Taufik Hidayat, Sang Maestro Gantung Raket

Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat. Seperempat abad adalah bagian dari sebuah perjalanan hidup. Demikian juga bagi pemain bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat. Pemain kelahiran Bandung, 10 Agustus 1981 telah melukis banyak gambar selama berkarir sebagai atlet Bandimton.

Ganteng, murah senyum dan tentunya berprestasi, demikian sosok Taufik di mata publik. Mengenal suttlecock sejak umur delapan tahun, suami dari Ami Gumelar mencurahkan seluruh waktunya untuk bulutangkis. Tidak heran jika Taufik identik dengak bulutangkis, sebaliknya bulutangkis Indonesia menjadi sangat identik dengan Taufik.

Karier Taufik di tingkat nasional dimulai pada saat dia masuk pelatnas pada 1996. Anak muda yang penuh talenta ini diasuh oleh pelatih bertangan dingin Mulyo Handoyo. Dibawah arahan Mulyo, pemain asal Jawa Barat tersebut berkembang pesat. Dua tahun setelah bergabung ke pelatnas, Taufiq berhasil mengharumkan nama Indonesia di pentas Asia. Taufik yang bermain di tunggal putra menjadi bagian dari tim Indonesia yang memenangi medali emas bulutangkis Asian Games 1998 Bangkok.

Prestasi demi prestasi diukir pemain muda ini. Menjuarai Brunei Open 1998 setelah di final mengalahkan pemain China Dong jiong, sinar Taufik mulai menyilaukan kompetisi bulutangkis dunia. Di Indonesia Open 1999, Taufik berhasil menjadi yang terbaik. Sebuah kemenangan yang mengobati kekecewaan Taufik setelah kalah di partai puncak All England dari pemain kidal Denmark, Peter Gade. Prestasi di Indesia Open berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Sampai sekarang nama Taufik masih tercatat sebagai pemegang rekor juaran Indoensia open dengan memenangi enam gelar 1999, 2000, 2002, 2003, 2004 dan 2006.

Puncak prestasi menantu mantan ketua PSSI, Agum Gumelar adalah ketika berhasil mengerek bendera Merah Putih ke tiang tertinggi di Olimpiade Athena 2004. Sebuah prestasi yang membuat namanya tertulis dalam sejarah emas atlet Indonesia di pentas dunia. Kemangan di Olimpiade menempatkan Taufik di rengking teratas pemain bulutangkis dunia. Setahun berikutnya Taufik menasbihkan namanya sebagai pemain nomer wahid di jagat raya dengan memenangi kejuaraan dunia.

Waktu terus bergulir, sinar taufik mulai meredup. Setelah menjuarai banyak kejuaraan di medio duaribu, atlet yang murah senyum ini terlihat kesulitan mempertahankan hegemoninya. Lin Dan pemian tunggal putra China yang dikalahkan Taufik di final kejuaraan dunia 2005 terus melaju. Di setiap kejuaraan bulutangkis di awal 2006 sampai penghujung duaribu, nama Lin Dan mengganti Taufik di peringkat satu dunia. Setiap pertemuan Taufik dan Lin Dan selalu dinanti. Setelah kalah di final Japan Open 2007, Taufik berhasil membalas rival terberatnya itu di final kejuaraan asia di tahun yang sama. Tapi setelah itu, Taufik kesulitan mengatasi kedigdayaan Super Dan.

Di penghujung duaribu Taufik mulai sering kalah dari pemain tidak terkenal. Usia menjadi salah satu faktor penyebab kemunduran prestasi sang maestro. Backhand smash Taufik yang mendunia mulai bisa diatasi oleh pemian lain. Pemainan netting yang tipis dan mematikan, mulai banyak yang gagal. Taufik terus berjuang mengambalikan prestasinya, tapi waktu tidak bisa dibohongi. Pemain kebanggaan Merah Putih sudah sampai pada titik jenuh. Taufik yang bermain Bulutangkis sejak kecil sudah harus mundur.

Indonesia Open 2013 menjadi ajang terakhir pemain asal Bandung. Legenda bulutangkis Indonesia harus mengucap salam perpisahan. Meski akhir dari karier Taufik ditangan pemain India, namun itu tidak menghapus kebesaran namanya. Taufik Hidayat akan selalu dikenang masyarakat Indonesia. Taufik adalah satu dari sedikit putra bangsa yang telah mengharumkan nama Indonesia.

“Hari ini pertandingan terakhir buat saya. Mungkin kalau dilihat ending yang nggak begitu bagus — kalah lawan India, tapi saya harap jangan dilihat hanya hari ini, tapi juga yang lalu-lalu. Kemenangan, kekalahan. Proses dari latihan ke pertandingan,” ujar Taufik dalam konferensi pers terakhirnya sebagai seorang pemain.

Selamat jalan Taufik. Terima kasih atas segala prestasi yang telah diraih. Semoga akan lahir Taufik Hidayat-Taufik Hidayat yang baru. Semoga prestasi bulutangkis Indonesia kembali menjadi kebanggaan anak bangsa.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: