Substansi

1.1 Beberapa waktu lalu saya membaca buku Paulo Coelho. Penulis asal Brazil yang tenar lewat karyanya “the alchemis” menuturkan sebuah kisah penuh hikmah. Cerita nyata yang berlatar di sebuah wihara.

1.2 Seorang biksu senior mendapatkan seekor anak kucing. Anak kucing berbulu hitam terdampar di wihara. Tidak ada sanak saudara. Dia yatim tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Kucing hitam tanpa dosa bersitatap dengan sang biksu. Rasa welas asih biksu tersentuh.

1.3 Biksu yang penuh kasih tersebut merawat si kucing yatim. Dia memberinya makan dan minum. Dia juga mengelus si kucing tanda sayang. Di setiap kesempatan, biksu senior yang juga pemimpin wihara selalu membawa kucingnya. Bahkan dalam acara retret (pengajian khusus para biksu) dia membawanya.

1.4 Murid-murid sang biksu mulai memperhatikan. Mereka mendapatkan gurunya begitu khusu bersemedi dengan ditemani si kucing hitam.

1.5 Kabar tentang si kucing hitam yang selalu menemani biksu saat semedi tersebar. Banyak yang penasaran. Biksu dari wihara lain, datang ingin membuktikan. Mereka terpana. Si biksu senior dan kucing hitam nampak khusu.

1.6 waktu terus berlalu. Si biksu meninggal karena dimakan usia. Kucing hitam masih tetap hidup. Penerus biksu yang menaruh hormat kepada seniornya mempertahankan posisi si kucing. Di setiap acara retret si kucing dibawa. Semua biksu senang dengan keputusan pemimpin baru.

1.7 tahun berganti, kucing hitam pun mati. Namun di setiap wihara penerusnya tidak pernah hilang. Kucing hitam menjadi peserta wajib dalam setiap agenda wihara. Kucing hitam dianggap sebagai makhluk special. Tanpa kucing hitam ritual yang dijalankan wihara tidak afdol. Bahkan ada yang mewajibkannya. Bahkan ada yang marah besar jika dalam ritual wihara tidak terdapat kucing hitam. Bahkan ada yang lebih peduli dengan kucing hitam dari pada ritual wihara.

Sahabat pembaca…

Begitu mudahnya sebuah dekorasi mengalahkan substansi. Begitu mudahnya orang terpana dengan sebuah fenomena sehingga melupakan yang nyata. Para biksu di berbagai wihara sudah menjadikan kucing hitam sebagai menu utama. Mereka beranggapan bahwa kucing hitam yang telah menjadikan biksu senior memperolah kekhusuan dalam menjalankan ritual. Dengan kucing hitam ritual menjadi lebih bermakna, tanpanya ritual tidak terasa apa-apa. Mereka lupa bahwa kucing hitam itu ada karena rasa welas asih si biksu senior. Mereka tidak dapat mencerna makna yang terkandung dalam keberadaan kucing hitam di sisi gurunya.

Substansi yang ingin disampaikan gurunya adalah kasih sayang. Sebagai makhluk maka dia harus menyayangi makhluk yang lain. meski itu berbentuk seekor kucing kecil. Rasa sayang dan welas asih harus menjadi penuntun dalam kehidupan. Kucing hanya sebagai perlambang.
Kisah ini tidak terjadi sekali. Sangat banyak kisah lain yang ada di sekitar kita terkait dengan sulitnya manusia mencerna substansi dari sebuah kejadian. Manusia lebih senang dengan fakta yang bersifat materil dari pada menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga materi menjadi lebih bermakna dari pada esensinya. Padahal hakikat dari sebuah materi adalah esensi yang terkandung di dalamnya.
Fenomena terbaru di tengah masyarakat kita adalah peringatan sumpah pemuda. Tanggal 28 Oktober menjadi semacam event wajib bagi banyak kalangan untuk mengenang hari bersejarah ketika para pemuda dari berbagai daerah di tanah air mengadakan kongres yang menghasilkan deklarasi sumpah pemuda. Kantor-kantor pemerintah mengibarkan bendera merah putih, anak sekolah mengadakan upacara, para pecinta alam mendaki gunung untuk mengibarkan bendera, sosialita dunia maya memajang status terkait sumpah pemuda. Semuanya peduli. Merasa menjadi bagian dari hari bersejarah.
Tapi ada yang terlupa. Sumpah pemuda tidak sekedar seremonial. Tanggal 28 Oktober adalah cerminan dari penajaman sebuah visi. Bahwa cita-cita harus diperjelas dengan kata-kata dan kerja nyata.
Semua orang tentu memiliki cita-cita. Sebuah harapan yang bisa jadi hanya diketahui diri sendiri. Momen sumpah pemuda memberi kita kesempatan untuk bicara lantang tentang cita-cita. Bahwa cita-cita harus dideklarasikan. Setidaknya kita berani untuk mengungkapkan meski hanya kepada orang terdekat atau komonitas terbatas.
Mendeklarasikan cita-cita tentu lebih beresiko. Orang akan mengetahui cita-cita kita. Karena mereka tahu maka kita mengemban tanggung jawab untuk merealisasikannya. Meski ada tambahan beban, tapi kita juga berkesempatan untuk mendapat tambahan dukungan. Dengan dukungan lebih banyak orang, semangat untuk merealisasikan cita-cita terus bertambah.
Deklarasi Sumpah Pemuda terjadi pada tahun 1928. Substansi dari deklarasi tersebut adalah visi kebangsaan, bahwa indonesia adalah sebuah bangsa. Sebagai bangsa indonesia tentu harus merdeka. Dan cita-cita luhur tersebut berhasil diraih pada tahun 1945. Ada jeda waktu 17 tahun. Sebuah masa yang tidak terlalu panjang jika dibandingkan dengan proses perlawanan parsial yang dilakukan masyarakat Indonesia terhadap penjajah sejak abad ketujuhbelas.
Semoga ketika kita berani mendeklarasikan cita-cita dan didengarkan oleh banyak telinga, proses menuju pencapaiannya tidak memakan waktu terlalu lama.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: