Balada Mahasiswa Pekerja

Ini kisah tentang seorang anak kampung. Tinggal di lingkungan yang jauh dari kota. Orang tuanya hanya seorang pengurus masjid. Dia anak pertama. Adiknya lebih dari tiga.

Lulus madrasah aliyah, dia mulai berpikir untuk kerja. Meski dalam hati ada keinginan untuk kuliah, namun dia merasa harus menunda. Kuliah langsung hanya bagi yang punya uang. Dia tidka termasuk. Menyadari kondisi keuangan keluarga, dia memilih untuk bekerja. Alhamdulillah, berkat kebaikan pimpinan pesantren tempat dia belajar, anak kampung ini diberi kesempatan mengajar. Mengabdi, istilah di kalangan santri.

Pengabdian hanya berlangsung satu tahun. Dia harus memutar otak. Mengatur langkah. Karena masa depan masih panjang. Dia bisa saja menyerah pada keadaan. Lapangan kerja di desa sudah menanti. Menjadi marbot masjid, mendampingi ayahnya. Namun itu bukan pilihan utama, meski tidka bisa dibilang buruk. Mengurus masjid adalah pekerjaan mulia. Meski tidak ada jaminan dunia, namun malaikat tentu tidak pernah lupa mencatat. Keikhlasan mengurus masjid pasti dijawab dengan pahala dan sorga.

Dia enggan, bukan karena tidak mau. Anak pertama dari keluarga amat sederhana ini memilih langkah lain. Ayah saya sudah cukup mengabdi di masjid. Anaknya harus mencari langkah yang berbeda. Dia bertekad untuk membuat perubahan. Dia yakit terhadap firman Allah, bahwa perubahan adalah tanggung jawab manusia. Tuhan hanya akan mengiringi seraya mengamini tekad hambanya.

Tanpa ada uang cukup, dia nekat daftar kuliah. Jurusan ekonomi pembangunan adalah pilihannya. Dia ingin merubah hidup kelurganya dengan sekolah. Pilihan jurusan ekonomi menjadi sebuah wasilah dari perubahan yang sedang dia rancang.

Kuliah harus berjalan. Maka dia memutuskan mencari pekerjaan. Ternyata kenyataan tidak semudah impian. Mencari kerja tidak semudah mem-phk. Lowongan pekerjaan sungguh tidak imbang dengan jumlah pengangguran. Mencari kerja yang sesuai dengan keinginan ibarat mencari jarum dalam belukar. Sulit. Harus berkeringat dan itupun tidak menjamin dapat.

Akhirnya dia bekerja. Hari pertama diiringi dengan lara di raut muka sang bunda. Seorang alumni pesantren modern yang sedang kuliah di jurusan ekonomi pembangunan bekerja bareng ibu-ibu kampung. Terdengar celetukan tetangga, “buat apa sekolah jauh-jauh kalau hanya jadi kuli”. Dia juga manusia yang terbuat dari daging dan tulang. Dalam bungkus raga tersebut, tersimpan sebuah benda yang amat sensitif. Hatinya terusik.

Tidak ada banyak pilihan. Perubahan sedang berjalan. Menoleh ke belakang, apalagi mundur hanya akan menghambat perjalanan. Dia memilih maju. Setiap pagi berangkat membawa sapu. Berjibaku dengan ibu-ibu. Membereskan sampah di sebuah pabrik yang kecil. Sebuah pekerjaan yang dianggap rendah oleh orang lain. Namun baginya, ini awal sebuah langkah. Jalinan besar pasti dimulai dari yang kecil. Gedung bertingkat berdiri megah dari butiran pasir dan serpihan semen.

Hari demi hari berlalu. Pagi sampai menjelang sore, anak kampung ini bekerja di pabrik. Menjadi tukang kebun. Tugasnya sama seperti empat orang temannya, yang semuanya wanita setengah baya. Dia mencabut rumput, menyapu daun-daun kering, mmebuang sampah dan membakarnya. Diantara para tukang kebun, dia yang paling ganteng. Diantara tukang kebun dia yang paling muda. Diantara tukang kebun, dia yang paling berpendidikan. Sebuah kenyataan yang membuat dia tersenyum. Hidup harus terus berjalan.

Hampir seratus hari dia bekerja. Membanting tulang demi cita-cita. Berjibaku dengan ibu-ibu. Kuliah pun tetap jalan. Dia masih terus merajut mimpi.

Advertisements

Cerita Seorang Kawan

Seminggu lalu saya kedatangan tamu. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu, berkunjung ke rumah. Teman akrab, satu almamater, satu kelas, tinggal satu asrama dan pernah sama-sama mengabdi di Ummul Quro. Dia telah menetap di pulau Bali sekitar tiga tahun. Meski sering berkomunikasi lewat dunia maya, belum pernah bersua di dunia nyata. Momen silaturahmi tersebut kami gunakan semaksimal mungkin untuk bernostalgia.

Setelah ngalor-ngidul mengingat masa lalu, saya mulai pertanyaan serius. Tentu dengan nada santai. “Gimana ceritanya bisa kerja di Bali?”Teman saya tertawa. Dia memang tipikal periang. Bagaimana pun suasananya tetap dibawa bahagia. Bahkan ketika dia dirawat di rumah sakit karena tabrakan, masih sempat tertawa ngakak.

“Orang kampung bilang saya gila. Istri hamil besar anak pertama malah pergi ke Bali”. Dia menceritakan kronologis kepergiannya ke Bali. Waktu itu istrinya hamil delapan bulan. Dia mengajukan perluasan area bisnis kepada bosnya. Si bos memberi dua alternatif; Jogja atau Bali. Kawan saya memilih Bali setelah melakukan USG. “Gila! bukan istikhoroh malah datang ke dokter kandungan untuk membuat keputusan”, celetuk saya yang dijawab dengan tawa ngakak.

“Begini, saya sebenarnya sudah punya rencana. Jika anak yang ada di kandungan istri perempuan maka, Jagja menjadi pilihan. Tapi kalau anaknya laki-laki maka saya pilih Bali”. Hasil USG dokter menunjukkan jabang bayi yang ada di kandungan istrinya berjenis kelamin laki-laki.

Dengan iringan derai air mata dan isak tangis keluarga, kawan saya membawa istrinya plus dengan janin yang ada di perut menuju bandara Sukarno-Hatta. Setelah beberapa minggu tinggal di Bali, anak pertamanya lahir selamat. Tidak ada sanak saudara, kakek-nenek baik dari pihak ayah atau ibu. Si jabang bayi lahir selamat dengan disaksikan ayahnya.

“Ente nekat banget!”, tersenyum kawan saya menjawab. “Saya ingin mengajani dan mengikomahi anak. Saya ingin menggendong anak. Saya ingin mengurusi anak dan juga istri. Kalau di Bogor, saya tidak bisa maksimal. Masih banyak orang lain yang bisa membantu. Tapi di Bali, tempat asing bagi saya juga istri tidak ada yang membantu seperti di rumah.” Sebuah jawaban yang menghujam dada. Kenekatan seorang teman membuat saya merinding. Ketika saya senang dibantu orang sekitar. Segala hal dilayani. Teman tersebut memilih untuk mandiri. Benar-benar mandiri. Hidup di tengah lingkungan baru. Tanpa ada sanak saudara dan famili. Tanpa ada pembantu.

Teman tersebut mengajari saya tentang arti kemerdekaan. Merdeka dalam artian mampu bersandar pada diri sendiri. Melakukan pekerjaan karena sebuah pilihan. Bukan berdasarkan desakan atau perasaan tidak enak terhadap orang lain. Bravo friend!

Nikah Siri dan Kemiskinan

Pemerintah telah menyulut api kontoversi dengan rencana penerbitan peraturan perundang-undangan yang akan menjerat pelaku nikah siri. Rancangan Undang-Undang Hukum Materil Peradilan Agama (HMPA) yang akan melengkapi Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974, memuat ketentuan pidana (Pasal 143-153), khususnya terkait perkawinan siri, perkawinan mut’ah, perkawinan kedua, ketiga, dan keempat, serta perceraian yang tanpa dilakukan di muka pengadilan, melakukan perzinahan dan menolak bertanggung jawab, serta menikahkan atau menjadi wali nikah, padahal sebetulnya tidak berhak. Ancaman hukuman untuk tindak pidana itu bervariasi, mulai dari 6 bulan hingga 3 tahun dan denda mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 12 juta. (more…)

Cara Cepat Naik Pangkat II

Semua orang menginginkan perubahan dalam hidup. Salah satu indikator dari perubahan tersebut adalah kenaikan status. Dalam strata organisasi stays sering kali disebut sebagai pangkat. Maka kenaikan pengkat menjadi impian semua orang dalam segala bidang. Dokter umum ingin naik pangkat menjadi spesialis. Karyawan ingin naik pangkat menjadi mandor. Pedagang asongan ingin naik pangkat menjadi pedagang yang mangkal di toko. Prajurit ingin jadi perwira. Bupati atau wali kota ingin jadi gubernur. Guru honorer juga ingin diangkat menjadi pegawai tetap. (more…)

Cara Cepat Naik Pangkat

Bagi pegawai istilah pangkat sudah menjadi sahabat. Keadaan dia baik dari sisi kedudukan ataupun keuangan diukur dari pangkat. Demikian juga aparat pemerintahan dari militer. Seorang prajurit tanpa mengecilkan dedikasinya dilihat berdasarkan pangkat. Pangkat juga berlaku bagi guru. Ada guru berpangkat junior, semi senior atau senior. Dalam istilah perguruan tinggi, Dosen, Dosen Kepala dan Guru besar. (more…)