Hari Yatim se-Dunia

Membaca judul tulisan ini bisa membuat kerut di kulit muka. Hari Yatim Se dunia? Memang ada! Kapan diresmikannya? Siapa yang meresmikan? Ah ngaco. Ada- ada saja . Bikin sensasi!
Bayangan kelam terbesit di kepala saya andai saja tulisan ini dibaca oleh masyarakat dunia. Membuat hari istimewa untuk masyarakat dunia tidak semudah membuat hari libur nasional atau hari kejepit nasional. Sebuah momen dianggap mendunia jika momen tersebut mengandung nilai universal. Ambil contoh may day, hari buruh se dunia tanggal 1 Mei yang diakui semua penghuni bumi. Atau hari kasih sayang, valentine day setiap tanggal 14 Februari yang dirayakan di lima benua. Kedua momen tersebut mendunia karena dianggap mewakili kepentingan seluruh masyarakat dunia tanpa terbatas negara dan agama.
Tapi entah kenapa, saya masih kekeh ingin menduniakan hari yatim. Meskipun term yatim dianggap sebagai bagian dari agama Islam, tapi seluruh dunia juga mempunyai anak yang hidup dan besar tanpa perlindungan ayah kandungnya karena si ayah sudah berpulang kepada Yang Maha Kuasa. Orang Eropa juga manusia, mereka pasti mati demikian juga orang Amerika. Diantara yang mati pasti ada yang berstatus sebagai bapak dari anak-anak yang dilahirkan istrinya. Setelah kematiannya tentu si anak tidak memiliki perlindungan utama. Dan anak ini masuk dalam kategori yatim.
Meski sulit tapi celah untuk menduniakan hari anak yatim masih ada. Setidaknya kita bisa menjadikannya sebagai trend. Tengok saja hollowen, hari kesetanan yang dianut oleh orang barat. Anak-anak kita sudah mengenal istilah tersebut bahkan sebagian ada yang mempraktekannya. Berdandan ala setan atau makhluk menyeramkan kemudian berkumpul di sebuah ruangan untuk saling menakut-nakuti. Ini dikerjakan oleh ratusan juta umat manusia di dunia. Fakta! Padahal kita tidak bisa mengambil manfaat dari kegiatan tersebut. Belum lagi hari iseng se dunia yang disebut sebagai april mop. Pada hari tersebut setiap orang berhak berbuat tidak baik terhadapa orang lain dan tidak boleh disalahkan. Acara yang tidak bernilai ini malah sudah menjamah anak-anak sekolah di Indonesia.
Mengapa hallowen yang menakutkan dan april mop yang menjerumuskan bisa diterima oleh masyarakat dunia, sedangkan hari yatim tidak? Pasti ada yang salah dalam paradigma berpikir, jika kita umat Islam saja tidak berani menduniakan hari anak yatim. Maka saya katakan, mari belajar menyebarkan kebaikan meski di tengah masyarakat yang mulai lalai. Hari yatim tanggal 10 Muharram kita rayakan tidak dengan diam-diam. Kita buat seremoni, tidak hanya dikalangan orang tua, tapi juga mengarah kepada anak-anak dan remaja. Anak-anak sekolah baik yang dasar atau menengah harus ditanami rasa cinta terhadap anak yatim. Adakan acara peringatan hari anak yatim di sekolah.
Mereka harus diberi tahu tentang bagaimana Rasulullah saw panutan kita menyayangi anak yatim. Ketika suatu waktu beliau mendapatkan seorang anak kecil menangis, beliau mendekat kemudian bertanya, “Mengapa kamu menangis?” sia anak dalam isak tangis menjawab, “ayahku gugur di medan perang”. Bukan sekedar kematian ayahnya yang dia tangisi, tapi dampak dari kematian tersebut yang sangat mengiris hati.
Kematian orang tua tentu merupakan peristiwa duka dalam benak seorang anak. Orang yang paling dekat dan juga paling perhatian terhadapnya harus pergi untuk selamanya. Si anak merasakan kehilangan yang sangat besar. Kehilangan sosok ayah tersebut berimbas kepada kehilangan perlindungan dan juga pencukupan kebutuhan. Justru ini yang menjadikan duka pertama semakin menganga. Sakit ditinggal meninggal bertambah sakit dengan kekurangan pembiayaan.
Rasulullah sangat mengerti perasaan si anak. Beliau juga mengalami peristiwa yang sama. Saat terlahir ke dunia ayahnya sudah tiada. Besar dipangkuan ibu kemudian diasuh oleh kakek dan terakhir oleh pamannya. Rasul dengan penuh sayang berkata kepada si anak, “Bagaimana jika Muhammad menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, dan Hasan Husein menjadi saudaramu?” Mendengar tawaran Rasul, si anak menyeka air mata. Dia merasa tidak sendirian. Allah telah mengirimkan sosok ayah dalam diri Rasul.
Nilai yang terkandung dalam hari Yatim Se Dunia (mari kita biasakan mengatakan ini) sungguh sangat hebat. Mengajarkan manusia untuk mencintai sesama. Bahwa anak yang butuh perhatian serta kasih sayang bukan hanya yang dikandung oleh istri kita, tapi sosok tersebut bisa jadi anak orang lain yang ayahnya meninggal dunia. Menyantuni anak yang ditinggal meninggal oleh ayahnya adalah kebaikan. Saya menjamin bahwa kebaikan ini bersifat universal. Siapapun dan dari manapun akan mengakui bahwa perbuatan baik kepada anak yang kesulitan merupakan anjuran hati nurani.
Mengapa kita masih enggan men-dunia-kan hari anak yatim? Tidak usah sungkan, atau takut dianggap pamer jika pada hari anak yatim kita kumpulkan mereka di rumah untuk berbagi kebahagiaan. Tidak perlu merasa ragu untuk mengajak tetangga, kerabat bahkan orang yang baru kita kenal merayakan hari anak yatim secara terang-terangan. Saatnya kebaikan mendunia, tidak usah hiraukan perasaan tidak nyaman yang muncul karena intervensi pendapat umum yang mengatakan bahwa kebaikan tidak perlu diperlihatkan. Kalau bukan orang baik yang mengabarkan kebaikan, siapa lagi? Kalau bukan orang Islam yang men-dunia-kan hari anak yatim, siapa lagi yang peduli?

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: