Islamisasi Ilmu Membendung Pengaruh Barat Terhadap Umat Islam

Konsep Islamisasi ilmu yang sedang menjadi tren dikalangan akademisi Muslim tidak terlepas dari dua orang figur cendikiawan Muslim, Ismail Raji Al-Faruqi (1921-1986) dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas (1931-sekarang). Islamisasi ilmu yang diperkenalkan oleh Al-Faruqi sendiri terilhami dari pemikiran Muhammad Iqbal yang dibukukan dengan judul, The Reconstruction of Religious Thought in Islam.

Pengertian Islamisasi Pengetahuan bagi Al-Faruqi adalah penguasaan semua disiplin Modern dengan sempurna, melakukan integrasi dalam utuhan warisan Islam dengan eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponen pandangan dunia Islam dan menetapkan nilai-nilainya (Al Faruqi 1995, 34-35)[1].

Islamisasi Ilmu harus merujuk pada tiga sumbu Tawhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup dan kesatuan sejarah. Kesatuan pengetahuan berkaitan dengan tidak ada lagi pemisahan pengetahuan rasional (aqli) dan tidak rasional (naqli). Kesatuan hidup berkaitan dengan semua pengetahuan yang harus mengacu pada tujuan penciptaan, yang berdampak lanjutan pada tidak bebasnya pengetahuan dari nilai, yaitu nilai Ketuhanan. Kesatuan sejarah berkaitan kesatuan disiplin yang harus mengarah sifat keumatan dan mengabdi pada tujuan-tujuan ummah di dalam sejarah.[2]

Semboyan “ilmu untuk ilmu” tidak dikenal dan tidak dibenarkan oleh Islam. Apapun ilmunya, materi pembahasannya harus bismi Rabbik, atau dengan kata lain harus bernilai Rabbani. Sehingga ilmu yang-dalam kenyataannya dewasa ini mengikuti pendapat sebagian ahli-“bebas nilai”, harus diberi nilai Rabbani oleh ilmuan Muslim.[3]

Menurut Al-Attas proses Islamisasi harus melakukan dua langkah utama, yaitu proses verifikasi dan proses penyerapan dengan batasan-batasan tertentu. Proses Islamisasi adalah proses sintesis seperti dilakukan Faruqi. Sintesa dapat dilakukan ketika konsep-konsep Barat telah disaring dan direduksi unsur-unsurnya. Yang paling penting, lanjut Al-Attas, Islamisasi Al Faruqi mengecilkan peran tassawuf. Bagi Al-Attas, tassawuf adalah cara yang harus pula dilakukan untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman empirisme, pragmatisme, materialisme dan rasionalisme sempit yang merupakan sumber utama sains modern. Masuknya konsep tassawuf menurut Al-Attas akan memberi arah yang benar pada kesatuan akal, jiwa, intuisi dan spiritualitas.

Pandangan Al-Faruqi dan Al-Attas tentang Islamisasi ilmu di atas baru sekedar menyentuh ilmu dari sisi ontologi, padahal sekarang westernisasi ilmu sudah mulai beralih dari ontologi menuju akseologi. Jika dulu ilmuan Barat melakukan kajian tentang hakekat ilmu maka setelah memenangkan pertarungan dengan agama dalam hal ini Katolik sekarang mereka mulai mensekulerisasi ilmu pada tatanan praktis melalui teknologi. Bertrand Russel menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap “kontemplasi ke manipulasi”.[4]

Dendam sejarah ilmuan Barat terhadap institusi agama masih belum padam. Mereka masih gigih memerangi segala sesuatu yang berkaitan dengan agama. Melalui kemajuan teknologi mereka menyeret manusia untuk pergi menjauh dari nilai-nilai agama, sehingga bukan hanya ilmuan sekuler yang menuhankan ilmu, masyarakat umum pun digiring kepada muara yang sama.

Serangan teknologi informasi dewasa ini sangat jelas objeknya, yaitu masyarakat agamis. Melalui tayangan televisi, media cetak, industry film dan internet para ilmuan anti Tuhan menggiring masyarakat untuk melanggar aturan agama. Oleh karena itu jangan heran jika setiap perbuatan yang dilarang agama pasti menjadi objek eksploitasi. Konsep hidup sederhana yang dianjurkan oleh agama dihancurkan dengan tawaran gaya hedonism. Institusi pernikahan yang disucikan oleh agama dirusak dengan budaya free sex, bahkan hubungan sesama jenis yang dilaknat oleh semua agama pun diperjuangkan sebagai sebuah hak asasi. Minuman keras dan benda-benda yang memabukkan dijadikan industry peraup keuntungan terbesar. Pornografi disebar layaknya jamur di musim hujan sehingga orang yang berusaha menghindari pornografi pun tidak kuasa mencari jalan untuk memalingkan muka.

Serangan anti-Tuhan ini merupakan hal yang nyata di kehidupan kita. Tidak perlu jauh-jauh ke tempat maksiat, di saku celana pun peluru para pembenci agama selalu siap menembak kita. Melalui telpon seluler yang terus menerus dikembangkan kecangihannya, kita dipenjara dalam kerangkeng gerakan anti Tuhan.

Maka Islamisasi ilmu sekarang adalah islamisasi manfaat ilmu. Teknologi sebagai manifestasi terkini ilmu Barat harus menjadi objek Islamisasi. Ilmuan Muslim harus berani mengembangkan teknologi yang bisa mencounter serangan westernisasi, karena pemahaman ontologi islamisasi ilmu saja tidak cukup untuk mengalahkan ilmuan Barat. Ceramah tentang ilmu yang islami hanya akan menjadi payung di atas kepala padahal hujan telah berubah menjadi badai.

Teknologi yang dikembangkan oleh ilmuan Muslim tentunya harus merujuk kepada tiga sifat ilmu menurut Islam sebagaimana telah dirumusakan oleh Al-Faruqi; kesatuan pengetahuan, kesatuan hidup dan kesatuan sejarah. Tantangan yang harus segera ditaklukan oleh ilmuan Muslim dalam rangkan Islamisasi ilmu adalah:

Menciptakan teknologi yang berorientasi kepada Sang Maha Pencipta (teknologi Rabbani)
Menjadikan teknologi Rabbani sebagai kebutuhan umat di zaman modern sehingga mereka tidak memiliki pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan teknologi tersebut.
Membangun komunitas intelektual Muslim yang diproyeksikan secara khusus untuk mengembangkan teknologi Rabbani.
Jika ketiga hal di atas mampu dilaksanakan oleh ilmuan Muslim niscaya serangan sekulerisme ilmu yang sedang dilancarkan oleh ilmuan Barat akan menemukan dinding tebal. Teknologi Rabbani yang dikembangkan tentu dengan sendirinya akan menjadi dai-dai efektif yang mengirimkan pesan kepada umat tanpa harus melalui proses berliku. Maka proses pencerahan umat tidak melulu dilakukan secara seremonial. Dengan perlahan tapi pasti umat akan kembali memahami hakekat ilmu, bahwa segala macam ilmu yang berasal dari proses mendengar, melihat dan menghayati bertujuan untuk menjadikan manusia hamba yang beriman, la’allakum tasykurun atau dalam bahasa tafsir Jalalain tu’minun.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: