Asa dari Kubangan Dosa

Aku dilahirkan di tengah kebisingan dentuman suara musik dari salon sebesar drum. Tangisanku pecah mengikuti irama naik-turun penyanyi yang entah dari mana asalnya. Hanya ada ibuku dan seorang bidan yang dipanggil menunggui hari pertamaku di dunia. Keramaian atau lebih tepatnya kebisingan yang menyertai kelahiran itu persis di samping telinga. Meski demikian kami hanya bertiga. Ibu menangis menahan sakit, bidan cemas menanti kepala bayi keluar.

Demikian proses kelahiranku. Di tengah bangunan berdinding triplek yang disekat aku hidup. Hanya ada satu jendela tempat menerawang dunia luar. Dan tentunya satu pintu untuk aktivitas keluar-masuk. Tidak ada ruang tamu, dapur atau kamar mandi. Hanya ada satu springbed berwarna biru tua, lemari dua pintu, meja rias, dua bantal dan satu guling. Aku habiskan waktu bergumul di dalam ruang 3 X 3 meter selama dua tahun.

Menginjak tahun ketiga, aku sudah mulai menghirup udara segar. Meski ibuku sangat hati-hati, aku selalu bisa meloloskan diri. Bermain tanpa teman hanya menyaksikan puluhan orang dewasa hilir mudik. Gelak tawa menjadi menu utama. Terkadang ibu menggondol aku masuk ke dalam kamar. Kata ibu aku tidak boleh keluar. “Nanti kamu diculik, dibawa kabur, dijadikan kuah sop untuk makanan…”. Kalimat itu berulang kali keluar dari bibir ibu yang merah bergincu.

Aku hanya pasrah. Menghabiskan waktu bergumul dengan si Rabbit. Boneka kain berwarna merah jambu itu satu-satunya teman hidupku. Aku memanggilnya Rabbit karena demikian ibu memperkenalkannya. Rabbit sering aku ajak ngobrol, meski dia diam terus. Aku ajak dia becanda, tertawa, meski sampai aku menangis dia tetap diam. Aku pun sering bicara sendiri. Hingga terbiasa dan merasa bahagia.

“Ibu pergi kerja, hati-hati di rumah”, entah sudah berapa ribu kali aku mendengar kalimat itu. Ibuku pergi setelah matahari mulai redup. Tidak kembali hingga menjelang suara ayam jantan berbunyi. Aku tidak pernah bertanya apa pekerjaanya. Selama ibu pulang membawa uang, aku senang. Ibu membeli tv saat aku ulang tahun ke lima. Si Rabbit selalu aku ajak nonton. Kami berdua tidak terpisahkan.

Sesekali ibu mengajak ke pasar. Aku mau ikut dengan satu syarat, Si Rabbit ikut serta. Kami belanja, melihat-lihat barang baru, menyewa mainan, dan pulang dengan membawa kelelahan. Ada kesenangan baru setiap kali ibu mengajak ke luar. Udara yang dihembuskan dahan-dahan pohon membuat aku terkesan. Ada kelembutan di sana. Sentuhan lembut di atas kepala mengurai rambut menyelusup ke dalam sanubari. Si Rabbit juga senang. Dia pasti senang, karena aku senang.

Tidak terasa usiaku sudah menginjak tiga belas. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Rambutku hitam tergerai. Tinggiku hampir menyamai ibu. Sudah jelas lekukan kewanitaan terbentuk dalam diriku. Ibu bilang aku cantik, Aku mengiyakan. “Secantik ibu”.

Ibuku meski sudah memasuki kepala tiga masih terlihat cantik. Kulitnya kuning langsat, perawakannya sedang dan masih kencang untuk ukuran usianya. Badannya dirawat. Aku baru tahu setiap minggu ibu pergi ke salon. Segala macam perawatan dia ikuti. Siapapun yang baru bertemu ibu, tidak akan menyangka wanita cantik itu sudah memiliki anak gadis.

Aku cantik sudah bukan rahasia karena ibuku cantik. Kecantikan sangat menggoda, membuat banyak orang terperdaya. Ibuku yang cantik termasuk di dalamnya. Ibu jadikan kecantikan sebagai alat untuk mendapatkan uang. Parasnya yang ayu sangat mudah menarik perhatian laki-laki. Tua atau muda pasti akan jatuh hati memandang indahnya ciptaan Tuhan yang berwujud ibuku. Ratusan ribu keluar dari kantong laki-laki yang ingin menikmati kecantikan itu.

Dentuman kecewa yang berbaur dengan duka menghantam dada saat pertama aku mendengar kata lonte. Sekitar tiga tahun lalu, waktu aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Seorang teman lelaki memangilku anak lonte. Aku marah. Rambutnya yang kriting ku jambaki. Dia menjerit kesakitan. Kegaduhan di dalam kelas mengundang perhatian. Guru kelas kami datang setengah berlari. Melihat aku sedang menjambaki si kriting, bapak guru berteriak marah. “Berhenti, dasar anak Lon**” Bagi disambar petir tepat di kepala, aku tersungkur ke lantai. Seluruh persendian tercerabut dari tempatnya. Aku hanya seonggok daging tidak berdaya. Tinggal diangkat dengan sekop, kemudian dibuang ke tempat sampah.

Ibu menjadi objek kemarahan. Aku meraung setiba di rumah. Segala isi kamar aku keluarkan. Ibu berteriak menenangkan. Aku sudah kemasukan setan. Tidak peduli dengan kerumunan orang yang datang melihat. Aku masih meraung. Batinku terluka. Sayatan yang tepat di ulu hati. Kalau bisa aku mati saja.

Setelah peristiwa itu entah sudah berapa ratus kali aku mendengar kata lon**. Teramat sering kata itu mengisi lubang telinga. Sehingga tidak ada bedanya dia dan kentut yang identik dengan pantat, atau upil dengan hidung. Karena sering didengar maka kata itu sudah tidak lagi menusuk ke dalam dada. Cukup bermuara di kuping. Kalau orang bertanya seberapa sering aku korek kuping, aku jawab sesering kata itu keluar dari mulut orang usil.

Aku sudah kebal. Menjadi anak dari seorang wanita penghibur bukan sebuah pilihan. Aku tidak pernah memilih untuk terlahir dari rahim ibuku. Kenistaan yang orang sematkan kepadaku dengan mengatakan aku anak haram tidak akan mengurangi kecintaanku kepada ibu. Aku tahu ibuku bukan wanita suci. Ibu bergelimang dosa. Akibat perbuatan dosa itulah aku terlahir. jadi ketika orang mengatakan aku anak lon** aku tidak akan marah. Kenapa? karena itu fakta.

Ibu pernah berpesan suatu malam, “Eliza, kamu harta berharga yang ibu punya. Tidak ada yang lain. Ibu tidak ingin kamu pergi dari pangkuan, tapi ibu juga takut kalau kamu terus di sini. Sebenarnya ibu ingin meningalkan tempat ini, tapi itu tidak mungkin. Masih banyak urusan ibu yang belum selesai. Ibu hanya berharap kamu bisa jaga diri.”

Tempat hidup kami tidak seperti perkampungan teman sekolah dasar yang lain. Mereka hidup di rumah lengkap dengan keluarga, diapit para tetangga yang saling mengenal baik. Ada ketua RT dan juga RW. Aku tidak mengenal itu. Di tempat aku tinggal hanya ada Mamih dan beberapa orang lelaki kekar. Mereka adalah panutan sekaligus sumber keamanan. Siapa saja yang mengganggu kami akan berhadapan dengan para lelaki kekar bertato. Sebaliknya jika kami melanggar aturan Mami akan berhadapan dengan lelaki bertato tersebut.

Perempuan yang dipanggil Mami berusia diawal lima puluh. Meski sudah setengah abad umurnya, dandanannya tetap menor. Bedak dan gincu tebal menutupi kulit mami yang mulai mengendur. Mami baik kepadaku. Tiap kali aku berpapasan dengannya Mami selalu menyapa. “Bidadari kecil mau kemana?”. beberapa kali Mami memberi aku uang. “Buat jajan di sekolah” demikian pesan wanita yang sangat berkuasa di komplek kami.

Ketika aku cerita tentang kebaikan Mami, ibu hanya tersenyum. Wanita yang telah melahirkan aku ke dunia itu mengelus kepalaku. “Ingat pesan ibu, kamu harus jaga diri”

Entah apa maksud perkataan ibu, aku hanya mengangguk.

***

Ujian Akhir Nasional baru saja berakhir. Anak-anak seragam putih-merah kelas akhir berharap lulus. Teman-teman di sekolah sudah menyusun rencana. Kebanyakan ingin masuk ke SMP Negri. Katanya di sekolah negri tidak ada bayaran alias gratis. Meski demikian ada juga yang mau masuk ke sekolah swasta. Si Aldi bahkan sudah didaftarkan ke sekolah berasrama. Katanya sekolah yang akan dimasukinya itu sekolah elit. Uang masuknya saja puluhan juta. Hanya anak-anak orang kaya yang bisa sekolah di sana.

Aku berharap bisa melanjutkan ke SMP. Sebelum ujian nasional, aku sempat meminta kepada ibu untuk itu. Ibu mengangguk. Perempuan cantik yang setiap malam bergumul melawan perasaan bersalah itu mengajukan syarat. “Asal dapat sekolah negri, kamu boleh lanjut ke SMP”. Dari sejak itu, aku belajar serius. Setiap malam aku sumpal kuping dengan kapas agar suara musik dari ruangan di depan kamar tidak menganggu. Buku pelajaran akau baca berulang kali. Catatan berupa ringkasan pelajaran pun aku buat sendiri. Aku ingin lulus dengan nilai bagus. Aku ingin terus sekolah. Hanya dengan nilai bagus aku bisa masuk SMP negri.

SMP adalah gerbang untuk sebuah asa. Aku sudah tiga belas, sudah cukup pandai untuk menentukan cita-cita. Diantara teman sekelas, aku paling besar. temanku kebanyakan baru sebelas atau dua belas tahun. Mereka masuk sekolah umur enam atau tujuh. Sedangkan aku masuk sekolah saat berumur depalan tahun. Meski sering menjadi objek penghinaan, aku tetap mantap menatap masa depan. Aku ingin menjadi guru.

Hari yang dinanti telah tiba. Di papan pengumuman terpampang namaku di deretan atas. Meski bukan paling atas, tapi sudah cukup untuk masuk ke sekolah negri. Ibu kepala sekolah menyalami anak-anak yang mendapat nilai tinggi. Aku sangat senang. Ada genangan air yang hendak jatuh dari kelopak mata. Ibu kepala sekolah mengelus rambutku. Beliau tahu siapa aku. Wanita yang sudah lebih tiga puluh tahun mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak bangsa itu sudah seperti nenekku. Di pangkuannya aku tumpahkan tangis saat teman-teman menghina. Di dekapannya aku merasakan ketenangan. Dari beliau aku banyak belajar tentang kesabaran. Sosok wanita sempurna yang menjadi idola. Aku ingin menjadi guru karena ingin meneruskan perjuangan beliau.

Siang itu matahari terasa sangat menyengat. Aku setengah berlari pulang. Di sepanjang jalan tidak banyak orang terlihat. Mungkin mereka bersembunyi di ruang tengah rumah dikipasi mesin yang berputar oleh arus listrik. Pintu kamar tidak dikunci. Pasti ibu ada di dalam. Aku tidak sabar menyampaikan kabar gembira. Ibu akan bangga. Putrinya masuk tiga besar. Rata-rata sembilan sudah lebih dari cukup untuk mendaftar ke sekolah negri.

Kedua kaki melangkah masuk ke ruangan 3 x 3 yang sudah menyimpan kisah hidup selama tiga belas tahun. Di atas kasur sesosok tubuh dibalut selimut. Ibu mungkin sedang tidak enak badan. Tanganku menyingkap bagian atas selimut. Tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram. Tanganku ditarik kencang, aku terjatuh tepat dipelukannya. Aku meronta, dia semakin kencang mendekap tubuhku. Sebelum aku berteriak tangan kirinya sudah menutup mulutku…

Sementara itu di gang sempit menuju bendungan seorang wanita tigapuluhan berjalan lunglai. Kesedihan yang coba dia lipat tidak kuasa ditahannya. Air mata terus saja mengaliri pipinya. Di ujung gang sebelum pintu air, dia berlari seperti sedang kerasukan. Suara benturan benda dengan air terdengar seketika. Air membuncah, membuat riak besar kemudian perlahan pudar.

Bogor, 10 Juni 2013

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: