Nilai-Nilai Dasar Pesantren

Sebagai sebuah lembaga, pondok pesantren memiliki nilai-nilai dasar yang menjadi landasan, sumber acuan dan bingkai segala kegiatan yang dilakukannya. Nilai-nilai dasar tersebut adalah :

Nilai Dasar Agama Islam

Adapun yang dikembangkan di pondok pesantren selalu bersumber dari nilai-nilai dasar agama Islam yang tercermin dalam Akidah, Syari’ah dan Akhlak Islam. Karena pada hakikatnya, pondok pesantren adalah sebuah lembaga keislaman yang timbul atas dasar dan untuk tujuan keislaman.

Motivasi utama para kiyai dalam mendirikan pondok pesantren, tidak lain karena rasa keterpanggilan mereka untuk melanjutkan risalah yang telah dirintis oleh para Nabi dan Rasul, Shalawatullahi alaihim. Para kiyai itu menyadari sepenuhnya bahwa mereka adalah pewaris para Nabi yang tidak saja harus mewarisi sifat-sifat dari akhlaknya, tetapi juga tugas dan kewajibannya dalam menyampaikan risalah Allah kepada ummat manusia. Karena itu keberadaan pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari konteks dan misi dakwah islamiyah.

Nilai Budaya Bangsa

Sesuai dengan latar belakang sejarahnnya, nilai-nilai dasar Islam yang dikembangkan di pondok pesantren, realisasinya selalu disesuaikan secara harmonis dan akomodatif dengan budaya asli bangsa Indonesia, tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip yang menjadi landasan utamanya.

Bentuk dan sistem pendidikan pondok pesantren ini hanya ada dan dikenal saja, dan tidak terdapat di belahan dunia manapun. Bahkan juga tidak dikenal di negara-negara Arab, tempat lahirnya agama Islam itu sendiri.

Nilai Pendidikan

Sejak semula, pondok pesantren berdiri dan didirikan untuk memberikan pendidikan dan pengajaran Islam kepada umat Islam, agar mereka menjadi “khoiru ummatin ukhrijat linnasi”, yaitu umat yang berkualitas lahir dan batin, yang berkualitas iman, akhlak, ilmu dan amalnya. Selain itu pesantren juga mengembang misi untuk mencetak ulama dan duat dan mutafaqqih fid-din, sebagai kader-kader penerus Da’wah Islamiyah dan Indzrul Qoum di tengah-tengah masyarakat.

Para kiyai pengasuh pesantren menyadari bahwa untuk mencapai maksud tersebut hanyalah bisa dilakukan lewat pendidikan. Karena itu, nilai-nilai dasar pendidikan senantiasa menjadi landasan dan sumber acuan bagi seluruh kegiatan sehari-hari di pesantren.

Nilai Perjuangan dan Pengorbanan

Para kiyai pengasuh pesantren menyadari sepenuhnya bahwa tugas-tugasnya di pesantren adalah suatu perjuangan berat yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, lahir maupun batin. Tidak sedikitpun terlintas dalam pikiran mereka niat untuk mencari kesenangan dan keuntungan duniawi. Nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan selalu menjadi landasan mereka dalam kegiatan sehari-hari.

Dalam mendidik santri dan membimbing umat, mereka selalu berusaha untuk menjahui segala hal yang bisa merusak akidah dan akhlaq, baik langsung maupun tidak langsung. Maka tidaklah heran, jika pesantren-pesantren lama banyak yang berlokasi di desa-desa terpencil. Ini tidak lepas dari sikap protes para kiyai yang sangat keras terhadap segala bentuk kebatilan, ketidak-adilan, dan kemaksiatan yang dilakukan oleh kaun penjajah waktu itu. Bahkan pada masa penjajahan dan awal kemerdekaan, pesantren selalu menjadi pusat perlawanan terhadap kolonialisme dan kaum kolonial. Tidak sedikit dari para kiyai dan santrinya yang mati syahid sebagai kusuma bangsa di medan peperangan.

PANCA JIWA PONDOK PESANTREN

Dikutip dari prasaran KH. Imam Zarkasyi (Gontor) dalam seminar Pondok Pesantren seluruh Indonesia di Yogyakarta, pada tanggal 4 – 7 Juli 1965.

Kehidupan dalam pondok pesantren dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat kita simpulkan dalam PANCA JIWA sebagai berikut :

JIWA KEIKHLASAN

Sepi ing pamrih (tidak karena dorongan keinginan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu), semata-mata karena untuk “IBADAH”. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan di pondok pesantren. Kiyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, lurah pondok ikhlas dalam memberikan bantuan (asistensi).

Segala gerak-gerik dalam pondok pesantren dalam suasana keikhlasan mendalam. Dengan demikian, terciptalah suasana hidup yang harmonis antara “kiyai yang disegani” dengan “santri yang taat penuh cinta hormat”, dengan segala keikhlasannya.

Dengan demikian, maka seorang santri mengerti arti Lil-Lahi Ta’ala, arti beramal, arti taqwa dan arti ikhlas. Sebagai seorang muslim tentunya di mana saja akan berda’wah. Maka santri merupakan persiapan ke arah itu, di mana ada kesempatan. Maka mudah dikatakan bahwa pondok pesantren merupakan Obor yang akan membawa penerangan Islam.

2. JIWA KESEDERHANAAN

Kehidupan dan pondok diliputi suasana kesederhanaan, tapi ia agung. Sederhana bukan berarti passif (nrimo = bahasa jawa), dan bukanlah artinya itu karena kemelaratan atau kemiskinan … bukan. Tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup dengan segala kesulitannya.

Maka di balik kesederhanaan itu terpancar jiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perjuangan hidup, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup tumbuhnya mental atau karakter yang kuat yang menjadi syarau dalam segala segi kehidupan.

3. JIWA KESANGGUPAN MENOLONG DIRI SENDIRI (SELP HELP atau BERDIKARI)

Didikan inilah yang merupakan senjata hidup yang ampuh. Berdikari bukan saja dalam arti bahwa santri selalu belajar dan mengurus segala kepentingannya sendiri, tatapi juga pondok pesantren itu sendiri sebagai Lembaga Pendidikan tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain. Meskipun demikian, pesantren tidak bersikap kaku sehingga tidak pernah menolak pihak lain yang ingin membantu pesantren asalkan tidak membuat suatu keterikatan yang merugikan pesantren.

4. JIWA UKHUWAH DINIYAH YANG DEMOKRATIS ANTARA SANTRI

Kehidupan di Pondok Pesantren diliputi oleh suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala kesenangan dirasakan bersama, dengan jalinan perasaan keagamaan. Ukhuwah (persaudaraan) ini bukan saja selama di pondok itu sendiri; tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat, sepulang mereka dari pondok kelak.

5. JIWA BEBAS

Bebas dalam berpikir dan berbuat. Bebas dalam menentukan masa depannya. Bebas dalam memilih jalan hidup di tengah-tengah masyarakat kelak bagi para santri, dengan berjiwa optimis dalam menghadapi kehidupan. Kebebasan itu bahkan sampai pada bebas dari pengaruh asing dan pengaruh barat (kolonial). Di sinilah perlu dicari sejarah pondok pesantren yang mengisolir dari kehidupan ala barat yang dibawa oleh para penjajah.

Hanya saja, dalam kebebasan ini seringkali kita temui unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal), sehingga kehilangan arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya ada yang terlalu bebas (untuk tidak dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggap paling baik sendiri, yang telah pernah menguntungkan pada zamannya. Sehingga tak mau menoleh pada keadaan sekitar dengan perolehan zamannya dan tidak memperhitungkan masa depannya. Akhirnya tidak lagi bebas, karena mengikat diri pada yang diketahui saja.

Maka kebebasan ini harus dikembalikan kepada aslinya, yaitu di dalam garis-garis disiplin yang positif, dengan penuh tanggungjawab, baik dalam kehidupan Pondok Pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Jiwa-jiwa yang menguasai suasana kehidupan pondok pesantren itulah yang dibawa santri sebagai bekal pokok dalam kehidupannya dalam masyarakat. Dan jiwa Pondok Pesantren inilah yang harus hidupkan, dipelihara dan dikembangkan sebaik-baiknya.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: