Ayah

Sesosok lelaki tua tanpa baju nampak menahan letih. Lingkar hitam di bawah kelopak mata senada dengan legamnya kulit bahu. Rambutnya mulai dihiasi uban, tubuhnya agak sedikit bungkuk. Dia terus memutar sebuah drum besar. Peluh membasahi tubuh.
Gambaran sosok lelaki tua di atas adalah cuplikan dari video klip lagu Ebit G. Ade. Lagu tentang perjuangan seorang ayah menafkahi keluarga tersebut menjadi salah satu lagu favorit saya. Melihat orang tua yang sedang bergelut dengan drum besar, saya teringat ayah di rumah. Setiap kali diputar, rembesan air menghangati kelopak mata saya.
Berikut sengaja saya muat lirik lagu Titip Rindu Buat Ayah.
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Meskipun adegan yang ada di video tersebut dibuat untuk tujuan komersil, tapi tidak mengurangi kesan mendalam yang diwakili oleh sesosok ayah. Mata kita sering kali melihat fakta sejenis. Di pinggir jalan, sosok tua memikul beban dagangan tidak jarang menjadi pemandangan di terik siang. Dia dengan tenaga sisa masih menempuh perjalanan jauh. Terkadang dia menghentikan langkah, mengatur nafas yang sudah jarang. Mengipaskan topi ke depan wajahnya. Handuk kumal yang menempel di lehernya, dia usapkan berkali-kali. Jelas dia lelah, tapi dia tetap tabah. Karena dia seorang ayah.
Perjuangan ayah tidak pernah putus meski tenaga sudah berangsur pudar. Tanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga tidak bisa dialihkan ke pundak yang lain. Meski ada anak yang sudah mampu membantu, tapi ayah tidak mau berpangku tangan. Karena suratan takdir telah berkata, dia adalah manusia pekerja.
Ayah adalah pencari nafkah utama dalam keluarga. Peluh yang mengaliri tubuhnya menjadi garansi sepiring nasi. Legam di bahunya berbuah seragam sekolah bagi anaknya. Luka di telapak kaki berganti uang belanja bagi sang istri. Semua tenaga dia kerahkan untuk kebutuhan anak istri. Hanya sisa yang dia dapatkan. Untuk secangkir kopi dan beberapa batang rokok. Meski demikian dia tetap dicela.
Ayahku, juga ayahmu, ayah semua orang yang berstatus sebagai anak adalah pejuang devisa. Tanpa mereka kita tidak bisa merasakan bangku sekolah. Tanpa mereka kita tidak dapat tertawa bahagia di atas sepeda. Tanpa mereka tidak mungkin kita bisa menikmati indahnya cinta pertama. Tanpa mereka kita bahkan tidak akan pernah ada.
Terkadang kita lupa. Bahwa sosok itu masih ada. Kita tidak sempat barang sebentar menatap wajahnya. Menelusuri jejak lelah di sepanjang keningnya. Mengikuti kisah perih yang terbungkus di kulit keriputnya. Menyaksikan tanda jasa di telapak tangan yang mulai lunglai.
Ketika dia sudah tiada, perih itu akan menusuk dada. Kau terbujur dalam selimut duka. Sosok yang terbaring kaku itu sudah tidak bisa menyapa mu. Sosok yang terbujur kaku sudah tidak bisa kembali.
Sebelum menyesal mari kita jenguk sang pahlawan devisa. Temani kesendiriannya dengan kehadiran anak yang dia banggakan. Ramaikan harinya dengan senda gurau anak-anak yang terlahir darimu. Agar dia merasa masih ada. Agar dia merasa masih berdaya.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: