Sumpah Saya Pemuda

Hari sumpah pemuda barusan berlalu. Senin, 28 Oktober 2013 adalah satu dari sekian puluh 28 Oktober yang pernah dilalui oleh bangsa Indonesia. Semenjak Muhammad Yamin menuliskan teks Sumpah Pemuda yang kemudian dijadikan sebagai deklarasi oleh para pemuda dalam Kongres Pemuda kedua 1928 di Jakarta, 28 Oktober menjadi hari bersejarah.

Dari deklarasi Sumpah Pemuda yang mengakomodir semangat kebangsaan dan kebersamaan lahir semangat perjuangan kemerdekaan. Berjuang bukan sekedar memerdekakan kepentingan pribadi dan golongan. Berjuang bukan sekedar ingin melawan kesewenangan bangsa penjajah. Berjuang bukan sekedar ingin menjadi pahlawan. Tapi berjuang untuk Indonesia merdeka.

Dengan sumpah pemuda makna kemerdekaan menjadi begitu signifikan. Sumpah bahwa hanya ada satu bangsa yaitu bangsa Indonesia dengan satu bahasa pemersatu bahasa Indonesia yang berdaulat di sebuah wilayah bernama tanah air Indonesia menuntun para pejuang bangsa baik yang muda atau tua ke sebuah muara yang sama. Warna kulit dinegasikan, demikian juga asal daerah serta agama. Tidak ada perbedaan yang bisa mengalahkan keinginan bersama. Semangat itu mengalir sampai ke nadi. Setiap perjuangan baik yang berbentuk fisik maupun yang menempuh jalan diplomatik bermuara pada cita-cita yang sama, MERDEKA.

Tujuh belas tahun setelah deklarasi, cita-cita yang diperjuangkan dengan darah dan air mata menjadi nyata. Indonesia merdeka, 17 Agustus 1945.

Menengok sejarah membuat kita lebih bijak melihat masa depan. Ketika saya termanggu sendiri di kantor kepala unit BRI Leuwiliang terbayang perjuangan para pemuda tempo doeloe. Mereka berjuang dari segala aspek kehidupan. Ada pemuda yang berjuang dengan mengangkat senjata. Jendral Soedirman (lahir, 24 Januari 1916-wafat, 29 Januari 1950) adalah vionernya. Beliau baru berusia 28 tahun saat memimpin pasukan Pembela Tanah Air (PETA) batalyon Banyumas melawan tentara Jepang. Ada yang berjuang melalui jalur diplomatik. Ir. Soekarno (lahir, 6 Juni 1901-wafat, 21 Juni 1970) salah satu pesohor perjuangan di atas meja. Beliau baru berusia 26 tahun saat mendirikan Partai Nasional indonesia. Ada juga yang berjuang melalui pena. Muhammad Yamien (lahir, 24 Agustus 1903-wafat 17 Oktober 1962) salah satunya. Beliau baru berusia 25 tahun saat menulis naskah sumpah pemuda. Tulisan M. Yamin tentang tanah air dan keindonesiaan menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan.

Jalan mana yang harus saya tempuh untuk saat ini?

Sekelumit pikiran berlintasan di kepala. Saya adalah bagian dari pemuda. Dari segi usia tidak diragukan lagi bahwa saya masih muda. Fakta usia itu diperkuat dengan kondisi fisik. Saya masih kuat bahkan untuk berjalan sejauh 10 kilo meter. Untuk sekedar mengangkat senjata dan bertempur melawan musuh tentu saya sangat siap. Tapi sayangnya ini bukan zaman perang. Masa kehidupan saya bukan masa perjuangan mengangkat senjata.

Ada dua jalur lagi yang bisa saya tempuh. Diplomatik! saya menjadi aktifis bergerak di organisasi atau yang lebih keren lagi menjadi pengurus partai politik. Tiba-tiba saja ada rasa mual muncul saat ide tentang parpol melintas. Menjadi pengurus parpol dengan harapan menjadi anggota dewan bukan pilihan yang terhormat. Setidaknya bagi saya untuk saat ini. Melihat kelakuan mayoritas anggota dewan yang senang menebar senyum di tengah jalan yang rusak, senang mengumbar janji di tengah kasus korupsi sudah cukup membentuk opini saya tentang politik. Lagi-lagi saya katakan untuk saat ini.

Pena. Sebuah pilihan akhir yang bukan sisa. Sepertinya perjuangan dengan pena bisa menjadi jalan bagi saya untuk ikut memeriahkan sumpah pemuda. Menulis tidak lebih buruk dari pada menembak. Bukankah pengarus goresan pena lebih menyebar dari pada sabetan pedang. Bukankah Al-Qur’an adalah wahyu yang kemudian dituliskan. Bukankah Allah Sang Pencipta mengajarkan manusia dengan qolam.

Pilihan sudah ditentukan, saya pun menulis.

Sumpah Saya Pemuda

Muda itu kuat, mampu menanggung beban berat

Muda itu giat, senantiasa melakukan kegiatan bermanfaat

Muda itu liat, berani ambil resiko tidak cari selamat

Muda itu hebat, selalu berusaha bekerja sampai tamat

Muda itu saya, bisa juga anda atau dia tidak mengenal usia

Karena muda adalah identitas para juara

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: