Nilai-Nilai Dasar Pesantren

Sebagai sebuah lembaga, pondok pesantren memiliki nilai-nilai dasar yang menjadi landasan, sumber acuan dan bingkai segala kegiatan yang dilakukannya. Nilai-nilai dasar tersebut adalah :

Nilai Dasar Agama Islam

Adapun yang dikembangkan di pondok pesantren selalu bersumber dari nilai-nilai dasar agama Islam yang tercermin dalam Akidah, Syari’ah dan Akhlak Islam. Karena pada hakikatnya, pondok pesantren adalah sebuah lembaga keislaman yang timbul atas dasar dan untuk tujuan keislaman.

Motivasi utama para kiyai dalam mendirikan pondok pesantren, tidak lain karena rasa keterpanggilan mereka untuk melanjutkan risalah yang telah dirintis oleh para Nabi dan Rasul, Shalawatullahi alaihim. Para kiyai itu menyadari sepenuhnya bahwa mereka adalah pewaris para Nabi yang tidak saja harus mewarisi sifat-sifat dari akhlaknya, tetapi juga tugas dan kewajibannya dalam menyampaikan risalah Allah kepada ummat manusia. Karena itu keberadaan pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari konteks dan misi dakwah islamiyah.

Nilai Budaya Bangsa

Sesuai dengan latar belakang sejarahnnya, nilai-nilai dasar Islam yang dikembangkan di pondok pesantren, realisasinya selalu disesuaikan secara harmonis dan akomodatif dengan budaya asli bangsa Indonesia, tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip yang menjadi landasan utamanya.

Bentuk dan sistem pendidikan pondok pesantren ini hanya ada dan dikenal saja, dan tidak terdapat di belahan dunia manapun. Bahkan juga tidak dikenal di negara-negara Arab, tempat lahirnya agama Islam itu sendiri.

Nilai Pendidikan

Sejak semula, pondok pesantren berdiri dan didirikan untuk memberikan pendidikan dan pengajaran Islam kepada umat Islam, agar mereka menjadi “khoiru ummatin ukhrijat linnasi”, yaitu umat yang berkualitas lahir dan batin, yang berkualitas iman, akhlak, ilmu dan amalnya. Selain itu pesantren juga mengembang misi untuk mencetak ulama dan duat dan mutafaqqih fid-din, sebagai kader-kader penerus Da’wah Islamiyah dan Indzrul Qoum di tengah-tengah masyarakat.

Para kiyai pengasuh pesantren menyadari bahwa untuk mencapai maksud tersebut hanyalah bisa dilakukan lewat pendidikan. Karena itu, nilai-nilai dasar pendidikan senantiasa menjadi landasan dan sumber acuan bagi seluruh kegiatan sehari-hari di pesantren.

Nilai Perjuangan dan Pengorbanan

Para kiyai pengasuh pesantren menyadari sepenuhnya bahwa tugas-tugasnya di pesantren adalah suatu perjuangan berat yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, lahir maupun batin. Tidak sedikitpun terlintas dalam pikiran mereka niat untuk mencari kesenangan dan keuntungan duniawi. Nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan selalu menjadi landasan mereka dalam kegiatan sehari-hari.

Dalam mendidik santri dan membimbing umat, mereka selalu berusaha untuk menjahui segala hal yang bisa merusak akidah dan akhlaq, baik langsung maupun tidak langsung. Maka tidaklah heran, jika pesantren-pesantren lama banyak yang berlokasi di desa-desa terpencil. Ini tidak lepas dari sikap protes para kiyai yang sangat keras terhadap segala bentuk kebatilan, ketidak-adilan, dan kemaksiatan yang dilakukan oleh kaun penjajah waktu itu. Bahkan pada masa penjajahan dan awal kemerdekaan, pesantren selalu menjadi pusat perlawanan terhadap kolonialisme dan kaum kolonial. Tidak sedikit dari para kiyai dan santrinya yang mati syahid sebagai kusuma bangsa di medan peperangan.

PANCA JIWA PONDOK PESANTREN

Dikutip dari prasaran KH. Imam Zarkasyi (Gontor) dalam seminar Pondok Pesantren seluruh Indonesia di Yogyakarta, pada tanggal 4 – 7 Juli 1965.

Kehidupan dalam pondok pesantren dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat kita simpulkan dalam PANCA JIWA sebagai berikut :

JIWA KEIKHLASAN

Sepi ing pamrih (tidak karena dorongan keinginan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu), semata-mata karena untuk “IBADAH”. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan di pondok pesantren. Kiyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, lurah pondok ikhlas dalam memberikan bantuan (asistensi).

Segala gerak-gerik dalam pondok pesantren dalam suasana keikhlasan mendalam. Dengan demikian, terciptalah suasana hidup yang harmonis antara “kiyai yang disegani” dengan “santri yang taat penuh cinta hormat”, dengan segala keikhlasannya.

Dengan demikian, maka seorang santri mengerti arti Lil-Lahi Ta’ala, arti beramal, arti taqwa dan arti ikhlas. Sebagai seorang muslim tentunya di mana saja akan berda’wah. Maka santri merupakan persiapan ke arah itu, di mana ada kesempatan. Maka mudah dikatakan bahwa pondok pesantren merupakan Obor yang akan membawa penerangan Islam.

2. JIWA KESEDERHANAAN

Kehidupan dan pondok diliputi suasana kesederhanaan, tapi ia agung. Sederhana bukan berarti passif (nrimo = bahasa jawa), dan bukanlah artinya itu karena kemelaratan atau kemiskinan … bukan. Tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup dengan segala kesulitannya.

Maka di balik kesederhanaan itu terpancar jiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup tumbuhnya mental atau karakter yang kuat yang menjadi syarau dalam segala segi kehidupan.

3. JIWA KESANGGUPAN MENOLONG DIRI SENDIRI (SELP HELP atau BERDIKARI)

Didikan inilah yang merupakan senjata hidup yang ampuh. Berdikari bukan saja dalam arti bahwa santri selalu belajar dan mengurus segala kepentingannya sendiri, tatapi juga pondok pesantren itu sendiri sebagai Lembaga Pendidikan tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain. Meskipun demikian, pesantren tidak bersikap kaku sehingga tidak pernah menolak pihak lain yang ingin membantu pesantren asalkan tidak membuat suatu keterikatan yang merugikan pesantren.

4. JIWA UKHUWAH DINIYAH YANG DEMOKRATIS ANTARA SANTRI

Kehidupan di Pondok Pesantren diliputi oleh suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama, dengan jalinan perasaan keagamaan. Ukhuwah (persaudaraan) ini bukan saja selama di pondok itu sendiri; tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat, sepulang mereka dari pondok kelak.

5. JIWA BEBAS

Bebas dalam berpikir dan berbuat. Bebas dalam menentukan masa depannya. Bebas dalam memilih jalan hidup di tengah-tengah masyarakat kelak bagi para santri, dengan berjiwa optimis dalam menghadapi kehidupan. Kebebasan itu bahkan sampai pada bebas dari pengaruh asing dan pengaruh barat (kolonial). Di sinilah perlu dicari sejarah pondok pesantren yang mengisolir dari kehidupan ala barat yang dibawa oleh para penjajah.

Hanya saja, dalam kebebasan ini seringkali kita temui unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal), sehingga kehilangan arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya ada yang terlalu bebas (untuk tidak dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggap paling baik sendiri, yang telah pernah menguntungkan pada zamannya. Sehingga tak mau menoleh pada keadaan sekitar dengan perolehan zamannya dan tidak memperhitungkan masa depannya. Akhirnya tidak lagi bebas, karena mengikat diri pada yang diketahui saja.

Maka kebebasan ini harus dikembalikan kepada aslinya, yaitu di dalam garis-garis disiplin yang positif, dengan penuh tanggungjawab, baik dalam kehidupan Pondok Pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Jiwa-jiwa yang menguasai suasana kehidupan pondok pesantren itulah yang dibawa santri sebagai bekal pokok dalam kehidupannya dalam masyarakat. Dan jiwa Pondok Pesantren inilah yang harus hidupkan, dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya.

Advertisements

Bumi Laskar Pelangi Memanggilmu Kembali

Belitung adalah sebuah pulau di Sumatra sudah banyak diketahui orang. Tapi bagaimana Belitung dengan alam beserta masyarakatnya, masih menjadi tanda tanya. Penduduk Indonesia hanya mengetahui Belitung dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Tidak banyak ahli yang meneliti Belitung. Tidak banyak penulis yang menceritakan Belitung. Pulau yang tidak seberapa jauh dari Jakarta tersebut seolah terpencil dari keramaian berita.

Itu dulu, sebelum Andrea Hirata menggoreskan pena. Kisah lama Andrea dengan ibu guru Muslimah beserta kawan-kawannya dalam Novel Laskar pelangi mengubah nasib Belitung. Pulau yang dulu masuk ke dalam wilayah Sumatra Selatan, sebelum ada pemekaran provinsi Bangka-Belitung sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. Belitung menjelma gadis remaja yang memikat indra.

Libur panjang Idul Adha saya manfaatkan untuk mengunjungi Belitung. Bersama istri dan putri kecil yang baru berusia empat setengah tahun, saya menginjakkan kaki di Bandara H. A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan ketika langit mulai ditutupi awan mendung. Memasuki arrival hall bandara seperti masuk ke dalam ruang keluarga. Tidak ada banyak sekat, pintu masuk dan pintu keluar hanya berjarak sepandangan mata. Saya bisa mengambil bagasi dengan leluasa dan menemukan penjemput tanpa harus mencari lama.

Mobil Avanza Veloz berwarna silver melaju perlahan meninggalkan Tanjung Pandan. Mobil sewaan tersedia bagi siapa saja yang ingin mengelilingi Belitung. Harga sewa relative terjangkau. Hanya dengan mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah ditambah seratus ribu untuk sopir pengunjung sudah bisa berkeliling pulau seharian. Bagi pengunjung yang baru pertama kali ke Bumi Laskar Pelangi, menyewa mobil plus sopir menjadi pilihan wajib. Di pulau ini belum tersedia angkutan umum selayaknya di kota.

Baru beberapa meter memasuki jalan Sudirman, kaca depan mobil sudah ditetesi air hujan. Langit Belitung dipenuhi awan hitam. “Alhamdulillah bapak sampai sebelum turun hujan”, suara Bang Rizal sopir sekaligus guide kami memecah keheningan. Dia bercerita tentang seringnya para penjemput gigit jari gara-gara pesawat gagal mendarat. Biasanya penerbangan ke Belitung ditunda ketika cuaca mendung. Bahkan sering kali pesawat kembali ke Jakarta karena Tanjung Pandan diguyur hujan.

Dalam hati saya bersyukur. Andaikan pesawat gagal mendarat, saya harus menunggu esok untuk menyapa alam Belitung yang katanya masih segar. Hanya ada lima kali penerbangan dari Jakarta ke Tanjung Pandan. Pagi dua kali, siang dua kali dan sore sekali. Tidak ada nama Garuda Indonesia dalam list maskapai ke Belitung. Hingga saat ini baru dua maskapai yang menyediakan layanan terbang menuju Negri Laskar Pelangi; Batavia air dengan dua kali penerbangan dan Sriwijaya air tiga kali.

Penerbangan one way ke Tanjung Pandan dengan Batavia air tidak harus merogoh saku dalam-dalam. Hanya dengan tiga ratus sampai empat ratus ribu, kita bisa diterbangkan boing ke pulau Belitung. Sementara Sriwijaya sebagai maskapai yang pertama membuka penerbangan ke Belitung mematok harga yang lebih mahal. Satu kali penerbangan Jakarta-Tanjung Pandan, penumpang dikenankan biaya antara tujuh ratus sampai sembilan ratus ribu rupiah.

Menembus jalan raya Belitung dalam guyuran hujan menjadi pengalaman pertama kami di pulau ini. Kosongnya jalan membuat mata hanya bisa menyaksikan bulir-bulir air yang berlari seiring sopir menginjak pedal gas. Sepi. Saat diguyur hujan Belitung seperti anak jangkrik terinjak sepatu. “Orang Belitung ke mana-mana pakai motor, kalau hujan begini enggak ada yang berani ke luar”. Kembali Bang Rizal menjelaskan. Ternyata orang Belitung tidak mengenal angkutan umum. Bus hanya beroperasi sampai tengah siang. Tidak ada taksi, angkot, bemo, becak atau angkutan lain. Makanya di Belitung pelancong tidak akan menemukan kemacetan. Berkendaraan di Negri Laskar Pelangi seolah memacu mobil di jalan pribadi. Meski demikian harus tetap hati-hati, para pengendara motor terkadang memacu tunggangannya secepat kilat. Mulusnya kondisi jalan ditambah dengan ketiadaan kendaraan umum membuat pengendara merasa bebas menjurus bablas. Menurut penuturan Bang Rizal sering terjadi kecelakaan gara-gara kelakuan pengendara motor yang ugal-ugalan.

Penginapan Tersedia dengan Banyak Pilihan

Dari ruas jalan Sudirman, Avanza Veloz berbelok ke arah jalan Diponogoro. Setelah beberapa kilo menembus hujan, mobil masuk ke jalan Tanjung Pendam. Sepanjang jalan yang berada di pesisir pantai itu, berderet bangunan megah. Hotel berbintang berdiri megah meninggalkan rumah penduduk yang hanya berdinding setengah tembok. Nama-nama seperti Bahamas, Grand Pelangi, Grand Satika, Biliton, Lorin dan lain-lain berlomba menawarkan akomodasi kelas bintang bagi para pengunjung.

Di hotel Bahmas tempat saya dan keluarga menginap ada beberapa tipe kamar. Bagi pengunjung yang ingin tinggal di hotel berbintang tapi dengan harga terjangkau, ada pilihan standard. Tarif permalam tipe ini hanya Rp. 695.000. Sedangkan untuk pengunjung yang menginginkan kenyamanan sekaligus keleluasaan ada tipe residen suit dengan tarif Rp. 1.900.000. Diantara kedua tipe tersebut ada tipe luxs dan suit yang harganya tidak lebih sari satu juta rupiah permalam.

Jika harga yang ditawarkan oleh hotel berbintang masih belum terjangkau, pengunjung masih memiliki alternatif lain. Di jalan Kamboja arah Gatot Subroto terdapat penginapan melati. Penginapan yang dimiliki oleh penduduk setempat menawarkan harga sangat terjangkau. Untuk biaya semalam, pengunjung hanya mengeluarkan uang antara Rp. 70,000. s/d Rp. 200,000.

Apa yang diberikan penginapan melati? Spring bed plus dengan bantal, kamar mandi tanpa shower dan kipas angin. Untuk sekedar melepas lelah setelah seharian mengelilingi Belitung, penginapan melati sudah mencukupi.

Makan Malam di Sari Laut

Mengunjungi Belitung tidak lengkap jika melewatkan sesi makan ikan. Sebagaimana daerah pesisir lain, tanah kelahiran Andrea Hirata menawarkan berbagai macam panganan laut. Para penggemar seafood bisa makan banyak juga enak di sini. Dan tentunya dengan harga terjangkau.

Di jalan Baru, Kampung Damai ada sebuah rumah makan yang menjadi tujuan wisatawan. Setiap hari deretan mobil kecil atau bus memenuhi parkir area di depan rumah makan Sari Laut. Bahkan terkadang pengunjung harus memarkirkan mobil di pinggir jalan. Makan malam di Sari Laut tanpa reservasi terlebih dahulu bisa menyulitkan. Saya dan keluarga harus mencari meja kosong yang belum dipesan. Setelah berkeliling sambil mengamati, akhirnya dapat sebuah meja bundar yang masih penuh dengan piring kotor.

Bang Rizal memesan satu paket makanan untuk empat orang. Sebakul nasi, udang goreng, baso ikan, kepiting goreng, gangan dan tumis kangkung menjadi menu kami. Masakan yang paling menarik perhatian saya adalah gangan. Menurut Bang Rizal, ini makanan khas orang Belitung. Ikan yang dimasak harus fresh dari jenis Ketarap atau Bulat. Kuah ikan berwarna kuning, perpadauan antara kunyit, lengkuas dan bumbu dapur lain. Rasa kuah sop ikan gangan agak pedas. Konon rasa pedas ini untuk menetralisir bau amis ikan. Sebagai penyegar, sajian gangan dihiasi potongan nanas muda.

Saya hanya membayar Rp. 265.000. untuk satu paket makanan tadi. Harga yang terjangkau untuk kualitas makanan yang mantap.

Selain rumah makan yang tertutup, pulau timah juga menyediakan warung kaki lima. Di sepanjang pesisir Tanjung Pendam berderet warung makan. Ada yang berbentuk semi kafe dengan hiburan live music atau nonton bareng. Ada juga yang hanya bermodal gerobak dan kursi meja. Pengunjung bebas memilih tempat makan malam.

Menu yang ditawarkan beragam, lebih variatif dari rumah makan. Dari mulai nasi goreng, bakso, sop iga, sampai otak-otak, tersedia di warung kaki lima. Harganya sangat terjangkau. Satu porsi nasi goreng Rp. 12.000. Nasi dan sop iga Rp. 25.000. Goreng otak-otak perbiji Rp. 2.000.

Sarapan Mie Belitung

Bangun pagi, mandi kemudian sarapan pagi di resto hotel bukan pilihan baik di Belitung. Sarapan roti atau nasi yang menjadi rutinitas di rumah harus dihentikan sementara. Pulau Laskar Pelangi menawarkan sesuatu yang berbeda. Sarapan mie Belitung.

Mobil sewaan meluncur dari lobi hotel menuju jalan Sriwijaya. Di antara deretan toko di jalan Sriwijaya 27, ada sebuah warung sederhana. Dari plang yang terpampang di depan warung tertulis nama ‘Warung Atep’. Bukan Asep orang Sunda, tapi Atep. Pemilik warung yang spesialisasinya Mie ini adalah warga Belitung keturunan Tionghoa.

Setelah mobil parkir, saya dan rombongan segera menyerbu warung. Tidak ada kursi kosong. Jam 7.00 s/d 9.00 adalah waktu tersibuk Warung Atep. Warung yang lebarnya hanya sekitar 4 meter itu penuh disesaki pelanggan. Terpaksa saya dan keluarga harus menerobos keramaian. Berjalan masuk ke bagian dalam warung. Di dalam ada empat meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi. Tiga meja sudah berpenghuni. Saya kebagian di tengah.

Bang rizal datang membawa minuman. “Enggak usah repot-repot, bang. Biar pelayan yang bawain”, saya berusaha mencegah Bang Rizal. Sambil tersenyum, guide yang masih jomblo itu membuka mulut “Di sini kalau tidak ambil sendiri, bisa enggak kebagian”. Tiga buah piring dan tiga gelas tersusun rapi di meja berkat servis bang Rizal.

Mie Belitung adalah sarapan khas di pulau timah. Mie kuning diberi kuah kaldu sapi. Sebagai tambahan, irisan kentang, tahu dan bakwan bersatu padu dengan udang di dalam piring. Emping melinjo menjadi penutup serasi bagi makanan yang didominasi warna kuning tersebut. Untuk mendapatkan satu porsi mie Belitung, pengunjung hanya dikanai tarif delapan ribu rupiah.

Wisata Pulau

Setelah perut kenyang, saatnya jalan-jalan. Tujuan utama adalah pulau-pulau kecil yang tersebar di sekeliling Belitung. Dari jalan Sriwijaya, mobil melaju menyusuri jalan batu itam. Tidak ada traffic jam. Jalanan halus dan lurus. Tikungan kecil sesekali menyelingi. Tanpa ada pegunungan. Hanya deretan batang-batang pohon. Tanah tanpa bangunan terhampar luas disamping rumah sederhana penduduk. Dari kaca mobil, hanya ada langit yang membatasi pandangan. Menikmati perjalanan menuju Tanjung Kelayang seperti berpacu mencapai kaki langit.

Tanjung Kelayang adalah dermaga kecil tempat beberapa perahu bermesin berlabuh. Wisatawan tidak diminta bayaran masuk, hanya uang parkir yang dibayar saat mobil memasuki wilayah dermaga. Untuk berkeliling pulau atau biasanya disebut tour pulau, saya hanya membayar sewa perahu Rp. 450,000.

Tujuan pertama dari tour pulau adalah Lengkuas. Pulau kecil yang pernah digunakan Belanda untuk mengintai perairan Belitung tersebut berjarak 30 menit perjalan dari Tanjung Kelayang. Sepanjang perjalanan, saya bisa menikmati keindahan bawah laut perairan Belitung. Air yang jernih kehijauan membuat mata bisa menembus terumbu karang. Tiupan angin menambah indah permukaan laut. Seolah milayaran kubik air berwarna kehijauan itu berlomba merenggangkan tubuh mengikuti alunan musik alam. Sebuah harmoni yang membuat saya tambah mensyukuri karunia yang telah diberi oleh Sang Pencipta.

Perahu bermesin berlabuh dipinggir pantai. Saya dan keluarga turun melalui tangga kayu lusuh. Di dasar, hamparan pasir putih mengajak bercengkrama. Tanpa harus menyelam, mata dimanjakan oleh pemandangan bawah laut yang sangat indah. Dengan mata telanjang saya bisa melihat sekelompok ikan bermain di celah-celah karang. Kalau merasa belum puas, pengunjung bisa berenang sambil menyelam.

Selain menjadi tempat berenang atau menyelam, Tanjung Kelayang juga menyajikan wisata naik menara. Di pulau yang tidak terlalu luas tersebut, masih berdiri tegak sebuah mercusuar peninggalan Belanda. Di bagian depan mercusuar tertulis tahun pembangunan 1882. Hingga sekarang mercusuar tersebut masih digunakan untuk navigasi.

Putri saya yang baru berusia 4 tahun 4 bulan mengajak naik. Dengan modal membayar lima ribu rupiah kepada penjaga, kami menaiki mercusuar. Sebelum naik, pengunjung diminta untuk mencuci kaki. Ritual ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan Mercusuar. Karena air laut bisa merusak konstruksi bangunan yang terbuat dari baja.

Satu demi satu anak tangga kami lalui. Cucuran keringat tidak begitu saya hiraukan. Nada tidak mengeluh capek. Dia terus melangkah naik. Setelah melewati 17 lantai, akhirnya saya dan Nada sampai di ujung menara. Memandang perairan Belitung dari atas mercusuar seperti melihat sorga sebelum mati. Saya hanya bisa berucap, Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan hikmah.

Pulau berikutnya yang kita kunjungi adalah Pulau Burung. Di pulau yang dimiliki pribadi ini, pengunjung bisa menikmati kelapa hijau. Hanya dengan empat ribu rupiah, sebuah kelapa hijau muda bisa menjadi pelepas dahaga. Tidak banyak pengunjung yang berenang di pantai pulau burung. Kebanyakan hanya turun untuk menikmati pemandangan sambil mengabadikannya dengan kamera.

Dalam perjalanan pulang, kami melewati Pulau Batu Belayar. Pulau yang tidak begitu jauh dari Tanjung Kelayang itu sangat unik. Daratan yang tercipta adalah hasil perpaduan batu-batu granit raksasa yang tersusun rapi. Susunan batu tersebut jika diamati lebih seksama menampakkan gambar perahu. Sebuah perahu yang baru saja meninggalkan dermaga. Maka tidak salah jika pulau ini diberi nama Batu Belayar.

Tanjung Tinggi

Sebenarnya tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan wisatawan berkunjung ke Tanjung Tinggi. Tapi menginjakkan kaki di Pulau Belitung tanpa sempat ke Tanjung Tinggi sama saja belum berziarah ke negri Laskar Pelangi. Pantai Tanjung Tinggi adalah salah satu lokasi shoting film Laskar Pelangi.

Riri Reza tidak salah memilih pantai ini sebagai lokasi shoting. Tanjung Tinggi berbentuk cerukan. Airnya tenang. Pasirnya putih bersih. Tidak ada gulungan ombak yang bisa membahayakan nyawa. Anak-anak bisa berenang di tepi pantai dengan leluasa. Dan kalau ingin lebih ke tengah, pengunjung bisa menyewa perahu karet.

Sajian utama dari pantai Tanjung Tinggi adalah hamparan batu granit raksasa. Masuk ke arena pantai, seolah menelusuri lorong goa. Batu-batu besar berdiri seperti penjaga. Diantara celah batu terhampar jalan berlantai pasir. Sepanjang bibir pantai, saya bisa melihat jutaan kubik batu berdiri tegak menantang angin. Berphoto di depan batu yang menjulang seolah kembali ke zaman purba. Sungguh unik dan eksotik.

Ingin Kembali

Dua hari, dua malam saya habiskan waktu di negri laskar pelangi. Saat matahari minggu masuk melalui celah jendela yang terbuka, saya harus berkemas. Pakaian kotor berpasir ditempatkan dalam plastik. Sisa pakaian yang masih bersih tetap dibiarkan dalam koper. Satu plastik berisi kaos Belitung masuk menemani pakaian tersisa.

Masih ada satu dus sedang oleh-oleh. Makanan dan cinderamata yang harus dibawa ke rumah. Jalan-jalan tidak beli oleh-oleh seperti pagi tanpa matahari. Dalam dus tersebut bertumpuk makanan khas Belitung. Dua kantong terasi udang, orang melayu menyebutnya Belacan di barisan bawah. Delapan plastik ukuran sedang kerupuk ikan di deret atas. Pernak-pernik dari cangkang kerang bertumpuk di tengah.

Mendapatkan oleh-oleh khas Belitung sangat mudah. Di beberapa titik jalan Sriwijaya ada took yang secara khusus menawarkan oleh-oleh Belitung. Pengunjung tinggal memilih dan langsung meminta dibungkus. Agar tidak repot saat pulang, pengunjung bisa meminta pelayan toko mengikat dengan tali presser. Jadi saat masuk bandara, kardus oleh-oleh bisa langsung masuk bagasi.

Mobil sewa sudah siap di depan lobby hotel. Semua barang bawaan masuk ke dalam bagasi. Nada masih enggan beranjak dari tempat dia berdiri. Putri pertama saya tersebut mengisyaratkan sesuatu. Dia masih betah di Belitung. Alam yang masih segar membuat naluri anak berusia empat tahun tersebut terpaut. Keramahan penduduk, kenyamanan lingkungan yang dia alami selama dua hari member kesan yang dalam. Maka sayapun berkata, “Nada, sekarang pulang. Insaallah liburan akhir tahun kita ke sini lagi”

Nada pun tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat indah di pagi nan cerah. Bundanya juga tersenyum. Semoga Tuhan masih memperkenankan kami ke Negri Laskar Pelangi akhir tahun nanti. bangka belitung

Jalan

Sabtu pagi baru saja dimulai, selintas keinginan bersemayam di kepala. Rutinitas menonton tv setelah sholat subuh segera diakhiri. Saya ganti kostum. Sebuah training plus kaos oblong menempel di tubuh. Pandangan mata tertuju ke kunci motor. Pagi ini saya ingin sarapan bubur.

Dua kaki melangkah mantap. Tidak ada deru suara knalpot hasil pembakaran mesin motor. Saya putuskan berjalan. Mumpung masih pagi. Jam di tangan belum juga menunjukkan angka enam. Matahari masih malu-malu menunjukkan wajahnya. Hanya seberkas cahaya jingga melukisi langit di tepi Barat. Beberapa orang santri yang baru ke luar kelas menatap sekilas. Saya balas dengan senyum. Gerbang bawah masih belum berpenghuni. Satpam malam sudah pulang, yang bertugas pagi belum sampai tempat. MUngkin sedang sibuk dengan urusan perutnya.

Terus melangkah melewati deretan kelas yang baru selesai dibangun, saya ditodong dua pilihan; terus menaiki jembatan atau turun ke kebun. Jika memilih menaiki jembatan baru berarti saya berjalan mengikuti arus mobil dan motor, pilihan kedua saya harus turun menyusuri batang-batang sengon kemudian berjalan searus aliran sungai cigatet. Saya pilih yang kedua.

Entah sudah berapa tahun kaki ini tidak diajak berjalan jauh. Sudah terlalu lama saya dimanja teknologi. Motor menjadi primadona. Kembali menikmati perjalanan di atas telapak kaki menghadirkan sensasi yang luar biasa. Meski peluh terus mengalir, namun suasana hati diteduni awan kenyamanan. Sepanjang jalan di pinggir kali cigatet sepuasnya saya menikmati pemandangan. Beberapa orang ibu tengah sibuk mencuci. Bukan hanya pakaian, beraspun mereka cuci di pinggir kali. Sungguh peninggalan kompeni Belanda yang satu ini sangat bermanfaat. Kanal yang dibuat menembus pemukiman penduduk sejatinya dibuat Belanda untuk saluran irigasi. Irisan tanah yang dialiri air dari sungai besar tersebut menjadi bagian yang tidak tarpisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar. Mandi, mencuci dan juga buang hajat dilakukan di sana. Meski zaman terus melangkah, tapi tradisi masyarakat pinggir kali masih tetap sama.

Tidak terasa sudah hampir dua puluh menit saya berjalan. Di depan sudah terbentang jalan raya leuwiliang. Sebuah papan reklame berwarna putih-hijau menyita mata. Papan yang sudah sangat lama tergantung itu tampak lusuh. Selusuh bangunan yang menjadi muara dari papan tersebut. Bisnis perphotoan memang sudah hampir gulung tikar. Studio photo yang dulu paling terkenal tersebut kini sudah hampir sekarat. Fuji Film nama yang sempat mengakar di kepala masyarakat, nampak kelelehan mengejar kemajuan zaman. Masyarakat sudah jarang datang ke studio untuk diphoto. Mereka sudah memiliki kamera sendiri. Berbagai merek handphone yang dilengkapi fitur kamera sudah bisa mencukupi kebutuhan akan photo. Untuk urusan cetak, mereka juga bisa mem-print sendiri.

Rute perjalanan saya tidak bermuara di lapangan leuwiliang. Saya mengambil arah kanan. Tukang bubur yang menjadi destinasi mangkal di pasar bawah, jadi pilihan ke kiri merupakan yang terbaik.

Menyeberang jalan di pagi hari sangat mudah. Mobilitas kendaraan masih minim. Ketika sampai di muka jalan, hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas. Angkutan umum yang biasa memenuhi jalan leuwiliang tidak nampak satu pun. Mungkin masih ngetem di tepi pasar atau di pertigaan karacak, menanti penumpang sampai penuh. Dari fuji film saya masih harus berjalan sekitar 100 meter. Di samping polsek leuwiliang, saya menepi. Tukang bubur yang dicari berada di deretan ruko.

Entah sudah seberapa banyak peluh menetes. Bagian punggung sudah terasa basah. Wajahpun tidak bebas dari seranagn peluh. Dengan kaos yang dipakai, saya usap butiran peluh. Menarik napas dalam sambil menanti tukang bubur menyiapkan pesanan, terasa melegakan. Masih belum banyak pembeli datang ke tempat tersebut. Hanya ada seorang lelaki yang sedang menyantap bubur di dalam ruko. Biasanya saya harus mengantri untuk mendapat seporsi bubur. Mungkin hari masih terlalu pagi.

Dengan tiga bungkus bubur di tangan saya melangkah pulang. Ide naik ojek sempat melintas. Secepat kilat saya hempaskan. hari ini tidak ada motor. saya harus jalan. Meski terasa pegal, saya lanjutkan perjalanan. Rute pulang saya ubah. Tidak masuk ke gang depan fuji film. saya memilih gang samping rumah Haji Taufik, direktur bank amanah umah. jalan yang menjadi saksi mobilitas saya bebapa tahun lalu. Melalui jalan ini saya pulang pergi ke membawa dagangan. Tidak banyak orang tahu. Karena memang tidak perlu diketahui.

Jalan kenangan saya lalui perlahan. Tanpa uang cukup saya pilih berjalan. Sebenarnya dulu sudah ada tukang ojek, tapi saya lebih sering jalan kaki. Melintasi rumah besar orang terkaya di leuwiliang saya terkejut. Tepat di belakang rumahnya ada komplek kuburan tiongkok. Sekarang kuburan-kuburan tersebut tidak nampak. Kuburan sudah ditutup rapat. Pagar tembok mengelilingi komplek kuburan. Di atas pagar berdiri seram pecahan kaca dan botol. Pintu pagar berwarna hitam. Terkunci rapat. Tidak ada celah untuk mengintip keadaan di dalam.

Saya terus berjalan. Berpapasan dengan beberapa orang anak yang baru bangun tidur. Seorang lelaki nampak serius memandikan motor. Kendaraannya dibersihkan tapi dirinya sendiri masih belepotan sisa belek tadi malam. saya tersenyum. Seorang ibu menyapa. ternyata dia kenal saya. saya jawab pertanyaannya. Dia masih bengong. Enatah apa yang ada di dalam kepalanya. Biarlah dia menebak sendiri.

Rumah ust. abdul muthi sudah nampak. seratus meter arah barat dari rumah tersebut nampak barisan bangunan kokoh. bangunan yang berdiri di bekas sawah tersebut kini menjadi hiasan kampung banyuresmi. Setiap hari mereka menatap sepuasnya. bangunan yang juga menjadi bagian dari kehidupan mereka. Semakin banyak bangunan yang berdiri, semakin besar pula harapan mereka. Sudah menjadi fakta bahwa sebagian besar penduduk kampung banyuresmi menjadi buruh cuci di pesantren. Dengan bertambahnya santri berarti bertambah pula penghasilan mencuci mereka. Sebuah jalinan yang sama-sama menguntungkan.

Akhirnya sampai juga di komplek pesantren. Ratusan tetes peluh sebanding dengan kebahagiaan yang bersemayam dalam hati. terlebih di tangan saya ada tiga plastik bubur. Saya satu, bunda dan nada sorang satu. This is breakfast time.