Rekontruksi Makna Kemanusiaan Saya

Saya ini manusia secara lahiriah sudah tidak mungkin diperdebatkan lagi. Fakta empirik dari puncak kepala sampai ujung kaki menjadi bukti sahih. Ditelusuri melalui histori genetik pun akan ditemukan bahwa ayah dan ibu saya adalah manusia tulen demikian juga kakek nenek sampai ke moyang sana. Meskipun Darwin mengatakan bahwa asal muasal manusia adalah kera, saya tidak percaya. Teori evolusi primata menjadi manusia sama mustahilnya seperti cerita Kabayan ke bulan naik andong. Itu sekedar bualan orang Barat yang ingin terbebas dari hukum Tuhan. Dengan evolusi mereka ingin membenarkan bahwa dunia ini tercipta sendiri demikian juga segala isinya. Akibatnya manusia tidak perlu bersusah payah mendirikan masjid, gereja, kuil, wihara atau tempat peribadatan lainnya. Tuhan tidak ada.
Biarlah Darwin dan pengikutnya yang sok pintar berimajinasi. Saya tetap percaya bahwa leluhur saya adalah manusia yang diciptakan Tuhan. Kelahiran mereka adalah proses alamiah yang menjadi wasilah dari penciptaan sesungguhnya. Meski pun ayah dan ibu saya berkontribusi dalam proses kelahiran ke dunia, saya tetap ciptaan Allah. Janin atas nama saya dititipkan Sang Maha Pengasih di dalam rahim ibu melalui proses biologis pembuahan ovum oleh sel sperma. Jika ditelusuri dari mana asal ‘air hina yang terpancar’ itu pada akhirnya kita menemukan Tuhan.
Dia yang telah menciptakan manusia pertama dari segumpal darah. Manusia tersebut hidup setelah ditiupkan roh dari ubun-ubunnya. Kemudian tulang rusuk kirinya diambil dan darinya tercipta seorang manusia baru berjenis kelamin perempuan. Satu laki-laki berpasangan dengan satu perempuan berepoduksi sehingga manusia menyebar di seluruh pelosok bumi. Penyebaran manusia ditopang dengan sumber daya alam. Matahari tidak pernah berhenti membantu daun-daun hijau berfotosintesis. Pohon tumbuh berbuah dimakan binatang herbivora. Para pemakan rumput berkembang biak menjadi santapan kelompok karnivora. Herbivora dan karnivora menjadi santapan lezat di atas meja makhluk omnivora terhormat.
Hidup berjalan lewat siklus rantai makanan. Semuanya saling berkaitan, saling mengambil manfaat. Teori yang kuat memakan yang lemah tidak selamanya benar. Cacing binatang lemah tidak berkaki menjadi pengurai seluruh bangkai makhluk hidup. Tuhan mendesain kehidupan sedemikian rupa sehingga manusia yang dilabeli sebagai khalifahNya leluasa membangun peradaban.
Kembali kepada saya. Secara biologis saya terbukti benar sebagai seorang manusia. Saya makan untuk hidup. Karena makanan tidak bisa datang sendiri maka saya mengusahakan. Bekerja adalah pilihan satu-satunya untuk mendapatkan kebutuhan yang bisa menutupi aspek biologis saya. Adapun pekerjaan teramat banyak macamnya. Saat saya memilih bekerja di dunia pendidikan menjadi guru yang mengajar di sekolah menengah, bukan berarti profesi guru menjadi satu-satunya pilihan. Teman saya ada yang menjadi pegawai di instansi pemerintahan. Kerabat ada yang berprofesi sebagai ahli di bidang tata bangunan. Kenalan ada yang asik di panggung politik. Orang lain banyak yang menjadi pengusaha. Bagi yang kalah dalam persaingan di sektor formal ada pilihan menjadi pelayan. Bahkan ada yang katanya profesi bermodal muka iba. Dengan menundukkan kepala, mengasongkan tangan maka rupiah demi rupiah berhamburan.
Apakah ketika saya bekerja telah disahkan menjadi manusia? Sah sebagai makhluk biologis.
Bagaimana jika saya bekerja untuk mengumpulkan modal mencari pasangan. Kemudian saya bekerja lagi agar bisa membiayai proses mempertahankan keturunan. Kemudian saya bekerja lagi agar keturunan saya terjamin masa depannya. Kemudian saya bekerja lagi agar di masa tua nanti saya tetap layak di sebut sebagai manusia. Apakah tingkat kemanusiaan saya sudah beranjak dari tangga biologis?
“Kalau hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”
Haji Abdul Malik Karim Amrullah menjawab pertanyaan saya. Penulis ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ yang akrab disebut Buya Hamka secara tidak langsung mengatakan bahwa manusia yang berhenti di tingkat biologis tidak bedanya dengan kera dan babi.
Bekerja hanya untuk kepentingan hidup sendiri atau menghidupi anak istri selevel dengan usaha kera menjalani hidup. Ayam yang saya lihat setiap hari mencari makan. Kucing yang sering saya lihat mencuri ikan. Semut yang pandai menggotong makanan besar dan menyembunyikan. Tikus yang menggigit apa saja untuk memuaskan nafsu perutnya. Anjing yang bergerombol menjebak mangsa kemudian memanggil anaknya untuk santap bersama. Babi yang sampai hati memakan kotoran sendiri. Mereka adalah makhluk Tuhan. Mereka dihidupi dengan roh yang ada dalam tubuhnya dan mereka berusaha mempertahankan hidup. Kalau saya hidup dan bekerja hanya untuk mempertahankan hidup maka apa bedanya dengan mereka.
Saya manusia yang dikatakan Al-Qur’an sebagai ‘ciptaan terbaik’. Kerangka jasmani saya hanya sebagai alat visualisasi eksistensi diri. Di dalam kerangka tersebut terdapat esensi. Rasul membahasakan esensi tersebut sebagai ‘fitrah’, setiap bayi yang lahir pasti membawa fitrah. Ulama mengartikan fitrah sebagai kecenderungan beragama. Pada dasarnya setiap manusia terlahir dengan membawa kepercayaan yang kuat bahwa hanya ada satu Ilah yang berhak disembah, Dia adalah Sang Pencipta yang meniupkan ruh saat manusia masih berbentuk alaqoh. Tapi ada ulama yang mengatakan bahwa fitrah adalah potensi. Potensi yang masih bisa diarahkan menuju salah satu jalan, kebaikan atau keburukan. Maka Rasul menambahkan bahwa kedua orang tua bisa menjadikan si bayi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Untuk menjadi manusia saya harus merangkak dari kerangka biologis. Bergerak ke depan dengan memanfaatkan potensi yang telah diberikan Tuhan. Potensi tersebut sebenarnya nampak dari bangun jasad; saya dianugerahi dua daun telinga sebagai alat untuk mendengar, saya dianugerahi dua mata sebagai alat untuk melihat, saya dianugerahi hati untuk merasa, saya dianugerahi otak untuk berpikir.
Menjadi manusia berarti mengikuti signal yang telah diberikan Pencipta. Lewat firmannya Tuhan mengarahkan manusia kepada satu titik ultimasi. Dia menciptakan bukan untuk kesenangan. Ada tujuan utama dari penciptaan. Tuhan ingin manusia menjadi hamba yang menyembahNya.
Jangan tanyakan apakah dengan demikian Tuhan ingin disembah. Tuhan Maha Ghoni, tidak pernah membutuhkan makhluk. Dia berdiri sendiri. Tidak punya kawan atau lawan. Dia tidak dilahirkan dan tidak juga melahirkan. Dia adalah wujud yang tidak bisa diserupai apa pun. Dia yang pertama dan yang terakhir. Dia kekal tidak terbatas ruang dan waktu.
Manusia jangan banyak bertanya tentang hakikat Tuhan, cukup dengan mengetahui sifatNya manusia bisa mendapat petunjuk. Sebuah arahan menuju kesempurnaan. Kitab suci membahasakannya dengan istilah insan kamil, kita bisa menyebut akronimnya manusia sebenarnya. Manusia yang tidak hanya terbatas pada bangun jasad. Manusia sebenarnya sesuai fitrah penciptaan yang diberi potensi ragawi, akli dan juga rohani. Ibnu Miskawaih membahasakannya dengan; Al- Quwwatul Syahwiyah, Al-Quwwatul Aqliyah dan Al-Quwwatul Godhbiyyah.
Menjadi manusia sebenarnya berarti mengikuti master plan Sang Pencipta yaitu hamba yang menyembahNya. Formula penyembahan yang reprensentatif terhadap potensi azali berarti mendayagunakan raga, akal dan jiwa.
Berarti saya harus bekerja untuk bertahan hidup sambil beribadah agar tetap berhubungan dengan Yang memberi hidup. Antara bekerja dan beribadah ada tirai pemisah. Bekerja untuk kepentingan ragawi dan beribadah untuk urusan rohani. Ketika saya bekerja tidak usah menghiraukan aspek rohani karena kerja sudah dijelaskan sebelumnya hanya terkait dengan pemenuhan kebutuhan biologis. Dalam bekerja hanya ada satu tujuan mendapatkan pemuasan sebanyak-banyaknya. Cara mendapatkan tidak usah dipusingkan dengan aturan kerohanian.
Setelah beres melakukan aktifitas pemenuhan kebutuhan biologis, saya pasrahkan diri kepada Ilahi. Punggung saya bungkukkan. Mengakui bahwa Dia Yang Maha Besar. Kening saya letakkan di tempat terendah. Mengakui bahwa hanya Dia yang Maha Tinggi. Saya datang dengan kehinaan. Saya tunduk pasrah kepada Yang Maha Kuat.
Saya berkaca terus bertanya, Apakah sudah menjadi manusia sebenarnya?
Manusia sesungguhnya adalah manusia kulliyah, bukan juziyyah. Istilah Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Al-Basyar, terkait dengan potensi biologis, kemudian An-Naas terkait dengan potensi sosiologis dan Al-Insan terkait dengan potensi psikologis tidak bisa dipisahkan. Manusia adalah satu kesatuan utuh yang mencakup tiga potensi yang disampaikan Ibnu Miskawaih di atas. Integrasi kekuatan fisik, pikir dan emosi akan mengarahkan manusia kepada satu potensi utama yaitu potensi religi. Manusia sebagai makhluk yang beragama. Manusia sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari Tuhan.
Keberagamaan tidak sekedar penghambaan fisik melalui ritual ibadah. Keberagamaan harus ditunjang dengan keinsafan pikiran dari kecenderungan untuk menduakan Yang Ahad. Keberagamaan ditopang dengan kepasrahan total dengan sepenuh jiwa. Ketika dia bekerja, ketika dia berkarya, ketika dia beribadah faktor dominan yang menjadi ruh dari aktifitasnya adalah keridhaan dari Sang Maha Kuasa.
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya aku pasrahkan Kepada Allah”
Aku bekerja bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan diriku dan keluarga
Aku berkarya bukan untuk mengukir eksistensi diri di tengah panggung dunia
Aku hidup karena dihidupkan
aku pun akan mati
Semua daya dan upaya yang aku lakukan tidak akan berbekas tanpa ada anggukan dariNya
Karena aku manusia, seorang hamba yang tidak berdaya
Karena aku manusia, kesempurnaanku adalah ketika mampu berjumpa dengaNya

Islamisasi Ilmu Membendung Pengaruh Barat Terhadap Umat Islam

Konsep Islamisasi ilmu yang sedang menjadi tren dikalangan akademisi Muslim tidak terlepas dari dua orang figur cendikiawan Muslim, Ismail Raji Al-Faruqi (1921-1986) dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1931-sekarang). Islamisasi ilmu yang diperkenalkan oleh Al-Faruqi sendiri terilhami dari pemikiran Muhammad Iqbal yang dibukukan dengan judul, The Reconstruction of Religious Thought in Islam.

Pengertian Islamisasi Pengetahuan bagi Al-Faruqi adalah penguasaan semua disiplin Modern dengan sempurna, melakukan integrasi dalam utuhan warisan Islam dengan eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponen pandangan dunia Islam dan menetapkan nilai-nilainya (Al Faruqi 1995, 34-35)[1].

Islamisasi Ilmu harus merujuk pada tiga sumbu Tawhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup dan kesatuan sejarah. Kesatuan pengetahuan berkaitan dengan tidak ada lagi pemisahan pengetahuan rasional (aqli) dan tidak rasional (naqli). Kesatuan hidup berkaitan dengan semua pengetahuan yang harus mengacu pada tujuan penciptaan, yang berdampak lanjutan pada tidak bebasnya pengetahuan dari nilai, yaitu nilai Ketuhanan. Kesatuan sejarah berkaitan kesatuan disiplin yang harus mengarah sifat keumatan dan mengabdi pada tujuan-tujuan ummah di dalam sejarah.[2]

Semboyan “ilmu untuk ilmu” tidak dikenal dan tidak dibenarkan oleh Islam. Apapun ilmunya, materi pembahasannya harus bismi Rabbik, atau dengan kata lain harus bernilai Rabbani. Sehingga ilmu yang-dalam kenyataannya dewasa ini mengikuti pendapat sebagian ahli-“bebas nilai”, harus diberi nilai Rabbani oleh ilmuan Muslim.[3]

Menurut Al-Attas proses Islamisasi harus melakukan dua langkah utama, yaitu proses verifikasi dan proses penyerapan dengan batasan-batasan tertentu. Proses Islamisasi adalah proses sintesis seperti dilakukan Faruqi. Sintesa dapat dilakukan ketika konsep-konsep Barat telah disaring dan direduksi unsur-unsurnya. Yang paling penting, lanjut Al-Attas, Islamisasi Al Faruqi mengecilkan peran tassawuf. Bagi Al-Attas, tassawuf adalah cara yang harus pula dilakukan untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman empirisme, pragmatisme, materialisme dan rasionalisme sempit yang merupakan sumber utama sains modern. Masuknya konsep tassawuf menurut Al-Attas akan memberi arah yang benar pada kesatuan akal, jiwa, intuisi dan spiritualitas.

Pandangan Al-Faruqi dan Al-Attas tentang Islamisasi ilmu di atas baru sekedar menyentuh ilmu dari sisi ontologi, padahal sekarang westernisasi ilmu sudah mulai beralih dari ontologi menuju akseologi. Jika dulu ilmuan Barat melakukan kajian tentang hakekat ilmu maka setelah memenangkan pertarungan dengan agama dalam hal ini Katolik sekarang mereka mulai mensekulerisasi ilmu pada tatanan praktis melalui teknologi. Bertrand Russel menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap “kontemplasi ke manipulasi”.[4]

Dendam sejarah ilmuan Barat terhadap institusi agama masih belum padam. Mereka masih gigih memerangi segala sesuatu yang berkaitan dengan agama. Melalui kemajuan teknologi mereka menyeret manusia untuk pergi menjauh dari nilai-nilai agama, sehingga bukan hanya ilmuan sekuler yang menuhankan ilmu, masyarakat umum pun digiring kepada muara yang sama.

Serangan teknologi informasi dewasa ini sangat jelas objeknya, yaitu masyarakat agamis. Melalui tayangan televisi, media cetak, industry film dan internet para ilmuan anti Tuhan menggiring masyarakat untuk melanggar aturan agama. Oleh karena itu jangan heran jika setiap perbuatan yang dilarang agama pasti menjadi objek eksploitasi. Konsep hidup sederhana yang dianjurkan oleh agama dihancurkan dengan tawaran gaya hedonism. Institusi pernikahan yang disucikan oleh agama dirusak dengan budaya free sex, bahkan hubungan sesama jenis yang dilaknat oleh semua agama pun diperjuangkan sebagai sebuah hak asasi. Minuman keras dan benda-benda yang memabukkan dijadikan industry peraup keuntungan terbesar. Pornografi disebar layaknya jamur di musim hujan sehingga orang yang berusaha menghindari pornografi pun tidak kuasa mencari jalan untuk memalingkan muka.

Serangan anti-Tuhan ini merupakan hal yang nyata di kehidupan kita. Tidak perlu jauh-jauh ke tempat maksiat, di saku celana pun peluru para pembenci agama selalu siap menembak kita. Melalui telpon seluler yang terus menerus dikembangkan kecangihannya, kita dipenjara dalam kerangkeng gerakan anti Tuhan.

Maka Islamisasi ilmu sekarang adalah islamisasi manfaat ilmu. Teknologi sebagai manifestasi terkini ilmu Barat harus menjadi objek Islamisasi. Ilmuan Muslim harus berani mengembangkan teknologi yang bisa mencounter serangan westernisasi, karena pemahaman ontologi islamisasi ilmu saja tidak cukup untuk mengalahkan ilmuan Barat. Ceramah tentang ilmu yang islami hanya akan menjadi payung di atas kepala padahal hujan telah berubah menjadi badai.

Teknologi yang dikembangkan oleh ilmuan Muslim tentunya harus merujuk kepada tiga sifat ilmu menurut Islam sebagaimana telah dirumusakan oleh Al-Faruqi; kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup dan kesatuan sejarah. Tantangan yang harus segera ditaklukan oleh ilmuan Muslim dalam rangkan Islamisasi ilmu adalah:

Menciptakan teknologi yang berorientasi kepada Sang Maha Pencipta (teknologi Rabbani)
Menjadikan teknologi Rabbani sebagai kebutuhan umat di zaman modern sehingga mereka tidak memiliki pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan teknologi tersebut.
Membangun komunitas intelektual Muslim yang diproyeksikan secara khusus untuk mengembangkan teknologi Rabbani.
Jika ketiga hal di atas mampu dilaksanakan oleh ilmuan Muslim niscaya serangan sekulerisme ilmu yang sedang dilancarkan oleh ilmuan Barat akan menemukan dinding tebal. Teknologi Rabbani yang dikembangkan tentu dengan sendirinya akan menjadi dai-dai efektif yang mengirimkan pesan kepada umat tanpa harus melalui proses berliku. Maka proses pencerahan umat tidak melulu dilakukan secara seremonial. Dengan perlahan tapi pasti umat akan kembali memahami hakekat ilmu, bahwa segala macam ilmu yang berasal dari proses mendengar, melihat dan menghayati bertujuan untuk menjadikan manusia hamba yang beriman, la’allakum tasykurun atau dalam bahasa tafsir Jalalain tu’minun.

Hari Yatim se-Dunia

Membaca judul tulisan ini bisa membuat kerut di kulit muka. Hari Yatim Se dunia? Memang ada! Kapan diresmikannya? Siapa yang meresmikan? Ah ngaco. Ada- ada saja . Bikin sensasi!
Bayangan kelam terbesit di kepala saya andai saja tulisan ini dibaca oleh masyarakat dunia. Membuat hari istimewa untuk masyarakat dunia tidak semudah membuat hari libur nasional atau hari kejepit nasional. Sebuah momen dianggap mendunia jika momen tersebut mengandung nilai universal. Ambil contoh may day, hari buruh se dunia tanggal 1 Mei yang diakui semua penghuni bumi. Atau hari kasih sayang, valentine day setiap tanggal 14 Februari yang dirayakan di lima benua. Kedua momen tersebut mendunia karena dianggap mewakili kepentingan seluruh masyarakat dunia tanpa terbatas negara dan agama.
Tapi entah kenapa, saya masih kekeh ingin menduniakan hari yatim. Meskipun term yatim dianggap sebagai bagian dari agama Islam, tapi seluruh dunia juga mempunyai anak yang hidup dan besar tanpa perlindungan ayah kandungnya karena si ayah sudah berpulang kepada Yang Maha Kuasa. Orang Eropa juga manusia, mereka pasti mati demikian juga orang Amerika. Diantara yang mati pasti ada yang berstatus sebagai bapak dari anak-anak yang dilahirkan istrinya. Setelah kematiannya tentu si anak tidak memiliki perlindungan utama. Dan anak ini masuk dalam kategori yatim.
Meski sulit tapi celah untuk menduniakan hari anak yatim masih ada. Setidaknya kita bisa menjadikannya sebagai trend. Tengok saja hollowen, hari kesetanan yang dianut oleh orang barat. Anak-anak kita sudah mengenal istilah tersebut bahkan sebagian ada yang mempraktekannya. Berdandan ala setan atau makhluk menyeramkan kemudian berkumpul di sebuah ruangan untuk saling menakut-nakuti. Ini dikerjakan oleh ratusan juta umat manusia di dunia. Fakta! Padahal kita tidak bisa mengambil manfaat dari kegiatan tersebut. Belum lagi hari iseng se dunia yang disebut sebagai april mop. Pada hari tersebut setiap orang berhak berbuat tidak baik terhadapa orang lain dan tidak boleh disalahkan. Acara yang tidak bernilai ini malah sudah menjamah anak-anak sekolah di Indonesia.
Mengapa hallowen yang menakutkan dan april mop yang menjerumuskan bisa diterima oleh masyarakat dunia, sedangkan hari yatim tidak? Pasti ada yang salah dalam paradigma berpikir, jika kita umat Islam saja tidak berani menduniakan hari anak yatim. Maka saya katakan, mari belajar menyebarkan kebaikan meski di tengah masyarakat yang mulai lalai. Hari yatim tanggal 10 Muharram kita rayakan tidak dengan diam-diam. Kita buat seremoni, tidak hanya dikalangan orang tua, tapi juga mengarah kepada anak-anak dan remaja. Anak-anak sekolah baik yang dasar atau menengah harus ditanami rasa cinta terhadap anak yatim. Adakan acara peringatan hari anak yatim di sekolah.
Mereka harus diberi tahu tentang bagaimana Rasulullah saw panutan kita menyayangi anak yatim. Ketika suatu waktu beliau mendapatkan seorang anak kecil menangis, beliau mendekat kemudian bertanya, “Mengapa kamu menangis?” sia anak dalam isak tangis menjawab, “ayahku gugur di medan perang”. Bukan sekedar kematian ayahnya yang dia tangisi, tapi dampak dari kematian tersebut yang sangat mengiris hati.
Kematian orang tua tentu merupakan peristiwa duka dalam benak seorang anak. Orang yang paling dekat dan juga paling perhatian terhadapnya harus pergi untuk selamanya. Si anak merasakan kehilangan yang sangat besar. Kehilangan sosok ayah tersebut berimbas kepada kehilangan perlindungan dan juga pencukupan kebutuhan. Justru ini yang menjadikan duka pertama semakin menganga. Sakit ditinggal meninggal bertambah sakit dengan kekurangan pembiayaan.
Rasulullah sangat mengerti perasaan si anak. Beliau juga mengalami peristiwa yang sama. Saat terlahir ke dunia ayahnya sudah tiada. Besar dipangkuan ibu kemudian diasuh oleh kakek dan terakhir oleh pamannya. Rasul dengan penuh sayang berkata kepada si anak, “Bagaimana jika Muhammad menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, dan Hasan Husein menjadi saudaramu?” Mendengar tawaran Rasul, si anak menyeka air mata. Dia merasa tidak sendirian. Allah telah mengirimkan sosok ayah dalam diri Rasul.
Nilai yang terkandung dalam hari Yatim Se Dunia (mari kita biasakan mengatakan ini) sungguh sangat hebat. Mengajarkan manusia untuk mencintai sesama. Bahwa anak yang butuh perhatian serta kasih sayang bukan hanya yang dikandung oleh istri kita, tapi sosok tersebut bisa jadi anak orang lain yang ayahnya meninggal dunia. Menyantuni anak yang ditinggal meninggal oleh ayahnya adalah kebaikan. Saya menjamin bahwa kebaikan ini bersifat universal. Siapapun dan dari manapun akan mengakui bahwa perbuatan baik kepada anak yang kesulitan merupakan anjuran hati nurani.
Mengapa kita masih enggan men-dunia-kan hari anak yatim? Tidak usah sungkan, atau takut dianggap pamer jika pada hari anak yatim kita kumpulkan mereka di rumah untuk berbagi kebahagiaan. Tidak perlu merasa ragu untuk mengajak tetangga, kerabat bahkan orang yang baru kita kenal merayakan hari anak yatim secara terang-terangan. Saatnya kebaikan mendunia, tidak usah hiraukan perasaan tidak nyaman yang muncul karena intervensi pendapat umum yang mengatakan bahwa kebaikan tidak perlu diperlihatkan. Kalau bukan orang baik yang mengabarkan kebaikan, siapa lagi? Kalau bukan orang Islam yang men-dunia-kan hari anak yatim, siapa lagi yang peduli?