Taufik Hidayat, Sang Maestro Gantung Raket

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat. Seperempat abad adalah bagian dari sebuah perjalanan hidup. Demikian juga bagi pemain bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Pemain kelahiran Bandung, 10 Agustus 1981 telah melukis banyak gambar selama berkarir sebagai atlet Bandimton.

Ganteng, murah senyum dan tentunya berprestasi, demikian sosok Taufik di mata publik. Mengenal suttlecock sejak umur delapan tahun, suami dari Ami Gumelar mencurahkan seluruh waktunya untuk bulutangkis. Tidak heran jika Taufik identik dengak bulutangkis, sebaliknya bulutangkis Indonesia menjadi sangat identik dengan Taufik.

Karier Taufik di tingkat nasional dimulai pada saat dia masuk pelatnas pada 1996. Anak muda yang penuh talenta ini diasuh oleh pelatih bertangan dingin Mulyo Handoyo. Dibawah arahan Mulyo, pemain asal Jawa Barat tersebut berkembang pesat. Dua tahun setelah bergabung ke pelatnas, Taufiq berhasil mengharumkan nama Indonesia di pentas Asia. Taufik yang bermain di tunggal putra menjadi bagian dari tim Indonesia yang memenangi medali emas bulutangkis Asian Games 1998 Bangkok.

Prestasi demi prestasi diukir pemain muda ini. Menjuarai Brunei Open 1998 setelah di final mengalahkan pemain China Dong jiong, sinar Taufik mulai menyilaukan kompetisi bulutangkis dunia. Di Indonesia Open 1999, Taufik berhasil menjadi yang terbaik. Sebuah kemenangan yang mengobati kekecewaan Taufik setelah kalah di partai puncak All England dari pemain kidal Denmark, Peter Gade. Prestasi di Indesia Open berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Sampai sekarang nama Taufik masih tercatat sebagai pemegang rekor juaran Indoensia open dengan memenangi enam gelar 1999, 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2006.

Puncak prestasi menantu mantan ketua PSSI, Agum Gumelar adalah ketika berhasil mengerek bendera Merah Putih ke tiang tertinggi di Olimpiade Athena 2004. Sebuah prestasi yang membuat namanya tertulis dalam sejarah emas atlet Indonesia di pentas dunia. Kemangan di Olimpiade menempatkan Taufik di rengking teratas pemain bulutangkis dunia. Setahun berikutnya Taufik menasbihkan namanya sebagai pemain nomer wahid di jagat raya dengan memenangi kejuaraan dunia.

Waktu terus bergulir, sinar taufik mulai meredup. Setelah menjuarai banyak kejuaraan di medio duaribu, atlet yang murah senyum ini terlihat kesulitan mempertahankan hegemoninya. Lin Dan pemian tunggal putra China yang dikalahkan Taufik di final kejuaraan dunia 2005 terus melaju. Di setiap kejuaraan bulutangkis di awal 2006 sampai penghujung duaribu, nama Lin Dan mengganti Taufik di peringkat satu dunia. Setiap pertemuan Taufik dan Lin Dan selalu dinanti. Setelah kalah di final Japan Open 2007, Taufik berhasil membalas rival terberatnya itu di final kejuaraan asia di tahun yang sama. Tapi setelah itu, Taufik kesulitan mengatasi kedigdayaan Super Dan.

Di penghujung duaribu Taufik mulai sering kalah dari pemain tidak terkenal. Usia menjadi salah satu faktor penyebab kemunduran prestasi sang maestro. Backhand smash Taufik yang mendunia mulai bisa diatasi oleh pemian lain. Pemainan netting yang tipis dan mematikan, mulai banyak yang gagal. Taufik terus berjuang mengambalikan prestasinya, tapi waktu tidak bisa dibohongi. Pemain kebanggaan Merah Putih sudah sampai pada titik jenuh. Taufik yang bermain Bulutangkis sejak kecil sudah harus mundur.

Indonesia Open 2013 menjadi ajang terakhir pemain asal Bandung. Legenda bulutangkis Indonesia harus mengucap salam perpisahan. Meski akhir dari karier Taufik ditangan pemain India, namun itu tidak menghapus kebesaran namanya. Taufik Hidayat akan selalu dikenang masyarakat Indonesia. Taufik adalah satu dari sedikit putra bangsa yang telah mengharumkan nama Indonesia.

“Hari ini pertandingan terakhir buat saya. Mungkin kalau dilihat ending yang nggak begitu bagus — kalah lawan India, tapi saya harap jangan dilihat hanya hari ini, tapi juga yang lalu-lalu. Kemenangan, kekalahan. Proses dari latihan ke pertandingan,” ujar Taufik dalam konferensi pers terakhirnya sebagai seorang pemain.

Selamat jalan Taufik. Terima kasih atas segala prestasi yang telah diraih. Semoga akan lahir Taufik Hidayat-Taufik Hidayat yang baru. Semoga prestasi bulutangkis Indonesia kembali menjadi kebanggaan anak bangsa.

Advertisements

Asa dari Kubangan Dosa

Aku dilahirkan di tengah kebisingan dentuman suara musik dari salon sebesar drum. Tangisanku pecah mengikuti irama naik-turun penyanyi yang entah dari mana asalnya. Hanya ada ibuku dan seorang bidan yang dipanggil menunggui hari pertamaku di dunia. Keramaian atau lebih tepatnya kebisingan yang menyertai kelahiran itu persis di samping telinga. Meski demikian kami hanya bertiga. Ibu menangis menahan sakit, bidan cemas menanti kepala bayi keluar.

Demikian proses kelahiranku. Di tengah bangunan berdinding triplek yang disekat aku hidup. Hanya ada satu jendela tempat menerawang dunia luar. Dan tentunya satu pintu untuk aktivitas keluar-masuk. Tidak ada ruang tamu, dapur atau kamar mandi. Hanya ada satu springbed berwarna biru tua, lemari dua pintu, meja rias, dua bantal dan satu guling. Aku habiskan waktu bergumul di dalam ruang 3 X 3 meter selama dua tahun.

Menginjak tahun ketiga, aku sudah mulai menghirup udara segar. Meski ibuku sangat hati-hati, aku selalu bisa meloloskan diri. Bermain tanpa teman hanya menyaksikan puluhan orang dewasa hilir mudik. Gelak tawa menjadi menu utama. Terkadang ibu menggondol aku masuk ke dalam kamar. Kata ibu aku tidak boleh keluar. “Nanti kamu diculik, dibawa kabur, dijadikan kuah sop untuk makanan…”. Kalimat itu berulang kali keluar dari bibir ibu yang merah bergincu.

Aku hanya pasrah. Menghabiskan waktu bergumul dengan si Rabbit. Boneka kain berwarna merah jambu itu satu-satunya teman hidupku. Aku memanggilnya Rabbit karena demikian ibu memperkenalkannya. Rabbit sering aku ajak ngobrol, meski dia diam terus. Aku ajak dia becanda, tertawa, meski sampai aku menangis dia tetap diam. Aku pun sering bicara sendiri. Hingga terbiasa dan merasa bahagia.

“Ibu pergi kerja, hati-hati di rumah”, entah sudah berapa ribu kali aku mendengar kalimat itu. Ibuku pergi setelah matahari mulai redup. Tidak kembali hingga menjelang suara ayam jantan berbunyi. Aku tidak pernah bertanya apa pekerjaanya. Selama ibu pulang membawa uang, aku senang. Ibu membeli tv saat aku ulang tahun ke lima. Si Rabbit selalu aku ajak nonton. Kami berdua tidak terpisahkan.

Sesekali ibu mengajak ke pasar. Aku mau ikut dengan satu syarat, Si Rabbit ikut serta. Kami belanja, melihat-lihat barang baru, menyewa mainan, dan pulang dengan membawa kelelahan. Ada kesenangan baru setiap kali ibu mengajak ke luar. Udara yang dihembuskan dahan-dahan pohon membuat aku terkesan. Ada kelembutan di sana. Sentuhan lembut di atas kepala mengurai rambut menyelusup ke dalam sanubari. Si Rabbit juga senang. Dia pasti senang, karena aku senang.

Tidak terasa usiaku sudah menginjak tiga belas. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Rambutku hitam tergerai. Tinggiku hampir menyamai ibu. Sudah jelas lekukan kewanitaan terbentuk dalam diriku. Ibu bilang aku cantik, Aku mengiyakan. “Secantik ibu”.

Ibuku meski sudah memasuki kepala tiga masih terlihat cantik. Kulitnya kuning langsat, perawakannya sedang dan masih kencang untuk ukuran usianya. Badannya dirawat. Aku baru tahu setiap minggu ibu pergi ke salon. Segala macam perawatan dia ikuti. Siapapun yang baru bertemu ibu, tidak akan menyangka wanita cantik itu sudah memiliki anak gadis.

Aku cantik sudah bukan rahasia karena ibuku cantik. Kecantikan sangat menggoda, membuat banyak orang terperdaya. Ibuku yang cantik termasuk di dalamnya. Ibu jadikan kecantikan sebagai alat untuk mendapatkan uang. Parasnya yang ayu sangat mudah menarik perhatian laki-laki. Tua atau muda pasti akan jatuh hati memandang indahnya ciptaan Tuhan yang berwujud ibuku. Ratusan ribu keluar dari kantong laki-laki yang ingin menikmati kecantikan itu.

Dentuman kecewa yang berbaur dengan duka menghantam dada saat pertama aku mendengar kata lonte. Sekitar tiga tahun lalu, waktu aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Seorang teman lelaki memangilku anak lonte. Aku marah. Rambutnya yang kriting ku jambaki. Dia menjerit kesakitan. Kegaduhan di dalam kelas mengundang perhatian. Guru kelas kami datang setengah berlari. Melihat aku sedang menjambaki si kriting, bapak guru berteriak marah. “Berhenti, dasar anak Lon**” Bagi disambar petir tepat di kepala, aku tersungkur ke lantai. Seluruh persendian tercerabut dari tempatnya. Aku hanya seonggok daging tidak berdaya. Tinggal diangkat dengan sekop, kemudian dibuang ke tempat sampah.

Ibu menjadi objek kemarahan. Aku meraung setiba di rumah. Segala isi kamar aku keluarkan. Ibu berteriak menenangkan. Aku sudah kemasukan setan. Tidak peduli dengan kerumunan orang yang datang melihat. Aku masih meraung. Batinku terluka. Sayatan yang tepat di ulu hati. Kalau bisa aku mati saja.

Setelah peristiwa itu entah sudah berapa ratus kali aku mendengar kata lon**. Teramat sering kata itu mengisi lubang telinga. Sehingga tidak ada bedanya dia dan kentut yang identik dengan pantat, atau upil dengan hidung. Karena sering didengar maka kata itu sudah tidak lagi menusuk ke dalam dada. Cukup bermuara di kuping. Kalau orang bertanya seberapa sering aku korek kuping, aku jawab sesering kata itu keluar dari mulut orang usil.

Aku sudah kebal. Menjadi anak dari seorang wanita penghibur bukan sebuah pilihan. Aku tidak pernah memilih untuk terlahir dari rahim ibuku. Kenistaan yang orang sematkan kepadaku dengan mengatakan aku anak haram tidak akan mengurangi kecintaanku kepada ibu. Aku tahu ibuku bukan wanita suci. Ibu bergelimang dosa. Akibat perbuatan dosa itulah aku terlahir. jadi ketika orang mengatakan aku anak lon** aku tidak akan marah. Kenapa? karena itu fakta.

Ibu pernah berpesan suatu malam, “Eliza, kamu harta berharga yang ibu punya. Tidak ada yang lain. Ibu tidak ingin kamu pergi dari pangkuan, tapi ibu juga takut kalau kamu terus di sini. Sebenarnya ibu ingin meningalkan tempat ini, tapi itu tidak mungkin. Masih banyak urusan ibu yang belum selesai. Ibu hanya berharap kamu bisa jaga diri.”

Tempat hidup kami tidak seperti perkampungan teman sekolah dasar yang lain. Mereka hidup di rumah lengkap dengan keluarga, diapit para tetangga yang saling mengenal baik. Ada ketua RT dan juga RW. Aku tidak mengenal itu. Di tempat aku tinggal hanya ada Mamih dan beberapa orang lelaki kekar. Mereka adalah panutan sekaligus sumber keamanan. Siapa saja yang mengganggu kami akan berhadapan dengan para lelaki kekar bertato. Sebaliknya jika kami melanggar aturan Mami akan berhadapan dengan lelaki bertato tersebut.

Perempuan yang dipanggil Mami berusia diawal lima puluh. Meski sudah setengah abad umurnya, dandanannya tetap menor. Bedak dan gincu tebal menutupi kulit mami yang mulai mengendur. Mami baik kepadaku. Tiap kali aku berpapasan dengannya Mami selalu menyapa. “Bidadari kecil mau kemana?”. beberapa kali Mami memberi aku uang. “Buat jajan di sekolah” demikian pesan wanita yang sangat berkuasa di komplek kami.

Ketika aku cerita tentang kebaikan Mami, ibu hanya tersenyum. Wanita yang telah melahirkan aku ke dunia itu mengelus kepalaku. “Ingat pesan ibu, kamu harus jaga diri”

Entah apa maksud perkataan ibu, aku hanya mengangguk.

***

Ujian Akhir Nasional baru saja berakhir. Anak-anak seragam putih-merah kelas akhir berharap lulus. Teman-teman di sekolah sudah menyusun rencana. Kebanyakan ingin masuk ke SMP Negri. Katanya di sekolah negri tidak ada bayaran alias gratis. Meski demikian ada juga yang mau masuk ke sekolah swasta. Si Aldi bahkan sudah didaftarkan ke sekolah berasrama. Katanya sekolah yang akan dimasukinya itu sekolah elit. Uang masuknya saja puluhan juta. Hanya anak-anak orang kaya yang bisa sekolah di sana.

Aku berharap bisa melanjutkan ke SMP. Sebelum ujian nasional, aku sempat meminta kepada ibu untuk itu. Ibu mengangguk. Perempuan cantik yang setiap malam bergumul melawan perasaan bersalah itu mengajukan syarat. “Asal dapat sekolah negri, kamu boleh lanjut ke SMP”. Dari sejak itu, aku belajar serius. Setiap malam aku sumpal kuping dengan kapas agar suara musik dari ruangan di depan kamar tidak menganggu. Buku pelajaran akau baca berulang kali. Catatan berupa ringkasan pelajaran pun aku buat sendiri. Aku ingin lulus dengan nilai bagus. Aku ingin terus sekolah. Hanya dengan nilai bagus aku bisa masuk SMP negri.

SMP adalah gerbang untuk sebuah asa. Aku sudah tiga belas, sudah cukup pandai untuk menentukan cita-cita. Diantara teman sekelas, aku paling besar. temanku kebanyakan baru sebelas atau dua belas tahun. Mereka masuk sekolah umur enam atau tujuh. Sedangkan aku masuk sekolah saat berumur depalan tahun. Meski sering menjadi objek penghinaan, aku tetap mantap menatap masa depan. Aku ingin menjadi guru.

Hari yang dinanti telah tiba. Di papan pengumuman terpampang namaku di deretan atas. Meski bukan paling atas, tapi sudah cukup untuk masuk ke sekolah negri. Ibu kepala sekolah menyalami anak-anak yang mendapat nilai tinggi. Aku sangat senang. Ada genangan air yang hendak jatuh dari kelopak mata. Ibu kepala sekolah mengelus rambutku. Beliau tahu siapa aku. Wanita yang sudah lebih tiga puluh tahun mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak bangsa itu sudah seperti nenekku. Di pangkuannya aku tumpahkan tangis saat teman-teman menghina. Di dekapannya aku merasakan ketenangan. Dari beliau aku banyak belajar tentang kesabaran. Sosok wanita sempurna yang menjadi idola. Aku ingin menjadi guru karena ingin meneruskan perjuangan beliau.

Siang itu matahari terasa sangat menyengat. Aku setengah berlari pulang. Di sepanjang jalan tidak banyak orang terlihat. Mungkin mereka bersembunyi di ruang tengah rumah dikipasi mesin yang berputar oleh arus listrik. Pintu kamar tidak dikunci. Pasti ibu ada di dalam. Aku tidak sabar menyampaikan kabar gembira. Ibu akan bangga. Putrinya masuk tiga besar. Rata-rata sembilan sudah lebih dari cukup untuk mendaftar ke sekolah negri.

Kedua kaki melangkah masuk ke ruangan 3 x 3 yang sudah menyimpan kisah hidup selama tiga belas tahun. Di atas kasur sesosok tubuh dibalut selimut. Ibu mungkin sedang tidak enak badan. Tanganku menyingkap bagian atas selimut. Tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram. Tanganku ditarik kencang, aku terjatuh tepat dipelukannya. Aku meronta, dia semakin kencang mendekap tubuhku. Sebelum aku berteriak tangan kirinya sudah menutup mulutku…

Sementara itu di gang sempit menuju bendungan seorang wanita tigapuluhan berjalan lunglai. Kesedihan yang coba dia lipat tidak kuasa ditahannya. Air mata terus saja mengaliri pipinya. Di ujung gang sebelum pintu air, dia berlari seperti sedang kerasukan. Suara benturan benda dengan air terdengar seketika. Air membuncah, membuat riak besar kemudian perlahan pudar.

Bogor, 10 Juni 2013

Tak Bosan Kah

bayi menangis
Saat kecil kau sering teriak-teriak memanggil ibumu,

setelah besar kau masih juga melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau sering menangis di pangkuan ibumu,

setelah besar kau masih juga melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau sering terlena bermain, membuat ibumu khawatir

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau buat isi rumah berantakan, membiarkan ibumu merapihkan

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau suka minta ini-itu, segalanya ingin dilayani ibu

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau suka membantah ibumu, tidak bisa dilarang jika ada mau

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Sejak kecil kau banyak menyusahkan ibumu

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Anak Muda Juara

Usianya baru 20 tahun. Wajahnya masih innocent. Pemuda itu lahir 17 Februari 1993 di Cervera, sebuah daerah yang masuk wilayah Catalonia. Menyebut nama Catalonia identik dengan klub sepak bola yang baru saja menjuarai liga Spanyol, Barcelona. Tapi sisihkan dulu Barca beserta bintang asal Argentinanya. Ini bukan ranah olah si kulit bundar. Ini ranah para rider.

Marc Marquez nama pemuda asal katalan tersebut. Sejak kecil sudah cinta motor. Mulai membalap pada usia lima tahun. Dia tumbuh dan berkembang di era Valentino Rossi. Maka tidak aneh jika Marquez menjadi fans berat the Doctor. Seolah mengikuti jejak Sang Pujaan, Marquez berhasil menjuarai kelas terendah Balap Motor Dunia 125 cc pada tahun 2010 setelah berhasil naik podium pertama lima kali berturut-turut. Prestasi tersebut sama persis torehan Rossi di tahun 1997.

Berhasil di 125 cc, Super Marc naik kelas. Di moto2 dengan tunggangan 500 cc pemuda yang murah senyum tersebut mendapat kesulitan. Di dua seri pembuka Qatar dan Jerez, Marc Marquez mengalami kecelakaan. Jangankan podium, garis finish pun tidak bisa diraih. Seri ketiga yang digelar di Portugal, pemuda Spanyol tersebut berada di barisan anak bawang. Urutan ke 21 merupakan pencapaian terbaik bagi dia, dibandingkan dengan dua seri sebelumnya.

Belajar dari kegagalan di tiga seri pembuka, Marquez langsung melejit di seri keempat. Sempat tercecer ke urutan sembilan, rider Honda tersebut berhasil naik podium sebagai kampiun. Ini merupakan kemenangan perdana Marquez di Moto2. Sebuah pencapaian yang diikuti dengan prestasi lainnya. Perlahan matador muda menjadi ancaman bagi sang pemimpin klasemen balap, Stefan Bradl. Kemenangan demi kemenangan diraih. Dari tujuh seri di putaran kedua, Marc berhasil menajdi juara. Hingga di seri Jepang, Marquez berhasil menyalip perolehan poin Bradl. Sang pendatang baru memimpin klasemen dan siap untuk menjadi juara dunia.

Semua mata tertuju pada bocah berusia 18 tahun. Marc akan menjadi juara dunia moto2 termuda. Namun nasib berkata lain. Di GP Malaysia Marquez mengalami kecelakaan. Cedera membuat dia urung tampil di seri penutup. Stefen Bradl pun menjadi juara. adapun Marc harus puas menajdi runner up.

Bukan Marquez jika tidak bisa belajar dari kegagalan. Anak muda ini bertahan di moto2 dengan target juara. Dan target tersebut dapat raih. Marc berhasil menjadi juara dunia moto2 2012 pada usia 19 tahun. Suatu pencapaian yang fenomenal bagi pembalap yang masih hijau.

Setelah merajai moto2, Marc naik kelas premier. MotoGP menjadi destinasi utama pemuda yang haus prestasi. Dikontrak Honda untuk menggantikan juara dunia 2011, Casey Stoner yang pensiun muda, menjadi catatan tersendiri di MotoGP. Dalam sejarah balap motor dunia, baru Marc Marquez yang mendapat izin menjadi pembalap di tim pabrikan pada tahun pertama berkompetisi di kelas premier.

Pencinta balap motor pun dibuat penasaran. Apa yang bisa dilakukan oleh anak muda yang baru menginjak kepala dua tersebut. Marquez kembali menunjukan kehebatan. Di seri pertama yang digelar di Qatar, pembalap honda dengan nomor motor 93 tersebut berhasil finis di urutan ketiga. Sebuah pencapaian yang sangat membanggakan. Di seri pembuka MotoGP tersebut Marquez berhadapan langsung dengan idolanya. Di lintasan balap, Marquez sempat menyalip Rossi untuk menduduki posisi kedua. Namun pengalaman Rossi mengalahkan keberanian Marc. The Doctor berhasil mengambil alih posisi kedua ketika balap tersisa dua lap.

“Saya telah banyak berusaha. Namun, pada akhirnya, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan untuk berada di podium bersama dua pembalap ini (Lorenzo dan Rossi),” kata Marquez.

Pengalaman naik podium di balapan perdana membuat Marc makin nyaman. Sirkuit the Americas menjadi saksi sebuah sejarah yang ditorehkan anak muda asal Catalonia. Marc berhasil menjadi juara di seri kedua tersebut setelah mengalahkan rekan setimnya yang lebih berpengalaman Dani Pedrosa. Nama Marc Marquez pun dicatat tinta emas sebagai pembalap termuda yang memenangi seri premier. Dia berusia 20 tahun 2 bulan dan 5 hari. Memecahkan rekor yang pernah dibuat Freddie Spencer tiga puluh tahun lalu.

Kemenangan di Amerika tidak membuat Marc lupa diri. Pembalap muda tersebut masih tetap menginjak bumi. Marc merasa sebagai junior yang sedang belajar. Adapun kemenangan yang dia raih merupakan penghias masa pembelajaran. “Saya tidak ingin memikirkan tentang hal itu (juara dunia) saat ini,” tutur juara dunia Moto2 2012 itu, Kamis, 25 April 2013. “Sejujurnya, menurut saya, memenangkan gelar juara di tahun ini praktis tidak mungkin.”

Marc yang low profile menambah kredit tersendiri di mata para fans MotoGP. Seri ketiga digelar di Jerez Spanyol. Ada tiga pembalap tuan rumah yang sedang berada di top rank. Juara dunia 2012 Jorge Lorenzo, Dani Pedrosa runner up tahun lalu dan sang pendatang baru Marc Marquez. Publik Spanyol menginginkan anak bangsanya menjuarai Jerez. harapan tersebut menjadi kenyataan. Tidak tanggung-tanggung, tiga pembalap Spanyol menguasai podium. Pedrosa menjadi juara, Marc runner up dan Lorenzo ketiga. Bagi Marc momen ini sangat spesial. Di tikungan terakhir Jerez Marc berhasil menyalip Lorenzo. Meski sempat terjadi adu fisik antara Honda yang dikendarai Marc dan Yamaha tunggangan Lorenzo, kedua pembalap berhasil finish dengan selamat. Hasil di Jerez mengangkat poin Marc. Pembalap Repsol Honda tersebut menjadi pemimpin klasemen. Sebuah prestasi besar bagi pembalap muda yang baru pertama kali ikut MotoGP.

Marc Marquez masih terus membuat rangkaian cerita indah tentang dirinya. Sirkuit Le Mans Prancis menjadi saksi kehebatan anak muda asal negri para matador tersebut. Seri keempat Marc berhasil meraih pole position, yang berarti dia akan berada di garis paling depan pada saat start. Semua mata tertuju pada honda bernomor 93. Gerimis yang membasahi sirkuit membuat sedikit kesulitan. Marc tidak bisa start dengan optimal. Dia didahului banyak pembalap dan tercecer di urutan ke delapan.

Dua kali honda yang ditunggangi Marc tergelincir jauh saat menikung. Dia pun semakin jauh dari rombongan terdepan yang dikuasai Pedrosa, Dovizioso, Crutchlow, Rossi dan Hayden. Marc kembali memperlihatkan bakat besarnya. Bertahan di belakang rombongan terdepan hampir di dua pertiga balapan, Marc mulai menyodok di lima putaran terakhir. Satu persatu pembalap dia lewati. Marc berhasil meraih podium ketiga di belakang Pendrosa dan Crutchlow. Padahal saya yakin Marc bisa terus menggeber motornya untuk menyalip Crutchlow, tapi dia tidka melakukan itu. Marc nampak puas berada di posisi ketiga.

Melihat aksi Marc dilintasan balap saya tidak berhenti kagum. Anak muda ini nampak lebih dewasa dari usianya. Dia tidak seperti kebanyakan anak muda yang gampang meledak, terlalu bersemangat dan jago menyerobot sehingga mudah terjatuh. Marc nampak lebih tenang dan pintar berhitung. Satu lagi, Marc selalu belajar dari pengalaman. Sebuah kombinasi hebat bagi pembalap Muda tersebut untuk meraih sukses di seri-seri berikutnya.

Manusia Merdeka

Dia lelaki kurus dengan punggung sedikit melengkung. Lengkungan itu alami karena postur tubuhnya yang tinggi tidak cukup ditopang oleh lemak di atas bahu. Sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi karena kurus maka lengkungan itu menampakkan diri. Usianya di awal tiga puluh. Telah berkeluarga. Dari rahim istrinya dia mendapatkan seorang putri cantik. Belum genap tiga tahun umurnya. Cukup menjadi energi untuk terus berusaha demi masa depan.

Dia lelaki pendiam. Tidak banyak kata yang bisa didengar dari mulutnya. Ditanya dia menjawab. Tidak ditanya dia hanya diam. Kalaupun berpapasan, dia tersenyum. Dan selalu diikuti dengan bungkukan badan. Sopan. Satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan pria sunda itu.

Tadi pagi saya melihatnya. Sebenarnya tidak seluruh dirinya saya lihat. Hanya sebagian yang nampak di hadapan mata. Satu pasang kaki tanpa alas, itu yang bisa saya lihat. Selebihnya tenggelam di bawah mobil ambulan. Mendengar kata ambulan terbesit ngeri. Dia tidak sedang dibawa ambulans atau tertabrak atau terlindas atau terjebak di bawah tubuh ambulans.

Laki-laki yang baru saya kenal sekitar empat tahun lalu itu masuk ke kolong ambulans. Tangannya dengan telaten menggosok rangkaian besi yang menempel. Terus begitu. Sesekali dia siramkan air. Kemudian menggosok lagi. Mata saya melirik badan ambulans. Masih diselimuti busa.

Dia pekerja. Ambulans yang sedang dibersihkan bukan miliknya. Pemilik ambulans juga sedang tidak ada. Pergi jauh melintasi samudra. Sang pemilik belum akan pulang dalam waktu dekat. Kalaupun ambulans itu dia biarkan, tidak akan kenapa.

Saya tidak pernah mendengar lelaki itu bicara tentang amanah. Kata-kata sakti tersebut bukan temannya. Mungkin dia tidak mengenal. Dia hanya seorang pekerja. Diberi tugas menjadi sopir. Sebagai sopir yang dia butuhkan adalah konsentrasi menyetir. Dia harus menjaga kebersihan kendaraan. Dia harus merawatnya. Hanya itu. Dia tidak banyak bicara tentang tanggung jawab. Dia hanya bekerja. Dan dia bekerja sesuai dengan tugasnya.

Laki-laki itu masih membersihkan kolong ambulans. Dia tidak tahu saya sedang perhatikan. Dia mungkin tidak ‘engeh’ bahwa malaikat juga ikut memperhatikan. Mungkin dalam kepalanya hanya ada sebersit keinginan, “ambulans ini harus bersih’.

Sungguh nikmat bekerja karena dorongan naluri. Bekerja dengan sepenuh hati. Tanpa harus menunggu diperintah. Tidak usah dimarahi dulu. Bekerja sesuai dengan tugas, meski yang menugasi tidak tahu. Bekerja maksimal meski tidak mendapat sorotan perhatian.

Laki-laki itu cermin kebebasan. Dia manusia merdeka. Bekerja bukan karena atasan.

Kata Siapa Kamu Salah

Seorang teman menghampiri saya. Dia cerita tentang prilaku anak buahnya. Diantara puluhan orang murid yang dia ajar, ada seorang yang harus mendapat perhatian lebih. Si murid bisa dibilang ‘badung’. Tapi kalau merujuk pada pendapat Munif Chatib penulis buku ‘Sekolahnya Manusia’ s murid tidak ‘badung’. Anak-anak memang berbeda. Mereka diciptakan dengan keunikan masing-masing. Ada yang senang dengan ketenangan, ada yang suka kegaduhan ada juga yang suka orang lain tenang tapi dia gaduh terus. Begitulah manusia.

Saya coba menyabarkan. Ternyata si teman sudah mendonasikan kesabarannya hingga hampir tetes terakhir. Dia sudah berusaha mendekati anak tersebut. Bertutur lembut, membelai dengan kasih, memperhatikan setulus ibu. Tapi yang namanya anak-anak, kebaikan itu masih belum cukup. Sebenarnya untuk urusan ini bukan hanya anak-anak, orang tua juga sama. Kebaikan itu membekas jika kita yang melakukannya, ketika orang lain yang melakukan kebaikan maka akan bersifat temporer.
Tidak usah jauh-jauh melihat orang lain. Coba saja kita see deep inside, melihat ke dalam diri sendiri. Kita punya manusia istimewa yang bernama ayah dan ibu. Yang terakhir disebutkan bahkan pernah mempertaruhkan nyawa demi kita. Kebaikannya sudha tidak bisa diukur lagi. Sampai ada pepatah terkenal ‘Kasih ibu sepanjang jalan’. Coba ukur aja jalan, berapa juta kilo tak terhingga sepanjang masa. Orang yang sudah sangat baik itu masih juga kita ‘ambeki’. Kebaikan ibu yang segunung saja bisa hilang hanya dengan setitik kealpaan.
Kepada teman itu saya tuturkan.
Saya sering kecewa bukan karena orang lain mengecewakan saya. Bukan sama sekali. Saya kecewa karena terlalu mengharap lebih dari orang lain. Saya berbuat baik kepada orang lain, kemudian diam-diam saya berharap semoga dia menjadi baik. Setelah menjadi baik, semoga dia juga berbuat baik kepada saya. Bahkan terkadang harapan itu menjadi liar. Saya berbuat satu kebaikan kepadanya, siapa tahu nanti dia berbuat kebaikan lebih banyak kepada saya. Atau bisa juga yang lebih ringan. Saya berbuat baik kepada dia, semoga ketika dia menjadi baik tidka lupa kepada saya. Atau yang sedikit malu-malu, saya berbuat baik kepada dia semoga Tuhan membalas kebaikan saya.
Urusan pahrim lah yang membuat saya kecewa. Tapi kalau tidak pamrih, susah juga. saya kan manusia. Tuhan sendiri mengajarkan kepamrihan. “Kalau kamu baik di dunia akan mendapat sorga”
Jadi kekecewaan itu biasa. Anak yang badung itu juga biasa. Kalau sudah biasa kenapa juga kita menjadi luar biasa. Kemudian berbuat dramatis dan sedikit lebay. Menunjukkan keprihatinan kepada setiap orang. Menceritakan kesulitan seolah-olah kita orang yang paling sulit di dunia. Coba lah, sederhana saja.
Berarti curhat dilarang? bukan begitu, curhat itu sehat. Selama curhat dengan orang yang tepat dan cara yang tepat pula.
Sedikit lagi. Perihal anak yang suka melanggar, kemudian terus melakukan pelanggaran meski telah didekati dicegah dan juga direvarasi. Tanang saja. Kalau sudah begitu tidak usah banyak dipusingkan. Harus dibiarkan gitu? jangan dibiarkan. Katanya tadi tidak usah dipusingkan? Tidak usah dipusingkan bukan berarti dibiarkan kan!
Pusing itu ada dalam diri kita. Kita pusing karena kebanyakan mikir tapi tidak bisa mencari solusi. Mikir terus, masalah jalan terus. Lama kelamaan bisa stress. Membiarkan berarti tidak tangung jawab. Jangan terlalu dipikirkan dan jangan dibiarkan. Trus bagaimana?
Begini… anak itu melakukan pelanggaran itu karena dia tahu atau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Kalau dia tahu itu salah pasti dia berusaha memperbaiki. Kalau dia tidka tahu itu salah harus diberi tahu, manusia kalau suda diberitahu pasti tahu kan. Kalau sudah tahu pasti memperbaiki diri. Kalau pura-pura tidak tahu, pasti diperbaiki juga akan pura-pura baik. makanya pura-pura saja menasehati, pura-pura juga memberi sanksi, pura-pura juga berbuat baik. Kalau sudah begitu kan sama-sama. Setidaknya tidak ada yang tersakiti.
Tapi pada dasarnya manusia kalau sudah berkali-kali melakukan sebuah kesalahan dia akan merasa baik-baik saja. Baginya kesalahan itu adalah kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi nilai. Maka jangan pernah mempersalahkan orang yang suka dan rajin alias hobi berbuat salah.