Kalau sudah tidak tahan menikah saja

Beberapa hari lalu saya diundang Pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas Islam Negri Jakarta. Saya diminta untuk mengisi seminar pendidikan dengan tema membangun karakter bangsa melalui pendidikan. Dalam seminar tersebut saya tidak sendiri. Panitia mengundang juga seorang dosen yang menjabat wakil dekan di fakultas ilmu sosial.

Pak Wakil Dekan memaparkan data penelitian tentang prilaku seksual pelajar di Indonesia. Dalam slide beliau terpampang data yang sangat mengejutkan (bagi yang tidak tahu). Lebih dari 60 % pelajar SMP di Indonesia telah melakukan aktifitas seksual (dari mulai pegangan tangan, ciuman sampai yang merzina). Bagi kita yang sering membaca koran atau mendengarkan berita lewat layar kaca, hal tersebut sudah tidak asing. Hampir setiap hari kita disuguhi berita menyedihkan tentang prilaku menyimpang anak-anak sekolahan. Bahkan belum lama ini ada kasus siswa sekolah menengah pertama memvideokan adegan sex teman sekelasnya di dalam kelas.

Sudah sedemikian parah tingkat kerusakan yang terjadi di kalangan remaja. Mereka sudah tidak sekedar coba-coba tapi sudah kecanduan. Hal ini terbukti dengan ditangkapnya beberapa siswa yang terlibat dalam transaksi sex komersil. Ini baru ujung gunung. Jika kita mau lebih cermat lagi memperhatikan kecenderungan pergaulan remaja di tengah lingkungan terdekat saja, akan ditemukan fakta yang tidak jauh beda.

Kecenderungan terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia. Allah telah menyampaikannya dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 14 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Tapi bagaimana menyalurkan hasrat manusiawi ini? Allah sebagai pencipta juga telah mengaturnya. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniannya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32

Menikah adalah jalan terbaik untuk menyalurkan hasrat seksual. Dalam pernikahan bukan hanya akan terjadi hubungan fisik tapi bukan psikis. Maka inti dari pemenuhan kebutuhan seksual bukan sekedar pertemuan antara dua tubuh manusia atau dua bentuk kelamin. Tapi ada rasa nyaman yang berbuah ketenangan. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum [30]:21)

Apakah anak-anak SMP harus disuruh menikah? Jika mereka siap mengapa tidak! persiapan bukan sekedar sudah mau dan mampu melakukan hubungan seksual tapi ada yang lebih penting dari itu. Dari segi materi harus bisa menafkahi dari segi rohani sudah siap menjadi ayah. Pernikahan adalah jalan menuju pelestarian keturunan. Jika belum siap menjadi orang tua baik secara fisik maupun psikis maka jangan berpikir tentang menikah segera.

Jadi apa solusi bagi mereka? Sudah jelas dan gamblang

“Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yang telah memiliki ba’ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung.” (HR Muttafaqun ‘alaih).

Memang semudah itu? memang mudah, dengan puasa yang halal saja tidak boleh disentuh apalagi yang haram. he…

Pendidikan adalah faktor dominan yang bisa me-rem gejolak seksual dalam diri remaja. Anak-anak yang sekarang sudah lebih pintar mencari informasi dari pada orang tuanya harus mendapat kontrol ketat. Orang tua tidak bisa berdalih sibuk mencari uang untuk membenarkan kalalaiannya dalam mendidik anak. Tanggung jawab pendidikan utama bagi anak terdapat pada orang tua. Sekolah hanyalah institusi pembantu orang tua dalam mendidik anaknya.

Perhatian yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah bagian dari metode pendidikan. Bahkan bagi saya pribadi perhatian tulus orang tua kepada anaknya merupakan metode paling paten untuk membentuk kepribadian anak. Dengan perhatian yang proporsional orang tua dapat mengarahkan anaknya. Kasus yang terjadi dewasa ini salah satunya adalah karena minimnya perhatian orang tua terhadap anak.

Dari pada kita sibuk mengkampanyekan kondom untuk mencegah penularan virus, lebih baik kita kampanyekan pendidikan dalam keluarga untuk mencegah prilaku menyimpang pada anak dan remaja.

Leave a comment

1 Comment

  1. Hehehee…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: