tujuh hari. Tukang sayur keliling itu harus ikut pusing setelah mendengar kabar burung dari langganannya. Ibu2 komplek lagi rame ngerumpi tentang sertifikasi ulama. Konon mereka mendengar obrolan suaminya yang mendapat informasi langsung dari televisi. Ibu2 yang jarang nonton berita hanya mendengarkan saja ocehan suaminya.

“Ulama harus disertifikasi karena sekarang sedang marak teroris.”

“Pelaku teror semuanya beragama Islam dan membawa2 Al-Qur’an sebagai pedoman aksinya.”

“Ulama sebagai tokoh agama Islam mempunyai andil yang tidak kecil dalam permasalahan teroris.”

“Jadi ulama harus disertifikasi karena biar jelas mana ulama yang mengajarkan ilmu sama ulama yang mengajarkan perang.”

Begitu kira2 hasil kupingan mang Udin dari rumpian ibu2 yang sudah lama berlangganan sayur kepadanya.

Sertifikat itu yang membuat mang Udin pusing tujuh keliling. Mang Udin bukan manusia kuper yang tidak tahu menahu tentang sertifikat. Dari dulu sudah mendengar dan tahu bahwa sertifikat itu resmi. Segala sesuatu yang ingin resmi harus ada sertifikatnya. Tanah kalau mau resmi harus pake sertifikat. Motor juga ada sertifikatnya. Makanan yang dijual juga harus ada sertifikatnya kalau mau dianggap resmi. Tapi berhubung mang Udin jualan sayuran yang hanya bisa bertahan beberapa hari saja jadi sertifikat enggak perlu. kan katanya sertifikat itu buat jangka waktu yang panjang.

Mang udin yang sedang kehilangan istri harus memutar otak berkali-kali. Acara tahlilan baru berlangsung dua kali, berarti dia harus melaksanakan ritual itu lima kali lagi. Dua hari kemarin mang udin sebagai tuan rumah yang baik memberi amplop kepada pak kiyai. Tanda terima kasih itu diberikan alakadarnya kepada pak kiyai sebagai pemimpin tahlil.

“Berapa rupiah amplop yang diminta kiyai untuk satu kali tahlil?”

Perkara ini yang membuat mang udin pusing. Tanah yang masih akte bisa murah, tapi kalau sudah sertifikat maka harganya meningkat. Guru yang belum sertifikat dibayar satu kali gajian, tapi yang sudah sertifikat jadi dobel gajiannya. Kira2 pak kiyai kalau sudah punya sertifikat minta berapa untuk sekali tahlil?

Kalau dua kali lipat, sepertinya mang udin menyerah. Dua hari yang sudah lewat saja cukup bikin seret, apalagi kalau ditambah dengan lima hari yang berbiaya dobel. Mang Udin jadi ingin kepengen marah sama yang usul tentang sertifikat. “Kiyai kok disertifikat, jadi bikin beban rakyat tambah saja”. Gumamnya dalam hati.

 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: