Ironi Jilbab di Negara Pancasila

Mabes Polri mengeluarkan Telegram Rahasia (TR) pada 28 November 2013 yang ditandatangani Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Polisi Oegroseno dengan mengatasnamakan Kapolri. TR yang menyebar di kalangan polisi tersebut terkait dengan penggunaan jilbab bagi polwan. Kapolri memutuskan penangguhan penggunaan jilbab di kalangan polwan.

“Saya yang suruh (Wakapolri untuk menandatangan TR-nya). Saya kebetulan waktu itu ada di sana (Papua), saya telepon Pak Irwasum, mas tolong moratrium dulu aturan karena tidak seragam. Saya melihat ada yang merah, ada yang putih, ada yang macam-macam ada yang sampai dikeluarkan. Tidak elok kan? Sampai dengan posisi itu moratorium kita serahkan kembali kepada Polwan untuk merumuskan pakaian yang pas,” ungka Sutarman saat ditemui di Markas Korps Kepolisian Udara Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Senin (2/12/2013) sebaimana dimuat tribunnews.com.

Keputusan tersebut kontan menuai protes dari banyak kalangan. Kapolri dianggap tidak konsisten. Padahal kebijakan tentang penggunaan jilbab bagi polwan keluar dari mulutnya sendiri.

“Itu hak asasi seseorang, saya sudah sampaikan kepada anggota kalau misalnya ada anggota yang mau pakai, silakan,” kata Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman di sela-sela acara “Silaturahmi Kapolri dengan Insan Pers” di Ruang Rupatama Mabes Polri, Selasa (19/11/2013)

Bahkan Sutarman langsung menyatakan besok (20/11/2013) polwan dipersilahkan mengenakan jilbab.

“Anggaran belum ada, kalau mau beli, silakan. Contohnya kan sudah ada. Mulai besok kalau ada yang mau pakai saat tugas tidak masalah,” ujarnya.

Menengok polemik jilbab bagi polwan saya jadi teringat lirik lagu kasidah jaman dulu. Lagu yang sangat populer ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

jilbab.. jilbab putih.. lambang kesucian

lembut hati penuh kasih teguh pendirian

jilbab.. jilbab putih..bagaikan cahaya

yang bersinar di tengah malam gelap gulita

di balik jilbabmu ada jiwa yang takwa

di balik senyummu tersimpan masa depan cerah

Sunggung indah lirik lagu yang dikumandangkan kelompok kasidah perempuan yang bernama Nasida Ria. Lagu tersebut menggambarkan bahwa jilbab bukan sekedar busana tapi jilbab adalah identitas. “Di balik jilbabmu ada jiwa yang takwa”, demikian Nasida Ria mengibarkan jilbab sebagai perlambang kesucian. Wanita yang mengenakan jilbab telah secara sadar menjadi duta agama. Di dalam balutan busananya tersimpan keagungan Islam.

Polwan berjilbab tentu akan memberi citra yang baik bagi korp polisi. Keberadaan mereka menjadi semacam oase di tengah kesinisan masyarakat terhadap polisi. Masyarakat sudah terlanjur tidak percaya dengan aparat. Di benak kebanyakan orang polisi identik dengan pungli di jalan raya. Tukang tilang yang UUD, ujung-ujungnya duit. Berperkara dengan polisi berarti siap-siap menguras isi tabungan. Ada istilah hilang satu sapi jika mnegadu kepada polisi berarti telah siap kehilangan satu sapi lagi.

Maka tidak aneh jika dukungan kepada polwan untuk berjilbab mengalir deras laksana air sungai pasca hujan. Angota Dewan Perwakilan Rakyat ramai mendukung penggunaan jilbab polwan. “Jangan sampai hanya ucapan, tapi jadi ketentuan”, ujar Wakil Ketua DPR Pramono Anung. MUI juga ikut menegaskan pentingnya jilbab. “Saya kira secepatnya saja. Ngga ada masalah itu. (Apalagi jika sampai) Digagalkan, sangat tidak etis. Polri citranya tidak bagus di masyarakat,” ungkap Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin saat berbincang dengan sejumlah wartawan di Kantor MUI, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2013). Tokoh nasional sekaliber Jusuf Kala bahkan terang-terangan menentang keputusan Kapolri menunda penggunaan jilbab. “Polisi jangan mempersulit. Ini persoalan hak asasi manusia (HAM), kata mantan wakil presiden tersebut saat diwawancarai wartawan. (Republika, Rabu, 4 Desember 2013)

Meski mendapat banyak desakan dari berbagai komponen masyarakat, Polri sampai saat ini tetap menangguhkan penggunaan jilbab bagi polwan. Alasan penundaan sebagaimana dijelaskan Kapolri Sutarman adalah untuk keseragaman dan terkait anggaran. Sehubungan aturan penggunaan jilbab bagi polwan belum terbentuk jadi mempersulit Polri menetapkan standar jilbab. Konsekwensi dari ketiadaan aturan adalah beragam corak bentuk dan warna jilbab yang digunakan polwan. Bagi Kapolri hal ini tidak boleh terjadi.

Mendengar penjelasan Kapolri kepada media saya mengangguk setuju. Tentu tidak elok jika masyarakat melihat aparatur negara sekelas polisi menggenakan pakaian yang colorful. Ada polwan yang mengenakan jilbab warna putih, ada yang ungu, ada yang coklat dan bisa jadi yang merah. Polwan yang sedang jatuh cinta bisa saja mengenakan jilbab berwarna pink. Atau apabila dia sedang berkabung mengenakan warna hitam.

Perkara warna saja sudah bisa menjadi permasalahan. Belum jika ditengok dari fashion. Bisa saja ada polwan yang berjilbab dimasukkan ke dalam kerah baju. Ada yang dibiarkan tergerai seperti umumnya jilbab anak sekolahan. Mungkin ada juga yang tertarik menggunakan bros. Perkara bros saja bisa beragam sesuai selera. Bros bisa dipasang di dada kiri, dengan ujung jilbab kanan di tarik ke bahu kiri. Atau sebaliknya, dipasang sebelah kanan dengan menarik ujung kiri. Pilihan berikutnya bros dipasang di leher belakang dengan menarik kedua ujung jilbab. Bahkan ada yang menarik semua ujung jilbab ke atas dan di tengah-tengah kepala di pasang bros. Bisa anda bayangkan, alangkah ribetnya perkara jilbab jika tidak diatur secara pasti.

Saya tidak mempersalahkan penundaan. Sekali lagi saya katakan setuju. Tapi ada satu hal yang sangat mengganjal. Beberapa pertanyaan di benak saya. “Mengapa perihal jilbab polwan baru sekarang mau diatur? Selama ini memangnya jilbab tidak boleh? Kalau tidak boleh apa alasannya?”

Indonesia sejak didirikan sudah dinyatakan sebagai Negara Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan kata kemanusiaan tertulis rapih di dalam butir kelima pancasila, “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Indonesia juga menyusun Undang-Undang Dasar 45 yang didalam pembukaanya menyatakan tidak pro terhadap penjajahan karena penjajahan tidak sesuai dengan pri kemanusiaan.

Apakah penggunaan jilbab termasuk hak asasi manusia? Jusuf Kala di atas sudah menyatakan bahwa berjilbab adalah bagian dari HAM. Manusia memiliki hak penuh untuk memeluk sebuah agama. Konsekwensi dari keberagamaan adalah menjalankan seluruh peraturan yang disyariatkan oleh agama yang dianut. Jilbab merupakan bagian dari syariat Islam. Wanita muslim yang sudah masuk aqil balig maka wajib menutup auratnya.

Syariat diwajibkannya jilbab terkandung dalam Al- Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59;

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah utuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Abu Malik berkata: “Ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwa para ulama telah sepakat wajibnya kaum perempuan menutup seluruh bagian tubuhnya, dan sesungguhnya terjadinya perbedaan pendapat –yang teranggap- hanyalah dalam hal menutup wajah dan dua telapak tangan.” (Fiqhu Sunnah li Nisaa’, hal. 382)

Jilbab bagi musliman adalah wajib, tidak bisa ditawar lagi. Polisi Wanita yang beragama Islam secara otomatis terkena kewajiban mengenakan jilbab sebagaimana wanita muslimah lain dengan profesi guru, pengacara, pedagang, karyawan atau hanya sebagai ibu rumah tangga. Menanggalkan jilbab di muka umum berarti melakukan pelanggaran terhadap hukum Islam. Setiap pelanggaran terhadap syariat pasti mendatangkan hukuman.

Ironi terjadi ketika seorang polisi wanita di negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tidak diperbolehkan mengenakan pakaian yang disyariatkan oleh agamanya. Indonesia negara pancasila yang menyatakan bertuhan. Butir pertama Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Bangsa Indonesia meyakini keberadaan Tuhan. Bagi bangsa ini Tuhan merupakan elemen paling tinggi dalam segala hirarki. Pemimpin yang baik di negara ini adalah pemimpin yang patuh kepada Sang Maha Raja. Perintah Sang Maha Raja tidak pernah di bawah perintah raja biasa. PerintahNya yang paling tinggi dan yang paling pertama harus dilaksanakan sebelum perintah lainnya.

Tapi mengapa polwan dari dulu tidak boleh berjilbab?

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: