Substansi

1.1 Beberapa waktu lalu saya membaca buku Paulo Coelho. Penulis asal Brazil yang tenar lewat karyanya “the alchemis” menuturkan sebuah kisah penuh hikmah. Cerita nyata yang berlatar di sebuah wihara.

1.2 Seorang biksu senior mendapatkan seekor anak kucing. Anak kucing berbulu hitam terdampar di wihara. Tidak ada sanak saudara. Dia yatim tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Kucing hitam tanpa dosa bersitatap dengan sang biksu. Rasa welas asih biksu tersentuh.

1.3 Biksu yang penuh kasih tersebut merawat si kucing yatim. Dia memberinya makan dan minum. Dia juga mengelus si kucing tanda sayang. Di setiap kesempatan, biksu senior yang juga pemimpin wihara selalu membawa kucingnya. Bahkan dalam acara retret (pengajian khusus para biksu) dia membawanya.

1.4 Murid-murid sang biksu mulai memperhatikan. Mereka mendapatkan gurunya begitu khusu bersemedi dengan ditemani si kucing hitam.

1.5 Kabar tentang si kucing hitam yang selalu menemani biksu saat semedi tersebar. Banyak yang penasaran. Biksu dari wihara lain, datang ingin membuktikan. Mereka terpana. Si biksu senior dan kucing hitam nampak khusu.

1.6 waktu terus berlalu. Si biksu meninggal karena dimakan usia. Kucing hitam masih tetap hidup. Penerus biksu yang menaruh hormat kepada seniornya mempertahankan posisi si kucing. Di setiap acara retret si kucing dibawa. Semua biksu senang dengan keputusan pemimpin baru.

1.7 tahun berganti, kucing hitam pun mati. Namun di setiap wihara penerusnya tidak pernah hilang. Kucing hitam menjadi peserta wajib dalam setiap agenda wihara. Kucing hitam dianggap sebagai makhluk special. Tanpa kucing hitam ritual yang dijalankan wihara tidak afdol. Bahkan ada yang mewajibkannya. Bahkan ada yang marah besar jika dalam ritual wihara tidak terdapat kucing hitam. Bahkan ada yang lebih peduli dengan kucing hitam dari pada ritual wihara.

Sahabat pembaca…

Begitu mudahnya sebuah dekorasi mengalahkan substansi. Begitu mudahnya orang terpana dengan sebuah fenomena sehingga melupakan yang nyata. Para biksu di berbagai wihara sudah menjadikan kucing hitam sebagai menu utama. Mereka beranggapan bahwa kucing hitam yang telah menjadikan biksu senior memperolah kekhusuan dalam menjalankan ritual. Dengan kucing hitam ritual menjadi lebih bermakna, tanpanya ritual tidak terasa apa-apa. Mereka lupa bahwa kucing hitam itu ada karena rasa welas asih si biksu senior. Mereka tidak dapat mencerna makna yang terkandung dalam keberadaan kucing hitam di sisi gurunya.

Substansi yang ingin disampaikan gurunya adalah kasih sayang. Sebagai makhluk maka dia harus menyayangi makhluk yang lain. meski itu berbentuk seekor kucing kecil. Rasa sayang dan welas asih harus menjadi penuntun dalam kehidupan. Kucing hanya sebagai perlambang.
Kisah ini tidak terjadi sekali. Sangat banyak kisah lain yang ada di sekitar kita terkait dengan sulitnya manusia mencerna substansi dari sebuah kejadian. Manusia lebih senang dengan fakta yang bersifat materil dari pada menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga materi menjadi lebih bermakna dari pada esensinya. Padahal hakikat dari sebuah materi adalah esensi yang terkandung di dalamnya.
Fenomena terbaru di tengah masyarakat kita adalah peringatan sumpah pemuda. Tanggal 28 Oktober menjadi semacam event wajib bagi banyak kalangan untuk mengenang hari bersejarah ketika para pemuda dari berbagai daerah di tanah air mengadakan kongres yang menghasilkan deklarasi sumpah pemuda. Kantor-kantor pemerintah mengibarkan bendera merah putih, anak sekolah mengadakan upacara, para pecinta alam mendaki gunung untuk mengibarkan bendera, sosialita dunia maya memajang status terkait sumpah pemuda. Semuanya peduli. Merasa menjadi bagian dari hari bersejarah.
Tapi ada yang terlupa. Sumpah pemuda tidak sekedar seremonial. Tanggal 28 Oktober adalah cerminan dari penajaman sebuah visi. Bahwa cita-cita harus diperjelas dengan kata-kata dan kerja nyata.
Semua orang tentu memiliki cita-cita. Sebuah harapan yang bisa jadi hanya diketahui diri sendiri. Momen sumpah pemuda memberi kita kesempatan untuk bicara lantang tentang cita-cita. Bahwa cita-cita harus dideklarasikan. Setidaknya kita berani untuk mengungkapkan meski hanya kepada orang terdekat atau komonitas terbatas.
Mendeklarasikan cita-cita tentu lebih beresiko. Orang akan mengetahui cita-cita kita. Karena mereka tahu maka kita mengemban tanggung jawab untuk merealisasikannya. Meski ada tambahan beban, tapi kita juga berkesempatan untuk mendapat tambahan dukungan. Dengan dukungan lebih banyak orang, semangat untuk merealisasikan cita-cita terus bertambah.
Deklarasi Sumpah Pemuda terjadi pada tahun 1928. Substansi dari deklarasi tersebut adalah visi kebangsaan, bahwa indonesia adalah sebuah bangsa. Sebagai bangsa indonesia tentu harus merdeka. Dan cita-cita luhur tersebut berhasil diraih pada tahun 1945. Ada jeda waktu 17 tahun. Sebuah masa yang tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan proses perlawanan parsial yang dilakukan masyarakat Indonesia terhadap penjajah sejak abad ketujuhbelas.
Semoga ketika kita berani mendeklarasikan cita-cita dan didengarkan oleh banyak telinga, proses menuju pencapaiannya tidak memakan waktu terlalu lama.

Sumpah Saya Pemuda

Hari sumpah pemuda barusan berlalu. Senin, 28 Oktober 2013 adalah satu dari sekian puluh 28 Oktober yang pernah dilalui oleh bangsa Indonesia. Semenjak Muhammad Yamin menuliskan teks Sumpah Pemuda yang kemudian dijadikan sebagai deklarasi oleh para pemuda dalam Kongres Pemuda kedua 1928 di Jakarta, 28 Oktober menjadi hari bersejarah.

Dari deklarasi Sumpah Pemuda yang mengakomodir semangat kebangsaan dan kebersamaan lahir semangat perjuangan kemerdekaan. Berjuang bukan sekedar memerdekakan kepentingan pribadi dan golongan. Berjuang bukan sekedar ingin melawan kesewenangan bangsa penjajah. Berjuang bukan sekedar ingin menjadi pahlawan. Tapi berjuang untuk Indonesia merdeka.

Dengan sumpah pemuda makna kemerdekaan menjadi begitu signifikan. Sumpah bahwa hanya ada satu bangsa yaitu bangsa Indonesia dengan satu bahasa pemersatu bahasa Indonesia yang berdaulat di sebuah wilayah bernama tanah air Indonesia menuntun para pejuang bangsa baik yang muda atau tua ke sebuah muara yang sama. Warna kulit dinegasikan, demikian juga asal daerah serta agama. Tidak ada perbedaan yang bisa mengalahkan keinginan bersama. Semangat itu mengalir sampai ke nadi. Setiap perjuangan baik yang berbentuk fisik maupun yang menempuh jalan diplomatik bermuara pada cita-cita yang sama, MERDEKA.

Tujuh belas tahun setelah deklarasi, cita-cita yang diperjuangkan dengan darah dan air mata menjadi nyata. Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945.

Menengok sejarah membuat kita lebih bijak melihat masa depan. Ketika saya termanggu sendiri di kantor kepala unit BRI Leuwiliang terbayang perjuangan para pemuda tempo doeloe. Mereka berjuang dari segala aspek kehidupan. Ada pemuda yang berjuang dengan mengangkat senjata. Jendral Soedirman (lahir, 24 Januari 1916-wafat, 29 Januari 1950) adalah vionernya. Beliau baru berusia 28 tahun saat memimpin pasukan Pembela Tanah Air (PETA) batalyon Banyumas melawan tentara Jepang. Ada yang berjuang melalui jalur diplomatik. Ir. Soekarno (lahir, 6 Juni 1901-wafat, 21 Juni 1970) salah satu pesohor perjuangan di atas meja. Beliau baru berusia 26 tahun saat mendirikan Partai Nasional indonesia. Ada juga yang berjuang melalui pena. Muhammad Yamien (lahir, 24 Agustus 1903-wafat 17 Oktober 1962) salah satunya. Beliau baru berusia 25 tahun saat menulis naskah sumpah pemuda. Tulisan M. Yamin tentang tanah air dan keindonesiaan menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan.

Jalan mana yang harus saya tempuh untuk saat ini?

Sekelumit pikiran berlintasan di kepala. Saya adalah bagian dari pemuda. Dari segi usia tidak diragukan lagi bahwa saya masih muda. Fakta usia itu diperkuat dengan kondisi fisik. Saya masih kuat bahkan untuk berjalan sejauh 10 kilo meter. Untuk sekedar mengangkat senjata dan bertempur melawan musuh tentu saya sangat siap. Tapi sayangnya ini bukan zaman perang. Masa kehidupan saya bukan masa perjuangan mengangkat senjata.

Ada dua jalur lagi yang bisa saya tempuh. Diplomatik! saya menjadi aktifis bergerak di organisasi atau yang lebih keren lagi menjadi pengurus partai politik. Tiba-tiba saja ada rasa mual muncul saat ide tentang parpol melintas. Menjadi pengurus parpol dengan harapan menjadi anggota dewan bukan pilihan yang terhormat. Setidaknya bagi saya untuk saat ini. Melihat kelakuan mayoritas anggota dewan yang senang menebar senyum di tengah jalan yang rusak, senang mengumbar janji di tengah kasus korupsi sudah cukup membentuk opini saya tentang politik. Lagi-lagi saya katakan untuk saat ini.

Pena. Sebuah pilihan akhir yang bukan sisa. Sepertinya perjuangan dengan pena bisa menjadi jalan bagi saya untuk ikut memeriahkan sumpah pemuda. Menulis tidak lebih buruk dari pada menembak. Bukankah pengarus goresan pena lebih menyebar dari pada sabetan pedang. Bukankah Al-Qur’an adalah wahyu yang kemudian dituliskan. Bukankah Allah Sang Pencipta mengajarkan manusia dengan qolam.

Pilihan sudah ditentukan, saya pun menulis.

Sumpah Saya Pemuda

Muda itu kuat, mampu menanggung beban berat

Muda itu giat, senantiasa melakukan kegiatan bermanfaat

Muda itu liat, berani ambil resiko tidak cari selamat

Muda itu hebat, selalu berusaha bekerja sampai tamat

Muda itu saya, bisa juga anda atau dia tidak mengenal usia

Karena muda adalah identitas para juara

Filosofi Petani Kang Abik

Ketika artikel ini ditulis, saya baru saja melepas kepulangan Kang Abik. Sosok yang selama ini hanya dapat saya nikmati karyanya, alhamdulillah berkenan datang ke pesantren. Habiburrahman El-Shirazy memenuhi undangan untuk mengadakan jumpa penulis dengan santri/wati dan guru-guru. Hujan deras yang mengiringi acara jumpa penulis seolah menjadi pertanda betapa pesantren UQI beserta penghuninya sedang didatangi keberkahan.

Ini bukan bedah buku! Kang Abik bukan hanya seorang penulis, beliau juga merupakan sastrawan, aktor, sutradara dan kiyai. Demikian pesan yang saya tangkap dari pemaparan moderator, Awod Said Grand Manager Republika Penerbit saat membuka acara. Jika Kang Abik diundang hanya untuk bedah buku sangat mubazir.

Betul, bukan bedah buku tapi bedah hidup! batin saya. Saya setuju dengan pemaparan pak Awod. Kang Abik adalah role model generasi muda Islam. Beliau terkenal sebagai penulis, berperan dalam sinetron, menjadi sutradara, rutin mengisi pengajian dan khutbah Jum’at, pimpinan pesantren, juga sebagai pengurus Majelis Ulama Indonesia yang membidangi seni dan budaya.

“Mari kita dengarkan Kang Abik membaca puisi”. Suara lantang pak Awod disambut dengan gemuruh riuh para santri. Kang Abik bangkit dari duduknya, menghampiri standing mic. “Saya akan bacakan sebuah puisi yang pernah saya baca di masjid Istiklal dan Malaysia”

Al-Qur’an Bernyawa

…………

Sungguh indah beliau melukiskan sosok Rasul sebagai Al-Qur’an hidup. Hadirin terkesima. Ternyata sebelum terkenal pun kang Abik pernah menjadi juara membaca puisi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Prestasi itu diraih saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Bukan hanya puisi, penulis yang mulai terkenal lewat novel Ayat-Ayat Cinta juga sudah mengenal jurnalistik. Sejak kecil Habiburrahman sudah rajin menulis. Setiap kejadian yang menarik dalam hidupnya, digoreskan di atas kertas.

Ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah, Pimpinan Pesantren Basmala Semarang tersebut juga terlibat dalam pentas seni. Bersama teman-teman sekelas, sutradara film Dalam Mihrab Cinta mementaskan lakon drama di theater budaya Semarang. Kang Abik tidak sekedar ikutan, beliau adalah sutradaranya sekaligus penulis skenario.

“Saat menanam anda harus menanam, nanti saat panen anda akan ikut panen. Saat merawat anda harus merawat, nanti saat panen anda mendapat banyak” filosofi hidup ini dilontarkan Habiburrahman El-Shirazy di hadapan para santri. Petani yang tidak menanam di musim tanam tidak mungkin ikut memanen di musim panen. Petani yang sekedar menanam tapi tidak mau merawat, tidak akan pernah mendapatkan panen yang menggembirakan. Dia hanya sekedar ikut panen.

Sebuah filosofi hidup yang sangat dalam. Berkaca pada perjalanan hidup Habiburrahman El-Shirazy, filosofi itu memberi bukti. Saat ini Kang Abik sedang berada di singgasana kehidupan. Beliau mendapatkan banyak dari hidup. Pengalaman keliling dunia, ketenaran melalui karya, keberlimpahan materi, pengakuan dari masyarakat dan banyak lagi, semuanya tidak datang seketika.

Kang Abik sedang memanen dari benih yang beliau tanam dan rawat. Kecintaan beliau terhadap tulis-menulis sejak di bangku sekolah menengah yang terus dipupuk hingga kuliah di Mesir berbuah novel mega best seller. Ketertarikan beliau dalam bidang seni peran yang dibuktikan dengan mementaskan lakon di theater budaya Semarang menjadi pusakan yang sangat berharga ketika ditantang untuk menjadi sutradara. Keseriusan beliau dalam menimba ilmu menjadikan karya-karyanya selalu penuh gizi, dan mentashihkan beliau sebagai seorang ulama muda.

Semuanya membutuhkan proses. Seperti petani, kita harus berlumpur dulu, kepanasan dulu, digigit lintah dulu, bergelut dengan tikus dan ular. Setelah segala proses kita lalui tinggal berpasrah kepada Yang Maha Kuasa teriring doa semoga panen kita berkah bagi hidup dunia dan juga akhirat kelak.

Visi Pak Kiyai

Dewasa ini lembaga pendidikan Islam tumbuh subur. Ibarat pohon di musim semi, berebut mengeguk air sambil menikmati cahaya matahari. Daerah perkotaan pun sudah diagresi. Pesantren salah satu lembaga pendidikan Islam tertua yang dulu identik dengan kemarginalan berangsur menjadi idola. Orang tua sudah tidak segan lagi membawa anaknya ke pesantren. Bahkan sebagian orang tua sudah mem-planing setelah tamat Sekolah Dasar anaknya dipesantrenkan.

Geliat positif dari masyarakat terhadap pesantren tidak terlepas dari semakin baiknya mutu lembaga pendidikan islam tersebut. Alumni pesantren terbukti bisa bersaing di lingkungan global. Tidak sekedar menjadi guru ngaji dan penjaga masjid, alumni pesantren terutama yang modern sudah bisa mengisi kursi terhormat di lembaga negara atau sosial. Ada yang menjadi anggota dewan, menjadi menteri, pengurus ormas, rektor di perguruan tinggi dan lain-lain.

Melejitnya citra pesantren melalui sepak terjang alumninya tidak terlepas dari visi para kiyai. Dalam lingkungan pesantren, kiyai merupakan figur sentral. Sosok agung yang segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan. Jika diibaratkan, kiyai di pesantren bagaikan matahari bagi bumi. Gelap dan terangnya pesantren tergantung pak kiyai. Tumbuh dan berkembangnya tunas-tunas di pesantren juga ada di balik sosok kiyai.

Seorang kiyai pelopor lembaga pesantren modern, KH. Imam Zarkasyi pernah diwawancarai oleh seorang wartawan nasional. Ketika ditanya tentang figur alumni yang sukses, Pak Zar demikian beliau biasa dipanggil menjelaskan bahwa Alumni pesantren Gontor yang sukses adalah mereka yang mengajarkan al-Qur’an di desa terpencil tanpa tersentuh publikasi. Mendengar jawaban pak kiyai, si wartawan tertegun. Dia kaget. Alumni Gontor waktu itu sudah banyak yang berhasil menjadi tokoh nasional. Tapi pak Zar tidak menganggap mereka sebagai figur ideal alumni pesantren.

Mengapa pak Zar tidak menyebut alumni yang sukses di tingkat nasional atau bahkan tidak menyinggung kriteria eksistensi di tingkat nasional sebagai indikator keberhasilan seorang alumni Gontor? apakah pak Zar tidak menghargai proses berliku yang dilalui seorang alumni untuk eksis di tingkat nasional? Saya rasa tidak. Pak Zar sangat membanggakan alumni yang bisa berkecimpung di tingkat nasional. Bahkan mereka diundang secara khusus dalam acara pesantren.

Mengapa beliau menempatkan figur alumni yang mengajar Al-Qur’an di pedesaan sebagai contoh sukses? Ini lah visi seorang kiyai yang tingkat pemahamannya terhadap pendidikan di atas rata-rata. Beliau seorang visioner ulung yang dapat membaca kebutuhan juga ketersediaan material.

Masyarakat adalah objek utama dari program pendidikan. Pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan utama manusia. Dan kebutuhan utama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah beribadah kepada Sang Maha. Pendidikan Islam harus memenuhi kebutuhan ini. Program yang dikembangkan oleh pesantren harus sejalan dengan misi ini. ” Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Jika pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam sudah melupakan tujuan utama tersebut maka jangan berharap ada perbaikan di tengah masyarakat.

KH. Imam Zarkasyi telah membangun pondasi yang kokoh. Alumni pesantren harus menjadi agen Al-Qur’an. “Sampaikan pesan Ilahiyah meski satu ayat” hadits Nabi yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan dakwah tersebut seharusnya dimengerti dan diaplikasikan lebih general. Perintah Rasul bukan hanya kepada dai dan tidak sekedar menceramahi masyarakat, tapi setiap muslim seyogyanya menjadi agen Al-Qur’an. Banyak aktivitas yang dapat di lakukan seorang agen; Mengajarkan ngaji beserta hukum tajwidnya, memberikan kursus bahasa Arab agar Al-Qur’an tidak sekedar dibaca tapi juga dipahami artinya, memberikan contoh kebaikan sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an dan termasuk juga membuka masjlis ta’lim.

Alumni pesantren sejati adalah agen Al-Qur’an sebuah visi pendidikan yang luar biasa. Pak Zar mengajari kita tentang target primer di atas target sekunder. Menjadi mentri bagi alumni pesantren bukanlah tujuan utama. Menjadi tokoh nasional yang menggawangi ormas keagamaan bukan tujuan utama. Menjadi rektor, dekan atau dosen yang berkecimpung di perguruan tinggi atau menjadi guru di sekolah merupakan jalan untuk menjadi agen Al-Qur’an.

Maka sangat tepat ketika beliau mengatakan alumni Gontor yang paling hebat adalah mereka yang mangajarkan Al-Qur’an meski di pedesaan meski tanpa sorot mata kamera. Semoga kita menjadi agen Al-Qur’an dimana pun kita berada dan dalam profesi apapun yang sedang kita emban.

Qurban; Pedekate Islami

Hari raya Iedul Adha identik dengan qurban. Seluruh muslimin di dunia mengakui dan juga melaksanakan sunnah yang telah berlangsung ribuan tahun tersebut. Dari peristiwa mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail, sampai Allah ganti Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Peristiwa memotong domba menjadi bagian integral dari perayaan Iedul Adha.
Pada hari H sampai tiga hari tasyrik setelahnya jutaan domba disembelih. Bukan hanya domba, bagi muslimin yang memiliki harta berlimpah domba diganti dengan sapi atau kerbau. Dagingnya dibagikan kepada umat. Maka asap beraroma sedap mengepul dari atap dapur masyarakat. Si kaya yang terbiasa memasak daging sudah disetarai oleh si miskin. Hari qurban menjadi hari kebahagiaan massal. Semua orang senang. Anak-anak dibuat sibuk dengan tontonan gratis. Domba, sapi dan kerbau qurban selalu dikerubuti baik sebelum dipotong, sedang dan setelahnya.
Qurban identik dengan kesenangan komunal. Dimana ada hewan qurban dipotong, di situ terpancar kebahagiaan. Tentunya Allah Sang Pengasih dan Penyayang mensyariatkan ibadah qurban dengan sebuah visi yang sempurna. qurban disunnahkan bagi orang Islam yang mampu tidak sekali tapi setiap tahun. Bahkan bagi yang tidka mampu membeli hewan qurban dari jenis domba dan di atasnya diperbolahkan niat qurban dengan hewan semampunya. Yang punya ayam bisa berqurban dengan ayam, punya bebek dengan bebek bahkan yang hanya memiliki burung merpati boleh berqurban dengan burung. Demikian penjelasan seorang kiyai yang pernah saya tanyai perihal qurban.
Kata qurban sendiri berasal dari asal kata ‘qoroba’ yang berarti dekat. Inti dari ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan menyembelih hewan untuk dibagikan kepada umat Islam. Syariat ini sungguh memiliki dua manfaat yang sangat berkaitan. Keduanya bersinggungan dalam kata qoroba, atau dekat. Kita bisa juga menyatakannya dengan bahasa anak gaul, pedekate.
Pedekate biasanya diartikan sebagai upaya untuk mendekat kepada objek agar tujuan subjek bisa diterima dengan baik. Seorang jejaka yang naksir anak gadis tetangga biasanya melakukan pedekate dengan orang-orang terdekat si gadis. Bisa pedekate dengan temannya, adiknya, kakaknya bahkan dengan orang tuanya. Dalam proses pedekate si jejaka biasanya tidak sekedar mengobral kebaikan verbal, dia juga menunjukkan i’tikad baik dengan buah tangan. Membelikan oleh-oleh kepada keluarga si gadis menjadi pilihan cerdas dalam proses pedekate. Apalagi jika ayahnya yang ‘ahlu hisap’ selalu diberi bingkisan rokok kesayangan dan ibunya yang suka rujak juga demikian, niscaya proses hubungan akan berjalan lancar.
Demikian indahnya proses hubungan yang dibangun dengan pedekate. Si pemuda yang memang sudah memiliki niat baik, kemudian berbuat baik akhirnya mendapatkan yang terbaik. SIM (surat izin menikahi) dari orang tua si gadis didapat dengan lancar. Akan nikah dilaksanakan. Di depan penghulu bersaksi sehidup semati dengan pujaan hati yang kini telah bersanding di sisi. Subhanallah
Allah Sang Maha mengajari kita jauh sebelum si pejaka malaksanakan modus operandinya. Syariat Qurban merupakan cara Allah mengajarkan kita teknik pedekate. Cara ini juga dilegitimasi oleh sabda Rasul yang artinya “berbagi hadiahlah, niscaya kalian akan saling menyayangi”. Membeli hewan qurban untuk dipotong dan dibagikan dagingnya kepada masyarakat sekitar merupakan cara pedekate yang sungguh indah. Kita mendekati makhluk yang paling disayangi Allah, yaitu para fakir dan miskin agar mendapat perhatian dari Yang Maha Kaya.
Dalam pedekate ini terjadi mutual happiness, semua pihak berbahagia. Masyarakat yang mendapat manfaat langsung sangat senang, bahkan berharap ada acara kurban setiap bulan, he… Orang yang berqurban juga senang karena mendapat limpahan sayang dari masyarakat bahkan Allah ikut senang. sesungguhnya kebahagiaan makhluk adalah bagian dari kebahagiaan Kholik. Sebagaimana sabda Rasul, “sayanglah mahkluk yang ada di bumi niscaya Allah yang dilangit akan menyayangimu”
Selamat berbahagian dengan kurban anda. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya bagi kita semua. Amien Ya Rabbal Alamien

Ada Agama Dalam Sepak Bola

Sabtu malam, 12 Oktober 2013 menjadi momen yang sangat spesial bagi bangsa Indonesia. Sebelas orang anak muda berseragam merah dengan nomer punggung serta dada putih menghentak Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Seluruh penghuni stadion termegah di nusantara pada malam itu dibuat merinding. Ada haru, bangga dan tentunya bahagia. Tidak sedikit mata yang berkaca. Tidak sedikit yang berteriak melampiaskan suka. Tidak sedikit yang menengadahkan muka, bersimpuh syukur kepada yang Maha Kuasa.
Tim nasional Indonesia under 19 kembali menghadiahkan kado istimewa bagi bangsa yang sering diterpa nestapa. Belum sebulan mereka menghentak Asia Tenggara dengan menjuarai piala AFF, malam itu mereka berhasil menampakkan kaki di final piala Asia. Sebuah pencapaian yang sangat membanggakan di tengah krisis prestasi sepak bola nasional. Tidak tanggung-tanggung, Timnas U-19 yang diarsiteki Indra Sjafri berhasil menjadi juara group penyisihan piala Asia dengan mengumpulkan poin sempurna. Tim terakhir yang dikalahkan adalah salah salah satu raksasa sepak bola Asia.
Evan Dimas dan kawan-kawan berhasil mengembalikan kebanggaan bangsa bukan hanya dengan kemenangan tapi juga dengan permainan yang menjanjikan. Operan dari kaki ke kaki diselingi tusukan dari sayap menghipnotis pemirsa baik yang menyaksikan langsung di GBK atau yang menonton melalui layar kaca. Seolah sebelas anak muda berbaju merah adalah pemain daratan Eropa yang fasih memainkan tiki-taka.
Tiga gol yang dilesakkan Evan Dimas ke gawang Korea Selatan adalah buah dari permainan cantik timnas. Korea Selatan yang merupakan juara bertahan piala Asia U-19 hanya mampu membalas dengan dua gol. Dan perlu dicatat, kedua gol Korea dihasilkan dari bola mati. Gol pertama korsel dihasilkan dari titik putih, sedangkan gol kedua dari tendangan bebas yang berhasil ditanduk ke gawang timnas. Di luar faktor air hujan yang menggenangi rumput GBK, faktanya Korsel tidak berhasil membobol gawang timnas dalam open play.
Dalam balutan kesuksesan timnas U-19 di atas lapangan tersimpan sebuah fenomena luar biasa. Evan Dimas sang kapten sekaligus motor permainan anak asuhan Indra Sjafri memiliki ritual yang sangat religius saat selebrasi gol. Anak muda asal klub Persebaya tersebut berlari ke sudut lapangan kemudian bersimpuh dengan lutuk tertekuk di atas rumput dan kedua tangan menengadah ke atas. Ritual Evan kemudian diikuti oleh rekan-rekannya dengan bersujud. Mata kamera merekam kejadian ‘sujud masal’ di lapangan sepak bola.
Religiusitas Evan Dimas tidak hanya sekedar ritual setelah mencetak gol. Anak muda yang sudah menjadi idola bangsa tersebut menempatkan Tuhan sebagai tumpuan utama. Ketika diwawancarai wartawan seusai pertandingan, Evan mengucap syukur terlebih dahulu.
“Kami mengucapkan syukur telah diberikan kemenangan. Saya bersama teman-teman sudah berjuang mati-matian. Tanpa mereka aku tidak bisa begini (mencetak hattrick ke gawang Korsel). Aku berterima kasih kepada mereka.”
Ungkapan Evan merupakan refleksi dari rasa keberagamaanya. Evan yang Muslim menempatkan Allah sebagai sumber dari sebuah kesuksesan. Kerja keras yang telah dia lakukan merupakan ikhtiar. Sebagai muslim tentu kita sering mendengar kata ‘tawakkal’. Apa yang telah dilakukan Evan dan kawan-kawannya merupakan aplikasi dari nilai tawakal. Bekerja keras, saling membantu untuk sebuah tujuan yang mulia kemudian menyerahkan segala hasilnya kepada yang Maha Kuasa.
Seorang yang tawakal tidak pernah merasa takut kepada mahkluk. Kalah sebelum bertanding bukanlah karakteristik dari orang yang berTuhan. Karena dihadapan mereka semua manusia memiliki kemampuan yang sama. Hanya usaha dan doa yang bisa membedakan posisi manusia. Evan kembali menyatakan tentang keyakinannya ini, “Seperti yang aku bilang, semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan”.