Bumi Laskar Pelangi Memanggilmu Kembali

Belitung adalah sebuah pulau di Sumatra sudah banyak diketahui orang. Tapi bagaimana Belitung dengan alam beserta masyarakatnya, masih menjadi tanda tanya. Penduduk Indonesia hanya mengetahui Belitung dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Tidak banyak ahli yang meneliti Belitung. Tidak banyak penulis yang menceritakan Belitung. Pulau yang tidak seberapa jauh dari Jakarta tersebut seolah terpencil dari keramaian berita.

Itu dulu, sebelum Andrea Hirata menggoreskan pena. Kisah lama Andrea dengan ibu guru Muslimah beserta kawan-kawannya dalam Novel Laskar pelangi mengubah nasib Belitung. Pulau yang dulu masuk ke dalam wilayah Sumatra Selatan, sebelum ada pemekaran provinsi Bangka-Belitung sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. Belitung menjelma gadis remaja yang memikat indra.

Libur panjang Idul Adha saya manfaatkan untuk mengunjungi Belitung. Bersama istri dan putri kecil yang baru berusia empat setengah tahun, saya menginjakkan kaki di Bandara H. A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan ketika langit mulai ditutupi awan mendung. Memasuki arrival hall bandara seperti masuk ke dalam ruang keluarga. Tidak ada banyak sekat, pintu masuk dan pintu keluar hanya berjarak sepandangan mata. Saya bisa mengambil bagasi dengan leluasa dan menemukan penjemput tanpa harus mencari lama.

Mobil Avanza Veloz berwarna silver melaju perlahan meninggalkan Tanjung Pandan. Mobil sewaan tersedia bagi siapa saja yang ingin mengelilingi Belitung. Harga sewa relative terjangkau. Hanya dengan mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah ditambah seratus ribu untuk sopir pengunjung sudah bisa berkeliling pulau seharian. Bagi pengunjung yang baru pertama kali ke Bumi Laskar Pelangi, menyewa mobil plus sopir menjadi pilihan wajib. Di pulau ini belum tersedia angkutan umum selayaknya di kota.

Baru beberapa meter memasuki jalan Sudirman, kaca depan mobil sudah ditetesi air hujan. Langit Belitung dipenuhi awan hitam. “Alhamdulillah bapak sampai sebelum turun hujan”, suara Bang Rizal sopir sekaligus guide kami memecah keheningan. Dia bercerita tentang seringnya para penjemput gigit jari gara-gara pesawat gagal mendarat. Biasanya penerbangan ke Belitung ditunda ketika cuaca mendung. Bahkan sering kali pesawat kembali ke Jakarta karena Tanjung Pandan diguyur hujan.

Dalam hati saya bersyukur. Andaikan pesawat gagal mendarat, saya harus menunggu esok untuk menyapa alam Belitung yang katanya masih segar. Hanya ada lima kali penerbangan dari Jakarta ke Tanjung Pandan. Pagi dua kali, siang dua kali dan sore sekali. Tidak ada nama Garuda Indonesia dalam list maskapai ke Belitung. Hingga saat ini baru dua maskapai yang menyediakan layanan terbang menuju Negri Laskar Pelangi; Batavia air dengan dua kali penerbangan dan Sriwijaya air tiga kali.

Penerbangan one way ke Tanjung Pandan dengan Batavia air tidak harus merogoh saku dalam-dalam. Hanya dengan tiga ratus sampai empat ratus ribu, kita bisa diterbangkan boing ke pulau Belitung. Sementara Sriwijaya sebagai maskapai yang pertama membuka penerbangan ke Belitung mematok harga yang lebih mahal. Satu kali penerbangan Jakarta-Tanjung Pandan, penumpang dikenankan biaya antara tujuh ratus sampai sembilan ratus ribu rupiah.

Menembus jalan raya Belitung dalam guyuran hujan menjadi pengalaman pertama kami di pulau ini. Kosongnya jalan membuat mata hanya bisa menyaksikan bulir-bulir air yang berlari seiring sopir menginjak pedal gas. Sepi. Saat diguyur hujan Belitung seperti anak jangkrik terinjak sepatu. “Orang Belitung ke mana-mana pakai motor, kalau hujan begini enggak ada yang berani ke luar”. Kembali Bang Rizal menjelaskan. Ternyata orang Belitung tidak mengenal angkutan umum. Bus hanya beroperasi sampai tengah siang. Tidak ada taksi, angkot, bemo, becak atau angkutan lain. Makanya di Belitung pelancong tidak akan menemukan kemacetan. Berkendaraan di Negri Laskar Pelangi seolah memacu mobil di jalan pribadi. Meski demikian harus tetap hati-hati, para pengendara motor terkadang memacu tunggangannya secepat kilat. Mulusnya kondisi jalan ditambah dengan ketiadaan kendaraan umum membuat pengendara merasa bebas menjurus bablas. Menurut penuturan Bang Rizal sering terjadi kecelakaan gara-gara kelakuan pengendara motor yang ugal-ugalan.

Penginapan Tersedia dengan Banyak Pilihan

Dari ruas jalan Sudirman, Avanza Veloz berbelok ke arah jalan Diponogoro. Setelah beberapa kilo menembus hujan, mobil masuk ke jalan Tanjung Pendam. Sepanjang jalan yang berada di pesisir pantai itu, berderet bangunan megah. Hotel berbintang berdiri megah meninggalkan rumah penduduk yang hanya berdinding setengah tembok. Nama-nama seperti Bahamas, Grand Pelangi, Grand Satika, Biliton, Lorin dan lain-lain berlomba menawarkan akomodasi kelas bintang bagi para pengunjung.

Di hotel Bahmas tempat saya dan keluarga menginap ada beberapa tipe kamar. Bagi pengunjung yang ingin tinggal di hotel berbintang tapi dengan harga terjangkau, ada pilihan standard. Tarif permalam tipe ini hanya Rp. 695.000. Sedangkan untuk pengunjung yang menginginkan kenyamanan sekaligus keleluasaan ada tipe residen suit dengan tarif Rp. 1.900.000. Diantara kedua tipe tersebut ada tipe luxs dan suit yang harganya tidak lebih sari satu juta rupiah permalam.

Jika harga yang ditawarkan oleh hotel berbintang masih belum terjangkau, pengunjung masih memiliki alternatif lain. Di jalan Kamboja arah Gatot Subroto terdapat penginapan melati. Penginapan yang dimiliki oleh penduduk setempat menawarkan harga sangat terjangkau. Untuk biaya semalam, pengunjung hanya mengeluarkan uang antara Rp. 70,000. s/d Rp. 200,000.

Apa yang diberikan penginapan melati? Spring bed plus dengan bantal, kamar mandi tanpa shower dan kipas angin. Untuk sekedar melepas lelah setelah seharian mengelilingi Belitung, penginapan melati sudah mencukupi.

Makan Malam di Sari Laut

Mengunjungi Belitung tidak lengkap jika melewatkan sesi makan ikan. Sebagaimana daerah pesisir lain, tanah kelahiran Andrea Hirata menawarkan berbagai macam panganan laut. Para penggemar seafood bisa makan banyak juga enak di sini. Dan tentunya dengan harga terjangkau.

Di jalan Baru, Kampung Damai ada sebuah rumah makan yang menjadi tujuan wisatawan. Setiap hari deretan mobil kecil atau bus memenuhi parkir area di depan rumah makan Sari Laut. Bahkan terkadang pengunjung harus memarkirkan mobil di pinggir jalan. Makan malam di Sari Laut tanpa reservasi terlebih dahulu bisa menyulitkan. Saya dan keluarga harus mencari meja kosong yang belum dipesan. Setelah berkeliling sambil mengamati, akhirnya dapat sebuah meja bundar yang masih penuh dengan piring kotor.

Bang Rizal memesan satu paket makanan untuk empat orang. Sebakul nasi, udang goreng, baso ikan, kepiting goreng, gangan dan tumis kangkung menjadi menu kami. Masakan yang paling menarik perhatian saya adalah gangan. Menurut Bang Rizal, ini makanan khas orang Belitung. Ikan yang dimasak harus fresh dari jenis Ketarap atau Bulat. Kuah ikan berwarna kuning, perpadauan antara kunyit, lengkuas dan bumbu dapur lain. Rasa kuah sop ikan gangan agak pedas. Konon rasa pedas ini untuk menetralisir bau amis ikan. Sebagai penyegar, sajian gangan dihiasi potongan nanas muda.

Saya hanya membayar Rp. 265.000. untuk satu paket makanan tadi. Harga yang terjangkau untuk kualitas makanan yang mantap.

Selain rumah makan yang tertutup, pulau timah juga menyediakan warung kaki lima. Di sepanjang pesisir Tanjung Pendam berderet warung makan. Ada yang berbentuk semi kafe dengan hiburan live music atau nonton bareng. Ada juga yang hanya bermodal gerobak dan kursi meja. Pengunjung bebas memilih tempat makan malam.

Menu yang ditawarkan beragam, lebih variatif dari rumah makan. Dari mulai nasi goreng, bakso, sop iga, sampai otak-otak, tersedia di warung kaki lima. Harganya sangat terjangkau. Satu porsi nasi goreng Rp. 12.000. Nasi dan sop iga Rp. 25.000. Goreng otak-otak perbiji Rp. 2.000.

Sarapan Mie Belitung

Bangun pagi, mandi kemudian sarapan pagi di resto hotel bukan pilihan baik di Belitung. Sarapan roti atau nasi yang menjadi rutinitas di rumah harus dihentikan sementara. Pulau Laskar Pelangi menawarkan sesuatu yang berbeda. Sarapan mie Belitung.

Mobil sewaan meluncur dari lobi hotel menuju jalan Sriwijaya. Di antara deretan toko di jalan Sriwijaya 27, ada sebuah warung sederhana. Dari plang yang terpampang di depan warung tertulis nama ‘Warung Atep’. Bukan Asep orang Sunda, tapi Atep. Pemilik warung yang spesialisasinya Mie ini adalah warga Belitung keturunan Tionghoa.

Setelah mobil parkir, saya dan rombongan segera menyerbu warung. Tidak ada kursi kosong. Jam 7.00 s/d 9.00 adalah waktu tersibuk Warung Atep. Warung yang lebarnya hanya sekitar 4 meter itu penuh disesaki pelanggan. Terpaksa saya dan keluarga harus menerobos keramaian. Berjalan masuk ke bagian dalam warung. Di dalam ada empat meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi. Tiga meja sudah berpenghuni. Saya kebagian di tengah.

Bang rizal datang membawa minuman. “Enggak usah repot-repot, bang. Biar pelayan yang bawain”, saya berusaha mencegah Bang Rizal. Sambil tersenyum, guide yang masih jomblo itu membuka mulut “Di sini kalau tidak ambil sendiri, bisa enggak kebagian”. Tiga buah piring dan tiga gelas tersusun rapi di meja berkat servis bang Rizal.

Mie Belitung adalah sarapan khas di pulau timah. Mie kuning diberi kuah kaldu sapi. Sebagai tambahan, irisan kentang, tahu dan bakwan bersatu padu dengan udang di dalam piring. Emping melinjo menjadi penutup serasi bagi makanan yang didominasi warna kuning tersebut. Untuk mendapatkan satu porsi mie Belitung, pengunjung hanya dikanai tarif delapan ribu rupiah.

Wisata Pulau

Setelah perut kenyang, saatnya jalan-jalan. Tujuan utama adalah pulau-pulau kecil yang tersebar di sekeliling Belitung. Dari jalan Sriwijaya, mobil melaju menyusuri jalan batu itam. Tidak ada traffic jam. Jalanan halus dan lurus. Tikungan kecil sesekali menyelingi. Tanpa ada pegunungan. Hanya deretan batang-batang pohon. Tanah tanpa bangunan terhampar luas disamping rumah sederhana penduduk. Dari kaca mobil, hanya ada langit yang membatasi pandangan. Menikmati perjalanan menuju Tanjung Kelayang seperti berpacu mencapai kaki langit.

Tanjung Kelayang adalah dermaga kecil tempat beberapa perahu bermesin berlabuh. Wisatawan tidak diminta bayaran masuk, hanya uang parkir yang dibayar saat mobil memasuki wilayah dermaga. Untuk berkeliling pulau atau biasanya disebut tour pulau, saya hanya membayar sewa perahu Rp. 450,000.

Tujuan pertama dari tour pulau adalah Lengkuas. Pulau kecil yang pernah digunakan Belanda untuk mengintai perairan Belitung tersebut berjarak 30 menit perjalan dari Tanjung Kelayang. Sepanjang perjalanan, saya bisa menikmati keindahan bawah laut perairan Belitung. Air yang jernih kehijauan membuat mata bisa menembus terumbu karang. Tiupan angin menambah indah permukaan laut. Seolah milayaran kubik air berwarna kehijauan itu berlomba merenggangkan tubuh mengikuti alunan musik alam. Sebuah harmoni yang membuat saya tambah mensyukuri karunia yang telah diberi oleh Sang Pencipta.

Perahu bermesin berlabuh dipinggir pantai. Saya dan keluarga turun melalui tangga kayu lusuh. Di dasar, hamparan pasir putih mengajak bercengkrama. Tanpa harus menyelam, mata dimanjakan oleh pemandangan bawah laut yang sangat indah. Dengan mata telanjang saya bisa melihat sekelompok ikan bermain di celah-celah karang. Kalau merasa belum puas, pengunjung bisa berenang sambil menyelam.

Selain menjadi tempat berenang atau menyelam, Tanjung Kelayang juga menyajikan wisata naik menara. Di pulau yang tidak terlalu luas tersebut, masih berdiri tegak sebuah mercusuar peninggalan Belanda. Di bagian depan mercusuar tertulis tahun pembangunan 1882. Hingga sekarang mercusuar tersebut masih digunakan untuk navigasi.

Putri saya yang baru berusia 4 tahun 4 bulan mengajak naik. Dengan modal membayar lima ribu rupiah kepada penjaga, kami menaiki mercusuar. Sebelum naik, pengunjung diminta untuk mencuci kaki. Ritual ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan Mercusuar. Karena air laut bisa merusak konstruksi bangunan yang terbuat dari baja.

Satu demi satu anak tangga kami lalui. Cucuran keringat tidak begitu saya hiraukan. Nada tidak mengeluh capek. Dia terus melangkah naik. Setelah melewati 17 lantai, akhirnya saya dan Nada sampai di ujung menara. Memandang perairan Belitung dari atas mercusuar seperti melihat sorga sebelum mati. Saya hanya bisa berucap, Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan hikmah.

Pulau berikutnya yang kita kunjungi adalah Pulau Burung. Di pulau yang dimiliki pribadi ini, pengunjung bisa menikmati kelapa hijau. Hanya dengan empat ribu rupiah, sebuah kelapa hijau muda bisa menjadi pelepas dahaga. Tidak banyak pengunjung yang berenang di pantai pulau burung. Kebanyakan hanya turun untuk menikmati pemandangan sambil mengabadikannya dengan kamera.

Dalam perjalanan pulang, kami melewati Pulau Batu Belayar. Pulau yang tidak begitu jauh dari Tanjung Kelayang itu sangat unik. Daratan yang tercipta adalah hasil perpaduan batu-batu granit raksasa yang tersusun rapi. Susunan batu tersebut jika diamati lebih seksama menampakkan gambar perahu. Sebuah perahu yang baru saja meninggalkan dermaga. Maka tidak salah jika pulau ini diberi nama Batu Belayar.

Tanjung Tinggi

Sebenarnya tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan wisatawan berkunjung ke Tanjung Tinggi. Tapi menginjakkan kaki di Pulau Belitung tanpa sempat ke Tanjung Tinggi sama saja belum berziarah ke negri Laskar Pelangi. Pantai Tanjung Tinggi adalah salah satu lokasi shoting film Laskar Pelangi.

Riri Reza tidak salah memilih pantai ini sebagai lokasi shoting. Tanjung Tinggi berbentuk cerukan. Airnya tenang. Pasirnya putih bersih. Tidak ada gulungan ombak yang bisa membahayakan nyawa. Anak-anak bisa berenang di tepi pantai dengan leluasa. Dan kalau ingin lebih ke tengah, pengunjung bisa menyewa perahu karet.

Sajian utama dari pantai Tanjung Tinggi adalah hamparan batu granit raksasa. Masuk ke arena pantai, seolah menelusuri lorong goa. Batu-batu besar berdiri seperti penjaga. Diantara celah batu terhampar jalan berlantai pasir. Sepanjang bibir pantai, saya bisa melihat jutaan kubik batu berdiri tegak menantang angin. Berphoto di depan batu yang menjulang seolah kembali ke zaman purba. Sungguh unik dan eksotik.

Ingin Kembali

Dua hari, dua malam saya habiskan waktu di negri laskar pelangi. Saat matahari minggu masuk melalui celah jendela yang terbuka, saya harus berkemas. Pakaian kotor berpasir ditempatkan dalam plastik. Sisa pakaian yang masih bersih tetap dibiarkan dalam koper. Satu plastik berisi kaos Belitung masuk menemani pakaian tersisa.

Masih ada satu dus sedang oleh-oleh. Makanan dan cinderamata yang harus dibawa ke rumah. Jalan-jalan tidak beli oleh-oleh seperti pagi tanpa matahari. Dalam dus tersebut bertumpuk makanan khas Belitung. Dua kantong terasi udang, orang melayu menyebutnya Belacan di barisan bawah. Delapan plastik ukuran sedang kerupuk ikan di deret atas. Pernak-pernik dari cangkang kerang bertumpuk di tengah.

Mendapatkan oleh-oleh khas Belitung sangat mudah. Di beberapa titik jalan Sriwijaya ada took yang secara khusus menawarkan oleh-oleh Belitung. Pengunjung tinggal memilih dan langsung meminta dibungkus. Agar tidak repot saat pulang, pengunjung bisa meminta pelayan toko mengikat dengan tali presser. Jadi saat masuk bandara, kardus oleh-oleh bisa langsung masuk bagasi.

Mobil sewa sudah siap di depan lobby hotel. Semua barang bawaan masuk ke dalam bagasi. Nada masih enggan beranjak dari tempat dia berdiri. Putri pertama saya tersebut mengisyaratkan sesuatu. Dia masih betah di Belitung. Alam yang masih segar membuat naluri anak berusia empat tahun tersebut terpaut. Keramahan penduduk, kenyamanan lingkungan yang dia alami selama dua hari member kesan yang dalam. Maka sayapun berkata, “Nada, sekarang pulang. Insaallah liburan akhir tahun kita ke sini lagi”

Nada pun tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat indah di pagi nan cerah. Bundanya juga tersenyum. Semoga Tuhan masih memperkenankan kami ke Negri Laskar Pelangi akhir tahun nanti. bangka belitung

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: