Ketika Ibu Korupsi

Momentum Hari Ibu tiba pada saat yang sulit. Rapat gelar perkara di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi pada tanggal 12 bulan 12 tahun 2013 menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa telah cukup bukti untuk menetapkan Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka terkait pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten. Gubernur wanita pertama di Indonesia tersebut harus menerima kenyataan dijemput KPK beberapa hari kemudian. Sang ikon provinsi di ujung Barat pulau Jawa pun harus mendekam di rutan Pondok Bambu.

Pemberitaan tentang kasus Atut pun menguasai halaman-halaman media cetak pun online. Dinasti Atut dinyatakan korup. Wanita perkasa itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan. Orang banyak berkomentar, “ini akhir dari dinasti Atut di Privinsi Banten”.

Demikian masyarakat disuguhi kabar duka. Seorang ibu harus mendekam dibalik jeruji terkait kasus korupsi. Sebenarnya ini bukan yang pertama, telah banyak ibu-ibu lain yang mendahului Ratu Atut. Sebut saja Miranda Gultom, mantan Deputi Senior Bank Indonesia, Siti Hartati Murdaya, pengusaha wanita yang masuk dalam jajaran Dewan Pembina Partai Demokrat, Angelina Sondakh, mantan miss Indonesia yang menjadi anggota dewan dari partai Demokrat dan lain-lain. Kasus Atut menjadi sedemikian heboh karena dia adalah “Ratu” di provinsinya.

Mengapa ibu korupsi? pertanyaan yang mirip dengan, Mengapa bapak korupsi? karena yang korupsi bukan hanya ibu, bahkan bapak lebih banyak korupsinya. Tapi ini tetap harus dijawab. Dan tentunya jawabannya tidak boleh sama. Ibu dan bapak itu beda. Wanita bukan laki-laki dan laki-laki bukan wanita.

Ketika seorang bapak korupsi bisa jadi dia terpengaruh oleh tuntutan kebutuhan hidup yang disodorkan istrinya. Posisi suami dalam rumah tangga adalah seorang kepala yang berkewajiban mencarikan nafkah untuk semua anggota. Semua kebutuhan anggota keluarga dari mulai sandang, papan dan juga pangan harus dipenuhi bapak. Maka bapak harus berjuang sekuat tenaga agar kebutuhan tersebut bisa dicukupi. Ketika kebutuhan hidup demikian besar padahal pemasukan normal tidak besar, maka celah penyelewengan terbuka. Bapak tergiur untuk korupsi.

Bagaimana dengan ibu? Dalam rumah tangga ibu tidak diberi tanggung jawab sebagai pencari nafkah. Bagi seorang ibu hukum mencari uang adalah mubah muallakoh, boleh dengan syarat mendapat izin dari suami. Ketika suami tidak memberikan izin kepada istrinya untuk bekerja maka mencari nafkah bagi istri akan menjadi haram. Istri harus ikut suami.

Zaman telah berubah, syariah sudah dianggap kolot. Masyarakat lebih tertarik berbicara berdasarkan Hak Asasi Manusia (HAM) dari pada larangan yang ada dalam agama. Melalui gerbong emansipasi wanita, hak ibu sama seperti hak bapak. Bapak tidak boleh melarang ibu mengaktulisasikan diri. Ketika ibu ingin bekerja, maka bapak hanya boleh mengatakan ‘iya’. Semangat emansipasi menular kepada semua kalangan, baik wanita perkotaan maupun pedesaan. Wanita yang hanya tinggal di rumah mengurus anaknya dianggap kuno. Wanita tersebut termasuk kelompok tidak berdaya dan mudah diperdaya. Wanita modern harus bekerja. Dengan bekerja wanita bisa memiliki positional bergain yang sederajat dengan laki-laki.

Wanita menjadi lurah, menjadi bupati, menjadi gubernur, menjadi presiden, menjadi anggota dewan, menjadi apa saja yang dilakukan laki-laki seperti menjadi sopir bus, kernet. montir, tukang ojek bahkan tukang parkir. Semuanya bermuara pada satu titik UUD, ujung-ujungnya duit.

Ketika destinasi akhir dari sebuah ritual bernama profesi adalah duit maka tidak pria ataupun wanita akan masuk pada pusaran wahn, Nabi mengartikannya sebagai ‘Cinta dunia dan takut mati”.

Mengapa ibu korupsi? karena ibu sudah tidak beda dengan bapak. Emansipasi menyeret ibu kepada kesimpulan bahwa kalau bapak boleh ibu juga boleh. Kalau bapak korupsi, masa ibu tidak. Kenyataan ini sangat pahit. Wanita yang digambarkan sedemikian lembut – Bahkan di dalam perutnya Allah menitipkan ‘rahim’, sebuah istilah yang berasal dari asmaul husna ‘Ar-Rahim’ Maha Penyayang – berubah menjadi keras. Kasih sayang mulai hilang karena ibu sebagai sumbernya sudah mulai melupakan potensi terbesar yang ada dalam dirinya.

Sebuah fenomena akan menghadirkan fenomena baru. Kegandrungan wanita dalam bekerja adalah fenomena kehidupan modern yang melahirkan fenomena susu formula. Ibu sudah mulai enggan menyusui anaknya. Ibu sudah mulai lelah mengurusi anaknya. Ibu sudah mulai bosan melahirkan generasi penerus. Tidak hanya di kota kita dapat dengan mudah menyaksikan bayi-bayi yang digendong bukan oleh ibunya. Anak-anak tanpa dosa terkulai lemas dipangkuan pengasuhnya. Kemana ibunya? si ibu sibuk mengumpulkan rupiah demi rupiah.

Teringat saya lirik lagu yang dinyanyinkan Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: