Cerita Seorang Kawan

Seminggu lalu saya kedatangan tamu. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu, berkunjung ke rumah. Teman akrab, satu almamater, satu kelas, tinggal satu asrama dan pernah sama-sama mengabdi di Ummul Quro. Dia telah menetap di pulau Bali sekitar tiga tahun. Meski sering berkomunikasi lewat dunia maya, belum pernah bersua di dunia nyata. Momen silaturahmi tersebut kami gunakan semaksimal mungkin untuk bernostalgia.

Setelah ngalor-ngidul mengingat masa lalu, saya mulai pertanyaan serius. Tentu dengan nada santai. “Gimana ceritanya bisa kerja di Bali?”Teman saya tertawa. Dia memang tipikal periang. Bagaimana pun suasananya tetap dibawa bahagia. Bahkan ketika dia dirawat di rumah sakit karena tabrakan, masih sempat tertawa ngakak.

“Orang kampung bilang saya gila. Istri hamil besar anak pertama malah pergi ke Bali”. Dia menceritakan kronologis kepergiannya ke Bali. Waktu itu istrinya hamil delapan bulan. Dia mengajukan perluasan area bisnis kepada bosnya. Si bos memberi dua alternatif; Jogja atau Bali. Kawan saya memilih Bali setelah melakukan USG. “Gila! bukan istikhoroh malah datang ke dokter kandungan untuk membuat keputusan”, celetuk saya yang dijawab dengan tawa ngakak.

“Begini, saya sebenarnya sudah punya rencana. Jika anak yang ada di kandungan istri perempuan maka, Jagja menjadi pilihan. Tapi kalau anaknya laki-laki maka saya pilih Bali”. Hasil USG dokter menunjukkan jabang bayi yang ada di kandungan istrinya berjenis kelamin laki-laki.

Dengan iringan derai air mata dan isak tangis keluarga, kawan saya membawa istrinya plus dengan janin yang ada di perut menuju bandara Sukarno-Hatta. Setelah beberapa minggu tinggal di Bali, anak pertamanya lahir selamat. Tidak ada sanak saudara, kakek-nenek baik dari pihak ayah atau ibu. Si jabang bayi lahir selamat dengan disaksikan ayahnya.

“Ente nekat banget!”, tersenyum kawan saya menjawab. “Saya ingin mengajani dan mengikomahi anak. Saya ingin menggendong anak. Saya ingin mengurusi anak dan juga istri. Kalau di Bogor, saya tidak bisa maksimal. Masih banyak orang lain yang bisa membantu. Tapi di Bali, tempat asing bagi saya juga istri tidak ada yang membantu seperti di rumah.” Sebuah jawaban yang menghujam dada. Kenekatan seorang teman membuat saya merinding. Ketika saya senang dibantu orang sekitar. Segala hal dilayani. Teman tersebut memilih untuk mandiri. Benar-benar mandiri. Hidup di tengah lingkungan baru. Tanpa ada sanak saudara dan famili. Tanpa ada pembantu.

Teman tersebut mengajari saya tentang arti kemerdekaan. Merdeka dalam artian mampu bersandar pada diri sendiri. Melakukan pekerjaan karena sebuah pilihan. Bukan berdasarkan desakan atau perasaan tidak enak terhadap orang lain. Bravo friend!

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: