Manusia Merdeka

Dia lelaki kurus dengan punggung sedikit melengkung. Lengkungan itu alami karena postur tubuhnya yang tinggi tidak cukup ditopang oleh lemak di atas bahu. Sebenarnya tidak terlalu tinggi, tapi karena kurus maka lengkungan itu menampakkan diri. Usianya di awal tiga puluh. Telah berkeluarga. Dari rahim istrinya dia mendapatkan seorang putri cantik. Belum genap tiga tahun umurnya. Cukup menjadi energi untuk terus berusaha demi masa depan.

Dia lelaki pendiam. Tidak banyak kata yang bisa didengar dari mulutnya. Ditanya dia menjawab. Tidak ditanya dia hanya diam. Kalaupun berpapasan, dia tersenyum. Dan selalu diikuti dengan bungkukan badan. Sopan. Satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan pria sunda itu.

Tadi pagi saya melihatnya. Sebenarnya tidak seluruh dirinya saya lihat. Hanya sebagian yang nampak di hadapan mata. Satu pasang kaki tanpa alas, itu yang bisa saya lihat. Selebihnya tenggelam di bawah mobil ambulan. Mendengar kata ambulan terbesit ngeri. Dia tidak sedang dibawa ambulans atau tertabrak atau terlindas atau terjebak di bawah tubuh ambulans.

Laki-laki yang baru saya kenal sekitar empat tahun lalu itu masuk ke kolong ambulans. Tangannya dengan telaten menggosok rangkaian besi yang menempel. Terus begitu. Sesekali dia siramkan air. Kemudian menggosok lagi. Mata saya melirik badan ambulans. Masih diselimuti busa.

Dia pekerja. Ambulans yang sedang dibersihkan bukan miliknya. Pemilik ambulans juga sedang tidak ada. Pergi jauh melintasi samudra. Sang pemilik belum akan pulang dalam waktu dekat. Kalaupun ambulans itu dia biarkan, tidak akan kenapa.

Saya tidak pernah mendengar lelaki itu bicara tentang amanah. Kata-kata sakti tersebut bukan temannya. Mungkin dia tidak mengenal. Dia hanya seorang pekerja. Diberi tugas menjadi sopir. Sebagai sopir yang dia butuhkan adalah konsentrasi menyetir. Dia harus menjaga kebersihan kendaraan. Dia harus merawatnya. Hanya itu. Dia tidak banyak bicara tentang tanggung jawab. Dia hanya bekerja. Dan dia bekerja sesuai dengan tugasnya.

Laki-laki itu masih membersihkan kolong ambulans. Dia tidak tahu saya sedang perhatikan. Dia mungkin tidak ‘engeh’ bahwa malaikat juga ikut memperhatikan. Mungkin dalam kepalanya hanya ada sebersit keinginan, “ambulans ini harus bersih’.

Sungguh nikmat bekerja karena dorongan naluri. Bekerja dengan sepenuh hati. Tanpa harus menunggu diperintah. Tidak usah dimarahi dulu. Bekerja sesuai dengan tugas, meski yang menugasi tidak tahu. Bekerja maksimal meski tidak mendapat sorotan perhatian.

Laki-laki itu cermin kebebasan. Dia manusia merdeka. Bekerja bukan karena atasan.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: