Visi Pak Kiyai

Dewasa ini lembaga pendidikan Islam tumbuh subur. Ibarat pohon di musim semi, berebut mengeguk air sambil menikmati cahaya matahari. Daerah perkotaan pun sudah diagresi. Pesantren salah satu lembaga pendidikan Islam tertua yang dulu identik dengan kemarginalan berangsur menjadi idola. Orang tua sudah tidak segan lagi membawa anaknya ke pesantren. Bahkan sebagian orang tua sudah mem-planing setelah tamat Sekolah Dasar anaknya dipesantrenkan.

Geliat positif dari masyarakat terhadap pesantren tidak terlepas dari semakin baiknya mutu lembaga pendidikan islam tersebut. Alumni pesantren terbukti bisa bersaing di lingkungan global. Tidak sekedar menjadi guru ngaji dan penjaga masjid, alumni pesantren terutama yang modern sudah bisa mengisi kursi terhormat di lembaga negara atau sosial. Ada yang menjadi anggota dewan, menjadi menteri, pengurus ormas, rektor di perguruan tinggi dan lain-lain.

Melejitnya citra pesantren melalui sepak terjang alumninya tidak terlepas dari visi para kiyai. Dalam lingkungan pesantren, kiyai merupakan figur sentral. Sosok agung yang segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan. Jika diibaratkan, kiyai di pesantren bagaikan matahari bagi bumi. Gelap dan terangnya pesantren tergantung pak kiyai. Tumbuh dan berkembangnya tunas-tunas di pesantren juga ada di balik sosok kiyai.

Seorang kiyai pelopor lembaga pesantren modern, KH. Imam Zarkasyi pernah diwawancarai oleh seorang wartawan nasional. Ketika ditanya tentang figur alumni yang sukses, Pak Zar demikian beliau biasa dipanggil menjelaskan bahwa Alumni pesantren Gontor yang sukses adalah mereka yang mengajarkan al-Qur’an di desa terpencil tanpa tersentuh publikasi. Mendengar jawaban pak kiyai, si wartawan tertegun. Dia kaget. Alumni Gontor waktu itu sudah banyak yang berhasil menjadi tokoh nasional. Tapi pak Zar tidak menganggap mereka sebagai figur ideal alumni pesantren.

Mengapa pak Zar tidak menyebut alumni yang sukses di tingkat nasional atau bahkan tidak menyinggung kriteria eksistensi di tingkat nasional sebagai indikator keberhasilan seorang alumni Gontor? apakah pak Zar tidak menghargai proses berliku yang dilalui seorang alumni untuk eksis di tingkat nasional? Saya rasa tidak. Pak Zar sangat membanggakan alumni yang bisa berkecimpung di tingkat nasional. Bahkan mereka diundang secara khusus dalam acara pesantren.

Mengapa beliau menempatkan figur alumni yang mengajar Al-Qur’an di pedesaan sebagai contoh sukses? Ini lah visi seorang kiyai yang tingkat pemahamannya terhadap pendidikan di atas rata-rata. Beliau seorang visioner ulung yang dapat membaca kebutuhan juga ketersediaan material.

Masyarakat adalah objek utama dari program pendidikan. Pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan utama manusia. Dan kebutuhan utama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah beribadah kepada Sang Maha. Pendidikan Islam harus memenuhi kebutuhan ini. Program yang dikembangkan oleh pesantren harus sejalan dengan misi ini. ” Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. Jika pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam sudah melupakan tujuan utama tersebut maka jangan berharap ada perbaikan di tengah masyarakat.

KH. Imam Zarkasyi telah membangun pondasi yang kokoh. Alumni pesantren harus menjadi agen Al-Qur’an. “Sampaikan pesan Ilahiyah meski satu ayat” hadits Nabi yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan dakwah tersebut seharusnya dimengerti dan diaplikasikan lebih general. Perintah Rasul bukan hanya kepada dai dan tidak sekedar menceramahi masyarakat, tapi setiap muslim seyogyanya menjadi agen Al-Qur’an. Banyak aktivitas yang dapat di lakukan seorang agen; Mengajarkan ngaji beserta hukum tajwidnya, memberikan kursus bahasa Arab agar Al-Qur’an tidak sekedar dibaca tapi juga dipahami artinya, memberikan contoh kebaikan sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an dan termasuk juga membuka masjlis ta’lim.

Alumni pesantren sejati adalah agen Al-Qur’an sebuah visi pendidikan yang luar biasa. Pak Zar mengajari kita tentang target primer di atas target sekunder. Menjadi mentri bagi alumni pesantren bukanlah tujuan utama. Menjadi tokoh nasional yang menggawangi ormas keagamaan bukan tujuan utama. Menjadi rektor, dekan atau dosen yang berkecimpung di perguruan tinggi atau menjadi guru di sekolah merupakan jalan untuk menjadi agen Al-Qur’an.

Maka sangat tepat ketika beliau mengatakan alumni Gontor yang paling hebat adalah mereka yang mangajarkan Al-Qur’an meski di pedesaan meski tanpa sorot mata kamera. Semoga kita menjadi agen Al-Qur’an dimana pun kita berada dan dalam profesi apapun yang sedang kita emban.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: