Rekontruksi Makna Kemanusiaan Saya

Saya ini manusia secara lahiriah sudah tidak mungkin diperdebatkan lagi. Fakta empirik dari puncak kepala sampai ujung kaki menjadi bukti sahih. Ditelusuri melalui histori genetik pun akan ditemukan bahwa ayah dan ibu saya adalah manusia tulen demikian juga kakek nenek sampai ke moyang sana. Meskipun Darwin mengatakan bahwa asal muasal manusia adalah kera, saya tidak percaya. Teori evolusi primata menjadi manusia sama mustahilnya seperti cerita Kabayan ke bulan naik andong. Itu sekedar bualan orang Barat yang ingin terbebas dari hukum Tuhan. Dengan evolusi mereka ingin membenarkan bahwa dunia ini tercipta sendiri demikian juga segala isinya. Akibatnya manusia tidak perlu bersusah payah mendirikan masjid, gereja, kuil, wihara atau tempat peribadatan lainnya. Tuhan tidak ada.
Biarlah Darwin dan pengikutnya yang sok pintar berimajinasi. Saya tetap percaya bahwa leluhur saya adalah manusia yang diciptakan Tuhan. Kelahiran mereka adalah proses alamiah yang menjadi wasilah dari penciptaan sesungguhnya. Meski pun ayah dan ibu saya berkontribusi dalam proses kelahiran ke dunia, saya tetap ciptaan Allah. Janin atas nama saya dititipkan Sang Maha Pengasih di dalam rahim ibu melalui proses biologis pembuahan ovum oleh sel sperma. Jika ditelusuri dari mana asal ‘air hina yang terpancar’ itu pada akhirnya kita menemukan Tuhan.
Dia yang telah menciptakan manusia pertama dari segumpal darah. Manusia tersebut hidup setelah ditiupkan roh dari ubun-ubunnya. Kemudian tulang rusuk kirinya diambil dan darinya tercipta seorang manusia baru berjenis kelamin perempuan. Satu laki-laki berpasangan dengan satu perempuan berepoduksi sehingga manusia menyebar di seluruh pelosok bumi. Penyebaran manusia ditopang dengan sumber daya alam. Matahari tidak pernah berhenti membantu daun-daun hijau berfotosintesis. Pohon tumbuh berbuah dimakan binatang herbivora. Para pemakan rumput berkembang biak menjadi santapan kelompok karnivora. Herbivora dan karnivora menjadi santapan lezat di atas meja makhluk omnivora terhormat.
Hidup berjalan lewat siklus rantai makanan. Semuanya saling berkaitan, saling mengambil manfaat. Teori yang kuat memakan yang lemah tidak selamanya benar. Cacing binatang lemah tidak berkaki menjadi pengurai seluruh bangkai makhluk hidup. Tuhan mendesain kehidupan sedemikian rupa sehingga manusia yang dilabeli sebagai khalifahNya leluasa membangun peradaban.
Kembali kepada saya. Secara biologis saya terbukti benar sebagai seorang manusia. Saya makan untuk hidup. Karena makanan tidak bisa datang sendiri maka saya mengusahakan. Bekerja adalah pilihan satu-satunya untuk mendapatkan kebutuhan yang bisa menutupi aspek biologis saya. Adapun pekerjaan teramat banyak macamnya. Saat saya memilih bekerja di dunia pendidikan menjadi guru yang mengajar di sekolah menengah, bukan berarti profesi guru menjadi satu-satunya pilihan. Teman saya ada yang menjadi pegawai di instansi pemerintahan. Kerabat ada yang berprofesi sebagai ahli di bidang tata bangunan. Kenalan ada yang asik di panggung politik. Orang lain banyak yang menjadi pengusaha. Bagi yang kalah dalam persaingan di sektor formal ada pilihan menjadi pelayan. Bahkan ada yang katanya profesi bermodal muka iba. Dengan menundukkan kepala, mengasongkan tangan maka rupiah demi rupiah berhamburan.
Apakah ketika saya bekerja telah disahkan menjadi manusia? Sah sebagai makhluk biologis.
Bagaimana jika saya bekerja untuk mengumpulkan modal mencari pasangan. Kemudian saya bekerja lagi agar bisa membiayai proses mempertahankan keturunan. Kemudian saya bekerja lagi agar keturunan saya terjamin masa depannya. Kemudian saya bekerja lagi agar di masa tua nanti saya tetap layak di sebut sebagai manusia. Apakah tingkat kemanusiaan saya sudah beranjak dari tangga biologis?
“Kalau hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”
Haji Abdul Malik Karim Amrullah menjawab pertanyaan saya. Penulis ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ yang akrab disebut Buya Hamka secara tidak langsung mengatakan bahwa manusia yang berhenti di tingkat biologis tidak bedanya dengan kera dan babi.
Bekerja hanya untuk kepentingan hidup sendiri atau menghidupi anak istri selevel dengan usaha kera menjalani hidup. Ayam yang saya lihat setiap hari mencari makan. Kucing yang sering saya lihat mencuri ikan. Semut yang pandai menggotong makanan besar dan menyembunyikan. Tikus yang menggigit apa saja untuk memuaskan nafsu perutnya. Anjing yang bergerombol menjebak mangsa kemudian memanggil anaknya untuk santap bersama. Babi yang sampai hati memakan kotoran sendiri. Mereka adalah makhluk Tuhan. Mereka dihidupi dengan roh yang ada dalam tubuhnya dan mereka berusaha mempertahankan hidup. Kalau saya hidup dan bekerja hanya untuk mempertahankan hidup maka apa bedanya dengan mereka.
Saya manusia yang dikatakan Al-Qur’an sebagai ‘ciptaan terbaik’. Kerangka jasmani saya hanya sebagai alat visualisasi eksistensi diri. Di dalam kerangka tersebut terdapat esensi. Rasul membahasakan esensi tersebut sebagai ‘fitrah’, setiap bayi yang lahir pasti membawa fitrah. Ulama mengartikan fitrah sebagai kecenderungan beragama. Pada dasarnya setiap manusia terlahir dengan membawa kepercayaan yang kuat bahwa hanya ada satu Ilah yang berhak disembah, Dia adalah Sang Pencipta yang meniupkan ruh saat manusia masih berbentuk alaqoh. Tapi ada ulama yang mengatakan bahwa fitrah adalah potensi. Potensi yang masih bisa diarahkan menuju salah satu jalan, kebaikan atau keburukan. Maka Rasul menambahkan bahwa kedua orang tua bisa menjadikan si bayi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Untuk menjadi manusia saya harus merangkak dari kerangka biologis. Bergerak ke depan dengan memanfaatkan potensi yang telah diberikan Tuhan. Potensi tersebut sebenarnya nampak dari bangun jasad; saya dianugerahi dua daun telinga sebagai alat untuk mendengar, saya dianugerahi dua mata sebagai alat untuk melihat, saya dianugerahi hati untuk merasa, saya dianugerahi otak untuk berpikir.
Menjadi manusia berarti mengikuti signal yang telah diberikan Pencipta. Lewat firmannya Tuhan mengarahkan manusia kepada satu titik ultimasi. Dia menciptakan bukan untuk kesenangan. Ada tujuan utama dari penciptaan. Tuhan ingin manusia menjadi hamba yang menyembahNya.
Jangan tanyakan apakah dengan demikian Tuhan ingin disembah. Tuhan Maha Ghoni, tidak pernah membutuhkan makhluk. Dia berdiri sendiri. Tidak punya kawan atau lawan. Dia tidak dilahirkan dan tidak juga melahirkan. Dia adalah wujud yang tidak bisa diserupai apa pun. Dia yang pertama dan yang terakhir. Dia kekal tidak terbatas ruang dan waktu.
Manusia jangan banyak bertanya tentang hakikat Tuhan, cukup dengan mengetahui sifatNya manusia bisa mendapat petunjuk. Sebuah arahan menuju kesempurnaan. Kitab suci membahasakannya dengan istilah insan kamil, kita bisa menyebut akronimnya manusia sebenarnya. Manusia yang tidak hanya terbatas pada bangun jasad. Manusia sebenarnya sesuai fitrah penciptaan yang diberi potensi ragawi, akli dan juga rohani. Ibnu Miskawaih membahasakannya dengan; Al- Quwwatul Syahwiyah, Al-Quwwatul Aqliyah dan Al-Quwwatul Godhbiyyah.
Menjadi manusia sebenarnya berarti mengikuti master plan Sang Pencipta yaitu hamba yang menyembahNya. Formula penyembahan yang reprensentatif terhadap potensi azali berarti mendayagunakan raga, akal dan jiwa.
Berarti saya harus bekerja untuk bertahan hidup sambil beribadah agar tetap berhubungan dengan Yang memberi hidup. Antara bekerja dan beribadah ada tirai pemisah. Bekerja untuk kepentingan ragawi dan beribadah untuk urusan rohani. Ketika saya bekerja tidak usah menghiraukan aspek rohani karena kerja sudah dijelaskan sebelumnya hanya terkait dengan pemenuhan kebutuhan biologis. Dalam bekerja hanya ada satu tujuan mendapatkan pemuasan sebanyak-banyaknya. Cara mendapatkan tidak usah dipusingkan dengan aturan kerohanian.
Setelah beres melakukan aktifitas pemenuhan kebutuhan biologis, saya pasrahkan diri kepada Ilahi. Punggung saya bungkukkan. Mengakui bahwa Dia Yang Maha Besar. Kening saya letakkan di tempat terendah. Mengakui bahwa hanya Dia yang Maha Tinggi. Saya datang dengan kehinaan. Saya tunduk pasrah kepada Yang Maha Kuat.
Saya berkaca terus bertanya, Apakah sudah menjadi manusia sebenarnya?
Manusia sesungguhnya adalah manusia kulliyah, bukan juziyyah. Istilah Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Al-Basyar, terkait dengan potensi biologis, kemudian An-Naas terkait dengan potensi sosiologis dan Al-Insan terkait dengan potensi psikologis tidak bisa dipisahkan. Manusia adalah satu kesatuan utuh yang mencakup tiga potensi yang disampaikan Ibnu Miskawaih di atas. Integrasi kekuatan fisik, pikir dan emosi akan mengarahkan manusia kepada satu potensi utama yaitu potensi religi. Manusia sebagai makhluk yang beragama. Manusia sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari Tuhan.
Keberagamaan tidak sekedar penghambaan fisik melalui ritual ibadah. Keberagamaan harus ditunjang dengan keinsafan pikiran dari kecenderungan untuk menduakan Yang Ahad. Keberagamaan ditopang dengan kepasrahan total dengan sepenuh jiwa. Ketika dia bekerja, ketika dia berkarya, ketika dia beribadah faktor dominan yang menjadi ruh dari aktifitasnya adalah keridhaan dari Sang Maha Kuasa.
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya aku pasrahkan Kepada Allah”
Aku bekerja bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan diriku dan keluarga
Aku berkarya bukan untuk mengukir eksistensi diri di tengah panggung dunia
Aku hidup karena dihidupkan
aku pun akan mati
Semua daya dan upaya yang aku lakukan tidak akan berbekas tanpa ada anggukan dariNya
Karena aku manusia, seorang hamba yang tidak berdaya
Karena aku manusia, kesempurnaanku adalah ketika mampu berjumpa dengaNya

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: