Menggurui Guru

Catatan ini ditulis dengan senyuman. Sebuah isyarat yang bisa ditafsirkan dengan sederhana pertanda senang. Tersenyum adalah ibadah karena dengan senyum kita telah berbagi kebahagiaan. Demikian ajaran yang telah disampaikan oleh Rasul yang agung. Islam adalah jalan kebahagiaan. Pemeluk Islam atau seorang musim mengemban misi sebagai agent of happiness. Di mana pun dia berada seyogyanya berusaha untuk menyebar kebahagiaan.

Sambil menulis catatan ini saya terus tersenyum. Membayangkan historical background atau bahasa Arabnya asbabu nuzul dari judul yang di atas. Teman saya sesama redaktur Teacher’s note pernah curhat. Dia bilang Teacher’s note terlalu sering terbit, seminggu dua kali. Karena keseringan ini ada teman guru yang nyeletuk, “Teacher’s note alat menggurui”. Demikian ungkapan yang bisa saya cerna dari pengaduannya. Saya katakan, “Ok, jangan terbit dua minggu sekali tapi terbit satu kali dalam seminggu” .

Si teman mengangguk setuju. Akhirnya buletin ini diterbitkan setiap hari sabtu seminggu sekali. Adapun niat yang tersirat maupun tersurat dari penerbitan ini adalah untuk berbagi. Melalui Teacher’s note semua guru berhak untuk menuliskan idenya. Seperti apapun ide tersebut asalkan disampaikan dengan bahasa tulisan yang sesuai dengan ketentuan umum maka layak dimuat. Guru bukan sekedar dijadikan objek dari program ini tapi ikut dilibatkan menjadi subjek.

Alangkah bahagiannya saya selaku redaktur ketika mendapat kiriman naskah dari seorang guru. Naskah tersebut langsung dimuat. Ada kolom khusus yang kami sediakan untuk guru-guru yang mau menulis, “kolom guru”. Karena namanya kolom guru maka siapa saja yang menyandang predikat tersebut berhak mengisinya. Saya katakan kepada teman redaktur, tidak usah diseleksi dan tidak usah dikoreksi isinya, biarkan karya guru seorisinal mungkin. Adapun proses editing hanya boleh dilakukan pada kesalahan penulisan saja.

Tentang judul ini menggurui guru sengaja saya tulis plus dengan tambahan senyuman sebagai bagian kepedulian saya terhadap profesi keguruan. Sebagai guru – meski tidak termasuk dalam keanggotaan Persatuan Guru Republik Indonesia, berarti saya bukan guru Republik Indonesia meskipun sekolah tempat saya mengajar ada di wilayah otoritas Indonesia – merasa terpanggil ikut berkontribusi . Apalagi di akhir tanggal bulan November pemerintah menyediakan satu hari khusus untuk guru.

Guru adalah profesi yang mulia. Para ulama sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu tugas kenabian. Nabi adalah para guru yang mengajarkan ilmu. Mereka menyebarkan ilmu tanpa ragu, meski halangan dan rintangan mengganggu. Dalam proses pengajaran terkadang seorang Nabi mendapat teror. Karena memahami dan menerima tugasnya sebagai pesuruh Tuhan, maka Nabi tidak gentar. Ilmu yang diamanatkan kepadanya tetap disampaikan meski kepada orang yang menolak.

Tugas pengajaran yang diemban Nabi kemudian diestapetkan kepada para ulama. Pewaris ilmu melakukan pekerjaan yang ditugaskan oleh pendahulunya. Para ulama mengajarkan ilmu baik secara lisan maupun tulisan. Ribuan kitab tercipta. Jutaan umat manusia terbuka matanya. Mereka mendapatkan cahaya. Gelapnya kebodohan sirna dengan kehadiran ilmu. Sesungguhnya ilmu alah cahaya, demikian berkata Iman Syafi’ie berdasarkan wejangan gurunya.

Dalam proses penerangan umat, ulama juga mendapatkan cobaan. Imam Malik keluar masuk penjara karena mempertahankan ilmunya. Sayyid Kutub pun demikian, keyakinan akan ilmu menuntut pengorbanan, beliau dibui tanpa proses pengadilan oleh penguasa Mesir yang zalim. Tidak beda juga di Indonesia, Buya Hamka harus mendekam di penjara bertahun-tahun. Mereka bukan bandit yang mencuri dompet di pasar. Mereka para penerang yang ingin membawa manusia menuju cahaya kemenangan.

Menyebarkan ilmu adalah kewajiban, kadarnya sama seperti kewajiban menuntut ilmu. Rasul bahkan mengancam orang yang berilmu tapi tidak mau membagikan ilmunya dengan cambuk neraka. “Barangsiap yang ditanya tentang ilmu, kemudian dia menyembunyikannya, maka di hari kiamat Allah akan mencambuk dia dengan cambuk neraka”. Ibnu Abdil Barr menegaskan bahwa konten hadits itu bukan hanya ketika ditanya baru menyampaikan, tapi tanggung jawab orang berilmu adalah menyampaikannya meski tidak ada yang meminta.

Singgungan di atas tentang Nabi dan Ulama serta peran dan konsekwensi dari tugas mereka tidak saya tuliskan sebagai perbandingan terhadap apa yang disebut teman saya ‘menggurui guru’. Guru di Ummul Quro tentu bukan para penolak ilmu. Adapun yang merasa keberatan dengan terbitnya Teacher’s note setiap pekan dua kali, itu hanya karena faktor kejemuan. Saya menganalogikan orang yang sudah sarapan kemudian disodori bubur satu mangkuk. Meksipun dia suka bubur tapi berhubung perut sudah kenyang, maka jangan terlalu berharap akan disantap.

Guru adalah agen ilmu. Di dalam diri guru terdapat ilmu yang akan disampaikan kepada muridnya. Kalau tidak berilmu sama saja menghina profesinya. Kalau tidak mencintai ilmu sama juga dia membodohi diri sendiri, He… kesimpulan saya guru di Ummul Quro sangat cinta ilmu.

Dan Teacher’s note berdiri tegak sambil sedikit merunduk di hadapan para guru bukan untuk menggurui. Kami hadir sebagai patner kebaikan. Guru cinta ilmu dan kami pun demikian. Sesama pencinta ilmu mari kita saling mengagungkan ilmu. Banyak cara untuk merealisasikannya. Salah satunya adalah dengan menuliskan apa yang kita ketahui dengan harapan bisa sampai kepada lebih banyak orang.

Selamat hari guru, semoga kita tetap menjadi agen ilmu yang tidak pernah kehabisan stok.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: