Manajemen Kepemimpinan di Sekolah

Sebagaimana disepakati oleh para praktisi pendidikan bahwa pendidikan bisa berjalan karena dibangun oleh beberapa komponen dasar seperti: guru, siswa, kurikulum, bangunan, fisik, media pembelajaran dan sebagainya. Namun dari kesemua yang dianggap mendasar itu, faktor komponen manusia yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan.[1]

Sebuah lembaga pendidikan yang dijalankan secara profesional tentunya memiliki sumber daya manusia yang memadai. Sumber daya tersebut berupa kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Dalam menentukan arah serta kebijakan sekolah tentunya fungsi kepala sekolah menjadi sangat urgen. Berhasil tidaknya sekolah dalam mencapai tujuannya tergantung visi kepala sekolah, karena kendali pengelolaan sekolah berada di tangannya. Kepala sekolah adalah the leader di sekolahnya.

Stephen R. Covey dalam buku Leader to Leader menulis, “Leadership is really an enabling art. The purpose of school is educating kids, but if you have bad leadership, you have bad education. The purpose of medicine is helping people get well, but if you have bad leadership, you have bad medicine.”[2] Mengelola sekolah dengan baik bukanlah pekerjaan mudah. Banyak persoalan-persoalan dilematis seperti rutinitas menumpuk, tuntutan antara kualitas dan kesejahteraan, serta pola kepemimpinan demokratis, memerlukan pendekatan solutif yang lebih konprehenship.[3]

Mengingat beratnya proses pengelolaan pendidikan di sekolah, maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus memahami seni memimpin. Dalam kata lain kepala sekolah harus menjadi manajer-leader di sekolah yang mengerti serta menerapakan manajemen kepemimpinan.

Telah dibahas di sub-bab pertama tentang definisi manajemen dan kepemimpinan. Bahwasanya manajemen bersifat formal dan teratur sedangkan kepemimpinan bersifat fleksibel dan bebas. Manajer adalah orang yang melaksanakan manajemen, sedangkan leader adalah orang yang memiliki jiwa kepemimpinan. Maka bisa dikatakan tidak semua manajer bisa menjadi leader tapi setiap leader pasti bisa menjadi manajer.

KH. Toto tasmara dalam buku Spiritual Centered Leadership memberikan gambaran tentang perbedaan antara manajer dan leader. “Manajer bagaikan seorang yang mengendarai kendaraan. Dia harus terampil dan meyakinkan bahwa kendaraannya berada dalam kondisi yang baik untuk menempuh perjalanan. Sedangkan kepemimpinan berhubungan dengan kemampuan menentukan arah dan memastikan bahwa kendaraan berada dalam jalan yang sesuai dengan peta yang ditetapkan.Manajer bekerja sesuai dengan sistem, sedangkan kepemimpinan memperbaiki sistem serta membuat arah, tujuan, dan segala hal yang berkaitan dengan esensi dan substansi. Manajer berbicara tentang apa yang harus dikerjakan, kepemimpinan berbicara tentang mengapa dan apa akibatnya bila hal tersebut harus dikerjakan.”[4]

Kepala sekolah sebagai manajer

Sebagai seorang manajer, kepala sekolah harus mengatur sekolahnya sesuai dengan prinsip-prinsip umum manajemen. Menurut Henry Fayol, prinsip tersebut terdiri dari:

  1. Pembagian kerja/tugas

Ketika akan melaksanakan pembagian kerja, kepala sekolah terlebih dahulu harus memetakan tugas dan sumber daya yang akan melaksanakan tugas tersebut. Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Kepala sekolah harus mengikuti prinsip the right man in the right place and in the right time.

Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subjektif yang didasarkan atas dasar like and dislike. Dengan adanya prinsip the right man in the right place akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja.[5]

  1. Wewenang dan tanggung jawab

Selain melakukan pembagian kerja, sebagai manajer kepala sekolah harus memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada bawahannya. Wewenang merupakan senjata bagi orang yang diberikan tugas untuk melaksankan tugasnya dengan semaksimal mungkin sedangkan tanggung jawab adalah pekerjaan yang harus diselesaikan. Seseorang yang mendapat pekerjaan berat tentunya harus diberi wewengan yang lebih besar, sehingga terjadi balance antara tanggung jawab dan wewenang.

  1. Aturan dan Disiplin

Aturan adalah tata cara bekerja yang disetujui bersama dan harus dilaksanakan oleh semua komponen yang berada di dalam lingkungan tersebut. Agar suasana kerja di sekolah tertib dan teratur maka harus disusun peraturan. Peraturan yang akan diterapkan kepada seluruh masyarakat sekolah harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari mereka, karena peraturan akan dijalankan apabila orang yang berkewajiban menjalankan memahami dan mengerti pentingnya peraturan tersebut bagi mereka.

Disiplin adalah prilaku yang taat peraturan. Kepala sekolah perlu membudayakan disiplin di lingkungan sekolah agar seluruh komponen bisa mengikuti. Disiplin merupakan faktor utama dari keberhasilan sebuah instansi.

  1. Kesatuan perintah dan pengarahan

Pemahan terhadap kesatuan perintah dan pengarahan sangat penting dimiliki oleh seluruh komponen sekolah. Dalam melaksanakan tugasnya, bawahan harus memperhatikan kepada siapa dia bertanggung jawab oleh karenanya dia harus mendengarkan perintah juga arahannya.

  1. Penggajian

Kepala sekolah harus peka terhadap kebutuhan bawahannya. Sistem penggajian merupakan nyawa bagi sekolah yang kaitannya dengan semangat kerja. Gaji atau upah harus disesuaikan dengan tingkat tanggung jawab dan juga kemampuan profesionalitasnya. Ketidak sesuaian antara uapah dengan tanggung jawab bisa berakibat terjadinya kekacauan yang pasti akan merugikan sekolah.

Selain lima hal diatas sebagai manajer kepala sekolah juga harus memahami serta melaksanakan definisi manajemen, sebagaimana dijelaskan oleh Ricky W. Griffin, manajemen adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien.[6]


[1] Abdul Munir, Seni Mengelola Lembaga Pendidikan Islam, hal. 5.

[2] Stephen R. Covey, Leader to Leader, hal. 5.

[3] Abdul Munir, Seni Mengelola, hal. 59.

[4] KH. Toto Tasmara, Spiritual, hal. 171-172.

[5] Prof. Dr. Nizar Ali, Ibi Syatibi, Manajemen Pendidikan Islam, hal. 76.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: