Jalan

Sabtu pagi baru saja dimulai, selintas keinginan bersemayam di kepala. Rutinitas menonton tv setelah sholat subuh segera diakhiri. Saya ganti kostum. Sebuah training plus kaos oblong menempel di tubuh. Pandangan mata tertuju ke kunci motor. Pagi ini saya ingin sarapan bubur.

Dua kaki melangkah mantap. Tidak ada deru suara knalpot hasil pembakaran mesin motor. Saya putuskan berjalan. Mumpung masih pagi. Jam di tangan belum juga menunjukkan angka enam. Matahari masih malu-malu menunjukkan wajahnya. Hanya seberkas cahaya jingga melukisi langit di tepi Barat. Beberapa orang santri yang baru ke luar kelas menatap sekilas. Saya balas dengan senyum. Gerbang bawah masih belum berpenghuni. Satpam malam sudah pulang, yang bertugas pagi belum sampai tempat. MUngkin sedang sibuk dengan urusan perutnya.

Terus melangkah melewati deretan kelas yang baru selesai dibangun, saya ditodong dua pilihan; terus menaiki jembatan atau turun ke kebun. Jika memilih menaiki jembatan baru berarti saya berjalan mengikuti arus mobil dan motor, pilihan kedua saya harus turun menyusuri batang-batang sengon kemudian berjalan searus aliran sungai cigatet. Saya pilih yang kedua.

Entah sudah berapa tahun kaki ini tidak diajak berjalan jauh. Sudah terlalu lama saya dimanja teknologi. Motor menjadi primadona. Kembali menikmati perjalanan di atas telapak kaki menghadirkan sensasi yang luar biasa. Meski peluh terus mengalir, namun suasana hati diteduni awan kenyamanan. Sepanjang jalan di pinggir kali cigatet sepuasnya saya menikmati pemandangan. Beberapa orang ibu tengah sibuk mencuci. Bukan hanya pakaian, beraspun mereka cuci di pinggir kali. Sungguh peninggalan kompeni Belanda yang satu ini sangat bermanfaat. Kanal yang dibuat menembus pemukiman penduduk sejatinya dibuat Belanda untuk saluran irigasi. Irisan tanah yang dialiri air dari sungai besar tersebut menjadi bagian yang tidak tarpisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar. Mandi, mencuci dan juga buang hajat dilakukan di sana. Meski zaman terus melangkah, tapi tradisi masyarakat pinggir kali masih tetap sama.

Tidak terasa sudah hampir dua puluh menit saya berjalan. Di depan sudah terbentang jalan raya leuwiliang. Sebuah papan reklame berwarna putih-hijau menyita mata. Papan yang sudah sangat lama tergantung itu tampak lusuh. Selusuh bangunan yang menjadi muara dari papan tersebut. Bisnis perphotoan memang sudah hampir gulung tikar. Studio photo yang dulu paling terkenal tersebut kini sudah hampir sekarat. Fuji Film nama yang sempat mengakar di kepala masyarakat, nampak kelelehan mengejar kemajuan zaman. Masyarakat sudah jarang datang ke studio untuk diphoto. Mereka sudah memiliki kamera sendiri. Berbagai merek handphone yang dilengkapi fitur kamera sudah bisa mencukupi kebutuhan akan photo. Untuk urusan cetak, mereka juga bisa mem-print sendiri.

Rute perjalanan saya tidak bermuara di lapangan leuwiliang. Saya mengambil arah kanan. Tukang bubur yang menjadi destinasi mangkal di pasar bawah, jadi pilihan ke kiri merupakan yang terbaik.

Menyeberang jalan di pagi hari sangat mudah. Mobilitas kendaraan masih minim. Ketika sampai di muka jalan, hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas. Angkutan umum yang biasa memenuhi jalan leuwiliang tidak nampak satu pun. Mungkin masih ngetem di tepi pasar atau di pertigaan karacak, menanti penumpang sampai penuh. Dari fuji film saya masih harus berjalan sekitar 100 meter. Di samping polsek leuwiliang, saya menepi. Tukang bubur yang dicari berada di deretan ruko.

Entah sudah seberapa banyak peluh menetes. Bagian punggung sudah terasa basah. Wajahpun tidak bebas dari seranagn peluh. Dengan kaos yang dipakai, saya usap butiran peluh. Menarik napas dalam sambil menanti tukang bubur menyiapkan pesanan, terasa melegakan. Masih belum banyak pembeli datang ke tempat tersebut. Hanya ada seorang lelaki yang sedang menyantap bubur di dalam ruko. Biasanya saya harus mengantri untuk mendapat seporsi bubur. Mungkin hari masih terlalu pagi.

Dengan tiga bungkus bubur di tangan saya melangkah pulang. Ide naik ojek sempat melintas. Secepat kilat saya hempaskan. hari ini tidak ada motor. saya harus jalan. Meski terasa pegal, saya lanjutkan perjalanan. Rute pulang saya ubah. Tidak masuk ke gang depan fuji film. saya memilih gang samping rumah Haji Taufik, direktur bank amanah umah. jalan yang menjadi saksi mobilitas saya bebapa tahun lalu. Melalui jalan ini saya pulang pergi ke membawa dagangan. Tidak banyak orang tahu. Karena memang tidak perlu diketahui.

Jalan kenangan saya lalui perlahan. Tanpa uang cukup saya pilih berjalan. Sebenarnya dulu sudah ada tukang ojek, tapi saya lebih sering jalan kaki. Melintasi rumah besar orang terkaya di leuwiliang saya terkejut. Tepat di belakang rumahnya ada komplek kuburan tiongkok. Sekarang kuburan-kuburan tersebut tidak nampak. Kuburan sudah ditutup rapat. Pagar tembok mengelilingi komplek kuburan. Di atas pagar berdiri seram pecahan kaca dan botol. Pintu pagar berwarna hitam. Terkunci rapat. Tidak ada celah untuk mengintip keadaan di dalam.

Saya terus berjalan. Berpapasan dengan beberapa orang anak yang baru bangun tidur. Seorang lelaki nampak serius memandikan motor. Kendaraannya dibersihkan tapi dirinya sendiri masih belepotan sisa belek tadi malam. saya tersenyum. Seorang ibu menyapa. ternyata dia kenal saya. saya jawab pertanyaannya. Dia masih bengong. Enatah apa yang ada di dalam kepalanya. Biarlah dia menebak sendiri.

Rumah ust. abdul muthi sudah nampak. seratus meter arah barat dari rumah tersebut nampak barisan bangunan kokoh. bangunan yang berdiri di bekas sawah tersebut kini menjadi hiasan kampung banyuresmi. Setiap hari mereka menatap sepuasnya. bangunan yang juga menjadi bagian dari kehidupan mereka. Semakin banyak bangunan yang berdiri, semakin besar pula harapan mereka. Sudah menjadi fakta bahwa sebagian besar penduduk kampung banyuresmi menjadi buruh cuci di pesantren. Dengan bertambahnya santri berarti bertambah pula penghasilan mencuci mereka. Sebuah jalinan yang sama-sama menguntungkan.

Akhirnya sampai juga di komplek pesantren. Ratusan tetes peluh sebanding dengan kebahagiaan yang bersemayam dalam hati. terlebih di tangan saya ada tiga plastik bubur. Saya satu, bunda dan nada sorang satu. This is breakfast time.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: