Memilih Istri Menurut Islam

Wanita itu bukan barang dagangan, memilih wanita untuk dijadikan istri tidak boleh disamakan dengan memilih pakaian. Memilih pakaian hanya bermodalkan uang dan selera. Selera tinggi tapi uang kurang, pakaian yang jadi incaran tidak mungkin didapatkan. Punya uang tapi tidak memiliki selera tinggi bisa mendapat barang rongsokan. Dengan uang ditangan dan selera tinggi, pakaian model terbaru pun bisa jatuh ke tangan. Setelah cocok dengan modelnya, dipilih warnanya. Model dan warna sesuai tinggal dipaskan ukuran. Setelah semuanya jadi, minta dibungkus dan dibawa pulang ke rumah. Pakaian menjadi milik dipakai di momen terbaik. Sekali, dua kali, tiga kali, seterusnya timbul rasa bosan. Pakaian mahal yang dibeli dari hasil memeras keringat berakhir di lemari. Tidak pernah di tengok lagi. Dilupakan. Setelah itu datang para pengganti. Dan ujung dari cerita, pakaian disumbangkan untuk korban bencana. Subhanallah
Demikian kisah sehelai pakaian yang dicari, dibeli, dipuji, dinikmati namun pada akhirnya dilupakan dan disingkirkan. Jangan sampai memilih wanita seperti layaknya memilih pakaian. Tidak cocok tinggal tukar, habis mode cari yang baru, sudah usang tinggal dibuang.
Bagaimana dengan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa istri adalah pakaian suami?
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
Meskipun Al-Qur’an menyinggung tentang istri seperti layaknya pakaian suami, itu tidak diartikan secara harfiah. Bukan berarti suami boleh ganti istri dan istri juga boleh ganti suami sebagaimana pakaian yang bisa gonta ganti sesuai dengan suasana. Berangkat ke kantor memakai seragam, menghadiri walimah pakai batik, waktu santai pakai oblong, olahraga giliran kaos, mau tidur pakai piyama. Jika ini terjadi maka harus berapa istri dimiliki oleh seorang suami?
Imam Jalalalin dalam kitab tafsirnya menulis bahwa, mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka, merupakan perumpamaan. Maksud yang terkandung dalam perumpamaan tersebut adalah saling membutuhkan antara suami dan istri. Istri membutuhkan suami dan suami membutuhkan istri.
Bagaimana memilih calon istri sesuai dengan tuntunan agama? Rasul saw telah mengajarkan kita melalui sabdanya;
“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan memperoleh keberuntungan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ada empat faktor yang harus diteliti sebelum menikahi seorang wanita; pertama hartanya, kedua nasabnya, ketiga kecantikannya dan terakhir agamanya. Sangat normal ketika seorang laki-laki mengharapkan istri yang sempurna. Dia membayangkan istrinya sekaya Siti Khadijah, sehingga dengan hartanya dia bisa ikut hidup dan juga menghidupi. Sebagaimana Rasulullah mendapatkan banyak manfaat dari kekayaan Khadijah untuk melaksanakan dakwah Islam. Selain memiliki kekayaan berlimpah, istrinya juga harus berasal dari keturunan yang terhormat, dalam dirinya mengalir darah biru seperti Siti Zulaikha. Tidak cukup hanya dengan kaya dan terhormat, harus ditambah dengan kecantikan. Apalah artinya kaya dan terhormat jika buruk rupa. Faktor kecantikan harus dimiliki oleh calon istri seperti Siti Aisyah, gadis belia yang pipinya merah merona sehingga Rasul memanggilnya humairo. Selain kaya, terhormat dan cantik si calon istri juga harus baik luar biasa, memiliki pengetahuan agama dan mengamalkannya. Dia setia kepada suami dalam segala keadaan, seperti Siti Rahmah istri Nabi Ayub.
Harapan mendapatkan istri dengan empat kualitas sekaligus tidak ada salahnya. Seorang lelaki boleh mengharapkan istri yang sempurna; kaya, terhormat, cantik dan baik. Tapi permasalahannya apakah wanita yang memiliki keempat kualitas itu ada? Kalau pun ada apakah dia mau untuk diperistri oleh lelaki yang kurang sempurna?
Mencari yang sempurna itu sulit seperti mencari jamur di musim panas. Dari pada harus menunggu lama tanpa kepastian, lebih baik mencari yang stoknya banyak saja. Tidak usah sempurna, asalkan memiliki salah satu dari empat kualitas di atas sudah cukup. Rasul bersabda, Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan memperoleh keberuntungan.
Prof. Didin Hafidhuddin, dekan program pasca sarjana Universitas Ibn Kholdun Bagor dalam perkuliahan Tafsir Tematik bagi mahasiswa S2 Pendidikan Islam menyampaikan, “Skor untuk agama itu 1, harta 0, nasab 0, kecantikan 0. Kalau wanita yang dipilih karena hartanya maka dia tidak memiliki nilai, demikian juga nasab atau kecantikan. Tapi jika dipilih karena agama maka dia bernilai 1. Ditambah harta menjadi 10. Ditambah harta dan nasab menjadi 100. Ditambah harta, nasab dan kecantikan menjadi 1000”
Demikian urgennya kualitas agama dalam diri seorang calon istri. Tanpa agama semua kualitas yang dimiliki tidak ada gunanya. Maka cukuplah agama menjadi dasar penilaian perempuan.
Rasulullah saw, bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa memberi manfaat paling baik kepada seorang mukmin setelah takwa kepada Allah selain perempuan yang salihah; yaitu jika suami memerintah ia taat, jika suami memandang maka ia menyenangkan, jika suami bersumpah kepadanya maka ia melaksanakan sumpah itu, dan jika suami tidak ada maka ia menjaga diri dan hartanya.” (HR: Ibnu Majah)
Dari hadits di atas ada empat keutamaan yang dominan dalam diri seorang wanita yang memegang teguh agamanya; Pertama, ia taat kepada suami, segala kehendak suami yang sesuai dengan syariah dia laksanakan. Kedua, ia selalu dapat menyenangkan suaminya karena sedap dipandang. Wajahnya cerah berhias senyum ikhlas. Ketiga, menepati janji, titah suami adalah pusaka baginya sehingga dia tidak mengingkarinya. Keempat, bertanggung jawab atas statusnya sebagai seorang istri sehingga dalam keadaan apapun dia selalu menjaga diri dan harta suami.
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah sejalan dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34, “Wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”
Menikahi wanita hanya karena tertarik pada rupa, tidak akan mendatangkan kemaslahatan. Kecantikan itu tidak akan abadi. Ia akan pudar seiring dengan waktu. Demikian juga ketertarikan sebab harta. Karena harta pasti akan habis jika terus dibelanjakan. Dan nasab pun terkadang membuat orang over confident. Menikahi wanita yang memiliki nasab mulia seperti memelihara seekor harimau. Pada saat suami mampu memenuhi segala kebutuhannya, dia menjadi penurut dan manja. Tapi ketika kebutuhannya tidak dapat dipenuhi, dia mulai menunjukkan tabiat aslinya, galak dan sombong.
Saking sayangnya Rasul saw kepada umatnya, beliau berpesan, “Jangan menikahi perempuan karena kecantikannya, karena kecantikannya bisa jadi akan menghinakannya. Jangan menikahi mereka Karena hartanya, karena hartanya bisa jadi akan memperdayakannya. Tapi nikahilah mereka karena agamanya. Dan sesungguhnya budak perempuan hitam yang cacat, tetapi memiliki agama itu lebih utama.” (HR: Ibnu Majah)
Dalam urusan memilih calon istri, seorang budak perempuan yang hitam dan cacat tapi beragama lebih utama dari pada wanita merdeka nan jelita tapi tidak beragama. Mengapa Rasul sampai bewasiat demikian? Karena istri bukan hanya milik suami, perhiasan rumah tangga yang menjadi kebangaan kepada orang karena rupa. Istri adalah calon ibu dari generasi penerus. Dari rahim istri akan lahir putra-putri yang menjadi penolong orang tua baik di dunia maupun akhirat. Maka memilih istri adalah juga memilih calon ibu untuk anak-anak yang akan lahir.
Kualitas ibu sangat berpengaruh terhadap kualitas anak. Seorang ibu beriman yang taat kepada Allah dan patuh terhadap suami akan melahirkan putra-putri terbaik. Di bab terdahulu penulis sajikan kisah keluarga Ibrahim. Siti Hajar adalah seorang wanita budak yang dihadiahkan kepada Nabi Ibrahim oleh penguasa Mesir. Meskipun dia seorang budak, berkat pendidikan yang diberikan oleh Nabi Ibrahim, Hajar menjadi wanita yang taat beragama. Setelah sepuluh tahun mengabdi kepada keluarga Ibrahim, Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim yang mandul menyarankan suaminya untuk menikahi Hajar. Ibrahim as menikahi Hajar. Dari rahim wanita mulia ini terlahir seorang anak salih, Ismail bin Ibrahim. Ismail adalah nenek moyang bangsa Arab. Dari nasabnya terlahir seorang manusia agung yang diutus untuk menjadi penghulu para Nabi. Muhammad bin Abdullah adalah keturunan Ismail bin Ibrahim.
Sebagaimana ibu yang salihah menularkan kebaikan kepada putranya, demikian juga ibu yang durhaka menularkan kejahatan kepada anaknya. Istri Nabi Nuh yang menyebarkan fitnah kepada maasyarakat bahwa suaminya telah gila, melahirkan seorang anak pembangkang. Kan’an bin Nuh menolak ajakan ayahnya untuk menaiki perahu. Dia dengan sombong berkata, “Aku akan mendaki gunung, dan aku akan selamat dari air bah”. Kecantikan juga tidak berpengaruh kepada akhlak. Arwa binti Harb, istri Abu Lahab terkenal sebagai wanita pesolek yang cantik jelita. Masyarakat Quraish memanggilnya sebagai Ummu Jamil, karena kecantikannya yang termasyur. Sayang sungguh sayang, kecantiknnya tidak dibarengi dengan kebaikan budi pekerti. Dari wanita ‘pembawa kayu bakar neraka’ tersebut lahir seorang putra raja tega, Utaibah bin Abu Lahab. Utaibah menceraikan Ruqayah binti Muhammad karena perintah ayahnya. Tanpa iba, istrinya dia pulangkan ke rumah mertua. Apa yang terjadi pada pria yang melantarkan istri tersebut? Dia mati diterkam singa gurun.
Kisah bahagia yang dirasakan nabi Ibrahim seharusnya menjadi motivasi untuk memilih wanita salihah sebagai istri. Demikian juga kisah sedih Nabi Nuh, harus menjadi ibrah agar berhati-hati memilih pasangan hidup. Dan kisah Abu Lahab menjadi fakta nyata bahwa istri yang tidak beragama hanya akan mendatangkan nestapa. Istri adalah ladang yang akan menumbuhkan benih masa depan. Pohon rindang yang berbuah ranum tidak akan tumbuh di ladang tandus. Hanya ladang subur yang dialiri mata air jernih akan memberikan panen terbaik.
Dari Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari Aisyah ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Pilihlah untuk sperma kalian, sebab kaum wanita akan melahirkan (anak) seperti saudara laki-laki atau saudara perempuan mereka.”
Tabiat adalah warisan yang didapat seorang anak dari orang tuanya. Seorang ayah berakhlak mulia dan seorang ibu salihah tentu akan mewariskan kualitas kebaikan kepada putranya. Maka benar apa yang disabdakan Rasul saw;
“Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri salihah” (HR: Muslim)

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: