Qurban; Pedekate Islami

Hari raya Iedul Adha identik dengan qurban. Seluruh muslimin di dunia mengakui dan juga melaksanakan sunnah yang telah berlangsung ribuan tahun tersebut. Dari peristiwa mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail, sampai Allah ganti Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Peristiwa memotong domba menjadi bagian integral dari perayaan Iedul Adha.
Pada hari H sampai tiga hari tasyrik setelahnya jutaan domba disembelih. Bukan hanya domba, bagi muslimin yang memiliki harta berlimpah domba diganti dengan sapi atau kerbau. Dagingnya dibagikan kepada umat. Maka asap beraroma sedap mengepul dari atap dapur masyarakat. Si kaya yang terbiasa memasak daging sudah disetarai oleh si miskin. Hari qurban menjadi hari kebahagiaan massal. Semua orang senang. Anak-anak dibuat sibuk dengan tontonan gratis. Domba, sapi dan kerbau qurban selalu dikerubuti baik sebelum dipotong, sedang dan setelahnya.
Qurban identik dengan kesenangan komunal. Dimana ada hewan qurban dipotong, di situ terpancar kebahagiaan. Tentunya Allah Sang Pengasih dan Penyayang mensyariatkan ibadah qurban dengan sebuah visi yang sempurna. qurban disunnahkan bagi orang Islam yang mampu tidak sekali tapi setiap tahun. Bahkan bagi yang tidka mampu membeli hewan qurban dari jenis domba dan di atasnya diperbolahkan niat qurban dengan hewan semampunya. Yang punya ayam bisa berqurban dengan ayam, punya bebek dengan bebek bahkan yang hanya memiliki burung merpati boleh berqurban dengan burung. Demikian penjelasan seorang kiyai yang pernah saya tanyai perihal qurban.
Kata qurban sendiri berasal dari asal kata ‘qoroba’ yang berarti dekat. Inti dari ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan menyembelih hewan untuk dibagikan kepada umat Islam. Syariat ini sungguh memiliki dua manfaat yang sangat berkaitan. Keduanya bersinggungan dalam kata qoroba, atau dekat. Kita bisa juga menyatakannya dengan bahasa anak gaul, pedekate.
Pedekate biasanya diartikan sebagai upaya untuk mendekat kepada objek agar tujuan subjek bisa diterima dengan baik. Seorang jejaka yang naksir anak gadis tetangga biasanya melakukan pedekate dengan orang-orang terdekat si gadis. Bisa pedekate dengan temannya, adiknya, kakaknya bahkan dengan orang tuanya. Dalam proses pedekate si jejaka biasanya tidak sekedar mengobral kebaikan verbal, dia juga menunjukkan i’tikad baik dengan buah tangan. Membelikan oleh-oleh kepada keluarga si gadis menjadi pilihan cerdas dalam proses pedekate. Apalagi jika ayahnya yang ‘ahlu hisap’ selalu diberi bingkisan rokok kesayangan dan ibunya yang suka rujak juga demikian, niscaya proses hubungan akan berjalan lancar.
Demikian indahnya proses hubungan yang dibangun dengan pedekate. Si pemuda yang memang sudah memiliki niat baik, kemudian berbuat baik akhirnya mendapatkan yang terbaik. SIM (surat izin menikahi) dari orang tua si gadis didapat dengan lancar. Akan nikah dilaksanakan. Di depan penghulu bersaksi sehidup semati dengan pujaan hati yang kini telah bersanding di sisi. Subhanallah
Allah Sang Maha mengajari kita jauh sebelum si pejaka malaksanakan modus operandinya. Syariat Qurban merupakan cara Allah mengajarkan kita teknik pedekate. Cara ini juga dilegitimasi oleh sabda Rasul yang artinya “berbagi hadiahlah, niscaya kalian akan saling menyayangi”. Membeli hewan qurban untuk dipotong dan dibagikan dagingnya kepada masyarakat sekitar merupakan cara pedekate yang sungguh indah. Kita mendekati makhluk yang paling disayangi Allah, yaitu para fakir dan miskin agar mendapat perhatian dari Yang Maha Kaya.
Dalam pedekate ini terjadi mutual happiness, semua pihak berbahagia. Masyarakat yang mendapat manfaat langsung sangat senang, bahkan berharap ada acara kurban setiap bulan, he… Orang yang berqurban juga senang karena mendapat limpahan sayang dari masyarakat bahkan Allah ikut senang. sesungguhnya kebahagiaan makhluk adalah bagian dari kebahagiaan Kholik. Sebagaimana sabda Rasul, “sayanglah mahkluk yang ada di bumi niscaya Allah yang dilangit akan menyayangimu”
Selamat berbahagian dengan kurban anda. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya bagi kita semua. Amien Ya Rabbal Alamien

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: